Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 13th, 2010

Salah satu fitnah dunia buat perempuan adalah harta (sepakatkan jeng?). hehe…tidak dapat dipungkiri, potensi untuk belanja, selera memanjakan mata dengan barang yang beraneka rupa telah dititiskan pada makhluk yang disebut perempuan.

Kadarnya pun dari low sampai high…dari yang cuma demen belanja di SERBU “serba lima ribu”, mengubek-ubek pasar jumat, gasibu atau cimol, naik tingkat sedikit…suka hunting barang lucu di mall bahkan sampai ada yang rela terbang ke Singapur, Hongkong, dll dan mencitrakan diri sebagai sophaholic …ckckkk…

Pasar menawarkan barang-barang dengan berbagai item kebutuhan dan itu semua menjejali kehidupan kita. Mulai dari yang primer seperti makanan pokok, pakaian, dan segala turunannya sampai ke benda-benda pelengkap kebutuhan hidup. Tiap orang punya subjektivitas tersendiri dalam menentukan “what should be put in her shopping list”.

Namun, notes kali ini saya akan mengajak kalian untuk share tentang perilaku bijak –terkait women’s financial.

Apapun barangnya ya jeng..semua kudu dibayar pakai uang asli (bukan daun). Selera sih boleh selangit tapi uangnya juga dong…Maksudnya ingat-ingat lagi pepatah yang diajarkan pas SD…jangan besar pasak daripada tiang! Maksud hati sih ingin membeli barang-barang cosmo (terutama yang berafiliasi ke beauty care, life style) namun dengan cara ngutang, atau “terlanjur” emotional shopping” alias sebenarnya barang tersebut ga butuh-butuh amat…Mungkin kamu punya common error juga dalam belanja?

common error dalam belanja dapat menyebakan kepusingan seperti gambar ini 🙂

Ok tante, calm…Saya punya satu tips. Semoga ini bisa jadi obat dari segala penyakit “gila belanja”

Hidup sesuai kemampuan. Agar benar-benar hidup merdeka, hiduplah sesuai kemampuan.

Jika selalu dililit hutang, entah kepada orang lain atau kartu kredit, pasti kita-kita tak akan pernah menikmati hidup seutuhnya. Atur keuanganmu agar dapat menjalani hidup tanpa batas dengan menabung untuk hal-hal yang kamu inginkan, dan berbelanja sesuai rencana.

Ok…hidup sesuai kemampuan. Trus, kalau memang mampu belanja “lebih” dan budget mendukung, boleh dong?

Boleh! Asal pakemnya satu aja…tidak berlebih-lebihan. Kalau bisa belanja cerdas dengan harga 100 ribu misalnya, mengapa harus boros dengan 500 ribu? Kalau kerudung, tas dan sepatu sudah ada varian warna coklat maka mengapa beli warna yang sama lagi?

Trus…bagaimana cara untuk tahu bahwa saya berlebih-lebihan/tidak dalam belanja?

Wow..eta mah gampil, neng. Coba teliti lagi kebiasaan belanja kamu. Apakah sudah menerapkan pola-pola “a smart buyers”? Boros atau tidaknya tercermin dari proposionalnya barang-barang yang kamu beli untuk memenuhi 3 aspek kebutuhan manusia. Yaitu : jasadiyah (kebutuhan fisik), fikriyah (kebutuhan intelektual), dan ruhiyah (kebutuhan spiriutual).

Satu catatan penting buat para perempuan, pasar (industry secara global) memang menyasar perempuan dengan barang-barang yang ujung-ujungnya mengarah pada belanja sebanyak-banyaknya (konsumerisme) dan menyuburkan gaya hidup hedonisme. Visualisasi iklan yang memukau bahwa perempuan cantik itu adalah langsing, tinggi >160 cm, kulit putih, rambut lurus panjang dan sehingga perlu mengkonsumsi produk x, y, z adalah setting untuk mencapai tujuan tersebut. Apalagi diperparah dengan sifat perempuan yang senang dipuji…hehe

Well sisters…singkat cerita…saya ingin mengajak kita semua untuk menjadi a smart buyers. Yang membeli barang karena kebutuhan (bukan keinginan semata), lebih mengedepankan kualitas barang, mencari harga yang sesuai dan ditempuh dengan halal dan thayyib (baik dari substansi barang, sumber pembelian dan perilaku pemakaiannya).

Buat catatan akhir, kita perlu ingat bahwa dibutuhkan suatu mekanisme produksi yang sangat panjang untuk menghasilkan satu barang/produk. Dan akan sangat sia-sia jika akhirnya barang itu hanya menyenangkan mata kita di awal namun akhirnya harus berakhir di pojok kamar, di tong sampah atau dalam kotak donasi barang bekas kita…gara-gara “ehmm..kayanya aku salah beli deh…”

Go Galz! Bijak Belanja, kita bangeeeeeeeeeet!

I'm a smart buyers. How about you?

Yes, I’m a smart buyers!

Advertisements

Read Full Post »

“Hari ini Jumat kan? Siap-siap ngaji ke HIQQAH ya”,  ujarnya.

Ngg..tapi Papa antar kan? Tanyaku. Sudah terbayang teriknya siang ini, harus ikut les ngaji pula. Niat untuk bolos dengan pura-pura tidak ingat hari ngaji GAGAl TOTAL! Tapi it’s oklah, kalau jumat kan ada ustad Syauki (ustad favorit)…pikirku senang.

Alhasil saya pun bersiap sodara-sodara. Buat anak Banda Aceh, pasti tidak asing lagi dengan HIQQAH (Himpunan Qari-Qariah). Sebuah lembaga pembinaan Al-Quran yang menyediakan pelayanan tahsin dan seni suara tilawah. Para ustadnya adalah para juara langganan MTQ. Tempat mengajinya di Balai Kota Banda Aceh dengan jadwal setiap Jumat siang dan Ahad pagi.

Nah, saya si bocah kelas 5 SD itu pun segera diantar oleh my dad ke TKP dengan motor. Ohya, ada aturan resmi di rumah kami, yang namanya eskul itu harus seragam. Artinya, kalau ada yang les ngaji, maka 2 saudaraku juga ikut eskul yang sama. Kata mama, itu supaya kami (ketiga anaknya) menguasai hal tersebut. Bukan hanya les ngaji, les karate dan renang juga demikian.  Jumat itu, kebetulan hanya saya dan adikku usia 9 tahun-yang ngaji .

Simpang Jambo Tape, Banda Aceh, 13 tahun silam pk. 13.30 WIB…

Motor kami justru mampir ke Simpang Jambo Tape (lebih kurang 1 km dari rumah).

“Pa, kok ke sini? tanyaku. Jalur Jambo Tape justru semakin jauh dari lokasi.

Papa tidak menjawab, malah memarkir motor ke tepi jalan. Kemudian kami berjalan menuju halte. Aku yang bingung hanya turut saja.

“Hari ini Tia dan Egam naik DAMRI ya”.

“Kenapa Pa? Mukaku panik.

“Ya ga apa-apa, belajar saja”.

“Pa, jangan sekarang. Nanti terlambat. Takut…”.

Perasaan sudah campur aduk. Memang untuk anak seusiaku, aku gaptek sekali. Aku belum pernah naik angkutan umum sendiri tanpa orang tua. Wajar saja, ke sekolah selalu diantar. Selain itu rute rumah ke sekolah juga tidak ada jalur angkotnya. Nah, hari itu tidak ada angin, tidak ada hujan…secara tiba-tiba kami disuruh naik DAMRI! Can you imagine that? Ketakutan-ketakutan mulai menghinggapi…

Bagaimana kalau nanti ada penculik anak?

Bagaimana kalau nanti DAMRInya salah belok dan kami kesasar?

Bagaimana kalau..? Bagaimana kalau..?

Haduuhhh…mau pergi ngaji aja kok sulit begini…

Sayangnya kami tidak punya pilihan lain. My dad menjelaskan DAMRI yang lewat itu nanti akan berhenti di dekat Percetakan Negara, lalu kami harus turun di dekat shooping center dan jalan kaki sedikit ke arah taman sari. Ditambah lagi penjelasan tentang berapa rupiah yang harus kami bayar untuk ongkos. Akhir kata  beliau meyakinkan bahwa perjalanan dengan DAMRI akan baik-baik saja.

Tahukah sodara-sodara..saya merasa under pressure, cemas luar biasa. Secara saya yang lebih tua dibanding adik, saya harus menghapal petunjuk-petunjuk tadi. Memastikan bahwa saya bisa mengemban misi ini dengan gilang-gemilang. Lebih  tepatnya saya harus lebih tenang dan yakin di depan adik saya (perasaan jumawa seorang kakak..hehe).

“Sudah bisa kan? Sebentar lagi DAMRInya datang”, kata Papa.

Aku menatap beliau, mohon kebijaksanaan dan alhamdulillah rupanya sinyal itu terdeteksi.

“Ok. Papa nanti nyusul.. Papa naik motor ikut di belakang DAMRI sampai tujuan. Setuju?

Bagaikan embun surga, kepalaku cepat-cepat mengangguk. Kalau begini, tak perlu cemas lagi kan?

Dari kejauhan, DAMRI tiba…dan tanganku melambai-lambai tanda ingin naik.

Bismillah..hup. Kaki kecil pun melangkah naik tangga DAMRI nya-ukuran besar lho..(seperti DAMRI caheum-cibeuruem non AC). Tiba diatas, tempat duduk paling belakanglah yang menjadi incaranku. Sambil menggenggam erat tangan Egam, aku duduk di kursi belakang. Tak sabar, badan segera berbalik ke kaca, menegakkan kepala lebih tinggi, mencari Papa dengan motornya.

“Kok belum kelihatan ya Gam? Suara agak tergetar. Mulai deh panik-panik bergembira.

Lambat laun, sosok Papa terlihat di sela kendaraan lain. Rasa lega tak terperi. Semoga perjalanan ini memang baik-baik saja. Waktu melaju lambat, keringat mulai menitik di kening. DAMRI jalan dan berhenti sambil terus mengangkut penumpang. Aku sibuk menerka-nerka dimanakah posisi kami sekarang. Bundaran simpang lima sudah terlewati. Mesjid Raya Baiturrahman sudah di depan mata, tandanya sesaat lagi kami perlu bergegas turun. Sekali lagi kutoleh ke belakang. Yes, he is still there…:)

Persis di tepi shopping center, DAMRI menepi. Kaki kami kembali menjejak aspal. Bagai juara laga kampung, rasa membuncah di dada. Finally, mission is accomplished! Bangga sekali rasanya. Papa masih di motor. Dari jarak 2 m, dengan isyarat aku berkata, situasi aman terkendali, Pa. We’ll continue to HIQQAH by ourselves.

Senyum terkembang dan jempol  mengacung di udara. Kalau diterjemahkan dengan bahasa sekarang, Papa says “Like this!”

Kaki melangkah lebih ringan. Terik matahari terus membayangi Febi kecil dan Egam hingga ke Balai Kota. Riang hati untuk belajar mengaji…

Sebuah pengalaman itu kini  terus kukenang. Ini tentang kemandirian, keberanian dan belajar hemat, Nak!

With all my love..I love u, Pa!

Ajari aku menghadapi dunia, Pa

Read Full Post »