Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 14th, 2010

Ini tentang Febi kecil dan 2 saudara lelakinya. Tumbuh kembang di satu bagian Kota Banda Aceh, di bawah naungan home sweet home (walau statusnya masih kontakan).

Suatu siang di tahun 1990-an awal…

Anak yang baik di zamanku dulu adalah yang menurut dengan perkataan orang tua. Contohnya pulang sekolah langsung ganti seragam, shalat zuhur, makan dan TIDUR SIANG!  Setidaknya itu versi keluargaku. Nah, untuk yang terakhir ini agak gimana gitu lho…Apalagi kalau sudah ada teriakan dari luar rumah:

“Tia..tia..Egam..egam..main yuk…”

Posisiku, si bocah kelas 3 SD itu dilematis. Hasrat hati ingin bermain, namun tidur siang juga penting. Acap kali tawa, teriakan serunya bermain, bahkan ajakan teman-temanku untuk bergabung kadang-kadang harus diabaikan (pura-pura ga dengar)…Sehingga jadilah kami anak-anak yang patuh dan dengan penuh kesadaran melakukan ritual tidur siang dari jam 13-16 WIB.

Eits..tapi kalian jangan menjudge masa kecilku tidak bahagia! Hoho…justru aku bersyukur, sejumlah rule of family mulai ditanamkan, dicontohkan dan dibiasakan oleh kedua orang tuaku sejak usia dini (love u, Ma &Pa).

Jika ditelaah dengan bijak, barulah aku tahu bahwa tidur siang untuk anak seumuran ku (<12 tahun)  penting. Dimana anak usia perkembangan itu hari-harinya aktif-lincah, banyak kegiatan. Kalau siang bolong masih kelayapan main (notabene outdoor) peluang terjadi  over heat besar sekali. Belum lagi potensi kelelahan di malam hari…ujung-ujungnya tidak belajar, absen  buat PR, keteteran shalat dan mengaji. Terbayang oleh kalian, panasnya cuaca Banda Aceh (walaupun belum seekstrem sekarang)? Ditambah lagi permainan  zaman dulu juga rata-rata bertempat di luar rumah dan cukup menguras tenaga seperti petak umpet, lari-lari, main godot, patok lele dan sebagainya. Jadi singkat kata, TIDUR SIANG is IMPORTANT! Hidup tidur siang!! Hehe…

Ternyata setelah tidur siang, badan terasa fresh dan diiringi pula nafsu makan. Jika sore, aku terbangun dengan suara-suara aktivitas tetangga. Aku perlu segera bersiap. Sepertinya jam main part#2 sudah digelar, Boy…

Rumah kami ada di lorong semangka dan kami punya tetangga yang ramah-ramah. Ritual setiap sore adalah anak-anak sudah mandi, rapi dan berbaur di pekarangan. Sebagian ada yang sambil main tangkap capung, ngobrol ringan dan disuapi makan malam oleh orang tuanya. Namun itu sepertinya tidak berlaku jika ada suara “ ting-ting..ting-ting…”. Irama sendok yang bergesekan dengan mangkok kaca. Apalagi jika ditambah bunyi terompet “toet..toet”. Bagai sabda alam, alarm bocah-bocah lorong semangka begitu jeli menyambut dua oknum tamu agung itu.

“Lek, bakso…Baaakksssssooo…”. Teriakan itu adalah lagu wajib. Atau

“Lek, lek…eskremnya 500 ya”, bocah-bocah akan lari menghampiri gerobak seraya mengangsurkan gelas kosong mereka.

Begitulah sodara-sodara. Sore adalah waktu JAJAN. Lelek (sapaan mang Bakso) sepertinya sudah punya insting yang tepat untuk selalu mampir di lorong semangka. Setiap sore. Mereka, tukang bakso dan ice cream (es potong atau ice cream cone) hadir di kehidupan kami.

Perlahan namun pasti, Tia kecil selalu menyaksikan tiap fenomena itu dari waktu ke waktu. Tetangga-tetangganya, teman-teman mainnya. Setiap sore. Serutan ice cream rasa durian berpindah dan mengisi gelas-gelas. Mulut-mulut kecil yang belepotan lelehan ice cream dan dengan cepat kembali dijilati. Racikan mie kuning, bihun, butir-butir bakso disiram kuah yang pasti ada vetsinnya. Mangkuk-mangkuk itu mengepulkan harum kaldu sapi dan baunya menyebar kemana-mana. Termasuk rumah lorong semangka no.4. Rumah yang Tia kecil diami.

Bohong kalau bocah sepertiku menolak mencicipi hal yang sama seperti mereka. It’s true kalau diam-diam aku juga ingin dibekali uang jajan ekstra sehingga aku bisa lewat di depan mereka sambil menenteng mangkukku sendiri. Apakah tetanggaku orang kaya? Aku rasa, sama-sama saja dengan keluargaku. Pas-pasan.

Hingga sore itu…

“Ma, jajan bakso ya? Pinta kami bertiga.

Kalimat itu tertutur juga dari kami yang baru bangun tidur. Mama yang sedang duduk memandang kami. Diam.

“Ma, minta uang ya untuk jajan bakso? 1 mangkok cukup kok. Nanti kita bagi-bagi saja”.

Kali ini dengan lobi dan diplomasi.

Mama belum beranjak. Sementara gerobak Lelek bakso terlihat ramai, ia sibuk melayani pembeli. Kami harap-harap cemas. Apakah sore ini kami berhasil menikmati bakso racikannya?

“Ayolah Ma…Terlambat sedikit, maka baksonya akan habis”, gumamku dalam hati.

Mama bangkit dan bergegas.

“Sore ini Mama buat menu istimewa. Bubur kacang hijau. Ayo kita makan!

Rasanya terhempas-hempas. Huhu..kenapa bubur kacang hijau? Kenapa bukan bakso?

***

Sore itu kami juga menikmati senja di pekarangan. Isi mangkuk kami telah tandas. Rasanya bukan asin gurih vetsin, tapi manis. Manis gula jawa. Semanis cinta Mama kami, yang berusaha menyajikan anak-anaknya dengan makanan sehat.

Kini, aku pastikan aku tidak pernah menyesal tidak mencecap bakso lelek itu karena ada seporsi bubur kacang hijau yang jauh lebih mahal. Bahkan tidak dapat dihargai dengan mata uang apapun. Karena itu adalah dibuat dengan tangan mama. Karena mamaku cuma 1 di dunia. Mama yang memasak bubur kacang hijau dengan cinta.

With all my love, I love u, Ma!

Spesial: bubur kacang hijau cinta!

Bandung, 14022010

Read Full Post »

Pernah jalan di trotoar jalan Cikutra? pernah memperhatikan kalau di sela paving blocknya bebas dari rumput? Bisa jadi ini adalah jasa seorang lelaki yang saya temui siang tadi.

17 Agustus 2009

13.45 WIB dengan angkot caheum ciroyom saya turun di perempatan Itenas.
Misinya satu. Melayat ke rumah duka teman, Kak Angga. Siang itu cukup terik, sesekali ditambah hembusan angin segar.

Karena belum tahu alamatnya di bojong wetan, saya putuskan jalan sampai Taman Makam Pahlawan.
Tahukan kalo jalan cikutra jarang pohon (kecuali di tepinya)? Maka enggan rasanya jika jalan di trotoar tengah. Saya jalan santai, ingin menikmati suasana. Menikmati suasana merah putih di sepanjang jalan termasuk menikmati lalu lintasnya yang agak sepi.

100 meter dari Taman Makam, saya menyebrang menuju cikutra barat. Sampai akhirnya mata saya memandang satu sepeda yang diparkir dekat trotoar jalan.

sepeda unik
Sepeda ontel dengan bendera merah putih dan triplek bertulis di sisi belakangnya. Unik! Dan ternyata sepeda unik itu saya duga adalah milik seorang bapak tua berseragam kuning yang sedang bekerja di sisi trotoar seberang.

Wah, petugas kebersihan ini rajin sekali, pikirku.
“Hari libur tetap dinas saja”

Saya dan pak petugas itu sempat bertatapan. saya menyebrang dan meneruskan perjalanan.

Entah kenapa pikiran saya tetap ke sepeda tadi. Saya stop berjalan, merogoh ransel dan mengaduk-aduk isinya. Yup, ketemu…Dan saya berbalik arah. Kamera digital mencoba memotret dari jauh..tapi apa daya, si sepeda unik tadi masih terlihat kecil walau zoomnya sudah maksimal.

Melangkah, mendekat…zoom, dan klik…Yes, kali ini capturenya lebih baik. Tulisan di tripleknya terbaca.

yang setia menemani berkelana
“Neng… orangnya ga sekalian dipoto?

Eits, si bapak itu menyadari bahwa sepeda kesayangannya telah memikat saya. Wew..Udah tertangkap basah ni, kudu tanggung jawab..hehe…akhirnya saya menghampiri si bapak.

“Maaf pak, tadi saya potret sepeda bapak…”, sambil senyum manis plus tampang innocent..hehe

“Memangnya Neng belum pernah lihat sebelumnya?

“Belum Pak. Saya potret aja karena unik…”

“Hoho…padahal saya sudah bisa kemana-mana dengan sepeda itu. Di Kick An*y, TV *ne, lain-lain. Udah berapa lama di Bandung?

“Lima tahun, Pak”

Dan akhirnya percakapan pun mengalir…

Ternyata beliau adalah Pak Sariban. Seseorang yang berusia 66 tahun ini mendedikasikan dirinya sebagai relawan kebersihan. Tidak muluk-muluk, beliau hanya ingin Bandung bersih. Saban hari dengan sepeda ontel, peralatan bersih-bersihnya (sapu lidi gagang panjang, serokan dari kaleng, linggis) Pak Sariban akan datang ke tempat yang ia ingin bersihkan. Sekalipun perawakan kecilnya, tangannya kokoh mengarit rumput nakal di sela paving blok trotoar umum. Style uniform kuning dan bercaping dikenakannya dengan bangga. Tak ketinggalan badge nama di sisi kanan : SARIBAN.

“Bapak sudah melakukan ini selama 24 tahun neng. Meski tanpa dibayar, Bapak ikhlas. Rejeki mah udah ada yang ngatur”.

Deg…Apa? 24 tahun pak? Dan tanpa dibayar pula? (dalam hati)
Wah, saya sedang bertemu orang yang tidak biasa ni, pikir saya.

“Yang penting kita bekerja sebaik-baiknya, Neng. Hidup jadi ringan, karena yakin dengan kekuasaan Allah. Allah melihat terus kan? (ziiiiingggg…satu point yang kena banget).

Obrolan pun berlanjut seputar kuliah dan jurusan saya, daerah asal saya dan hingga satu pertanyaan yang agak membuat saya agak-agak gimana gitu…

“Kan sudah selesai tu kuliahnya, cita-cita Neng apa?
“saya jadi malu dengan bapak. Bapak masih tetap semangat bekerja dan berusaha menebar manfaat buat sekeliling”
(pak, cita-cita saya adalah xxx, yyy, zzz…dan yang buat saya agak dezig jebleb-jebleb .. cita-cita saya garis edarnya masih menyangkut pribadi..T-T)

“Ya, Bapak doakan supaya cepat bekerja dulu, terus bisa naik haji” (amin ya Rabb)

Hebat euy, Pak Sariban sudah berkesempatan naik haji lho dengan dedikasinya itu..Alhamdulillah..

Singkat kata singkat cerita… setelah jepret-jepret lagi beberapa tambahan tentang pak Sariban, saya pamit. Melanjutkan misi yang tertunda.

Jam 15.15 misi takziah saya selesai dan saya pun berjalan lagi hingga ke perempatan cikutra. Dan di ujung jalan seberang, sosok Pak Sariban masih di sana. Sendiri, tegar, istiqamah. Padahal saya lihat sepanjang jalan cikutra itu banyak anak-anak muda tanggung nongkrong, bapak-bapak merokok melamun, doing nothing…T-T

trotoar ini jadi saksi
Setiba di kost, saya langsung googling pak Sariban. Subhanallah, banyak fakta baru yang saya dapatkan dan baru saya ketahui…

Banyak orang yang sudah menulis tentang beliau, namun yang bertemu beliau langsung siang tadi, mendapat nasehat, menuliskan ulang untuk kalian dan tergugah untuk mengadopsi semangat beliau..mungkin saya adalah orang beruntung itu…(dan kalian yang membaca notes ini)

Pak Sariban, mungkin engkaulah pahlawan itu…

Mungkin engkaulah citra dari merdeka..merdeka dari rasa malas dan enggan dalam berkarya, merdeka untuk melakukan hal yang mungkin orang anggap hina, merdeka menerima segala susah-senangnya hidup, merdeka dengan prinsip yang engkau anut…kerja ikhlas dan bermanfaat

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa

(jangan menyerah- d massiv)

Pak Sariban
Bandung, 17082009

Read Full Post »

Gara-gara baru beli sebuah majalah edisi khusus craft,
diriku jadi senang dengan serba-serbi craft, terutama yang rajut, renda dan sulam pita.

Waktu kecil sih ingat banget, both of my grandmom bisa ngerajut.
dari bahan benang sampai tali rafia dijadikan bunga…Bahkan sepatu bayipun dirajut ama nenekku untuk adik sepupuku.

rajut-merajut

Luar biasa..apalagi perkembangan rajut makin dahsyat aja.
Pas lagi searching buku-buku rajut di google, eh ternyata dulu pas SD pernah belajar yang beginian juga. Macam-macam tusuk, kaya tusuk tikam jejak, tusuk rantai, de el el.
Produknya jadi tambah chic dengan sentuhan sulam pita…
huhu..pengen punya dan pengen bisa…T_T

Gak tau, kalo ngelihat orang yang bisa ngerajut, apalagi perempuan..
serasa dia benar-benar perempuan sejati. Hhehe..lebay…Ya, mengapa seperti itu?
Karena untuk merajut, merenda dan sebagainya itu butuh kesabaran dan ketekunan tingkat tinggi.
Hanya perempuan yang penuh cinta bisa membuat “karya lebih”…karya yang dengan cita rasa cinta…

dan…bisa merajut, one of my life plan

Bandung, 19122008

Read Full Post »

Siang-siang yang teduh ini, aku berangkat menunaikan sebuah misi. Yup, membayar tagihan telepon kos, karena bulan ini jatah diriku yang bertugas.

Tujuan ke sadang serang, berangkat dari kampus lewat dayang sumbi dan menyetop angkot warna biru muda…(pada tahu semuakan?)

Angkotnya santai, tidak terlalu penuh, harinya adem ayem…suasana hati juga bersahabat. Di depan toko brownis, angkot berhenti..mogok? bukanlah..tapi ngantri lampu merah..

jalan Dago

dan bagai melihat gula nganggur, maka semutpun datang…itulah para pengamen dan penjual asongan..
Seorang laki-laki 30-an datang…
pengamenkah? soalnya doi ga bawa properti musik apapun…

dalam hati awak bergumam, apa dia bakal ngamen kosong?

sesaat kemudian..mengalun lah lagu instrumen “sepanjang jalan kenangan”

yang liriknya begini lho…

Sepanjang Jalan Kenangan
Artist: Tetty Kadi

Sengaja aku datang ke kotamu
Lama nian tidak bertemu
Ingin diriku mengulang kembali
Berjalan jalan bagai tahun lalu

Walau diriku kini tlah berdua
Dirimupun tiada berbeda
Namun kenangan spanjang jalan itu
Tak mungkin lepas dari ingatanku

Sepanjang jalan kenangan
Kita slalu bergandeng tangan
Sepanjang jalan kenangan
Kau peluk diriku mesra
Hujan yang rintik rintik
Di awal bulan itu
Menambah nikmatnya malam syahdu

wow…saya terharu…suasananya pas banget…hujan rintik-rintik…

dan karena saya senang dengan performancenya, beberapa keping logam berpindah ke wadah aqua gelasnya.

dan anda tahu sodara-sodara??

alat musiknya adalah SISIR plastik 10 cm warna pink yang dilapisi plastik dan menyamai harmonika…!!!

it’s amazing..

musisi jalanan yang kreatif..

dan jadilah saya..”sepanjang jalan kenangan” di Simpang Dago.

Bandung, 11122008

Read Full Post »

Sudah menjadi agenda bagi saya jika malam hari jam 9 keatas adalah mendengar radio. karena jam segitu lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu slow dan kebanyakan oldies (genre musik fav saya setelah jadi mahasiswa). Mendengar radio jauh lebih enak daripada menonton tv.
Berikut saya kasi daftar kelebihan mendengarkan radio:

pertama : mata ga sakit…tidak mengkonsumsi cahaya yang terpancar dari tv.

kedua: hemat istrik. cukup charge batere hp saja.
biar aman indera pendengaran dengarkan lewat loudspeaker dengan volume dan jarak yang pas.

ketiga : ga banyak iklan…

keempat: bisa dijadikan ajang latih vokal (yang ini sih optinal ya :))

dan keuntungan-keuntungan lainnyalah…

pokoknya i love listening the radio…

Nah, kembali ke radio.
Radio fav saya di bandung ga banyak: radio pemerintah, dan radio-radio yang banyak lagu oldiesnya 🙂
Tadi malam (11/12/2008) pilihan saya jatuh ke radio F*m*l* karena lagu-lagunya saya bisa nyanyikan terus…
(jadilah kamar saya tempat karaoke dadakan)
Di program, u’ve got the friend..lagu-lagunya asik.
tapi jangan tanya saya siapa penyanyinya dan judulnya apa saja..karena saya ga hapal sodara-sodara..:D

Eh rupanya di sela-sela lagu..si penyiarnya menerima telepon dari mbak-mbak, sekitar 25 thn keatas.
(saya taksir alias saya timbang atau saya ukur)
Temanya tentang kenangan lama patah hati. hiks..hiks..hiks…:((

Singkat kata singkat cerita si mbak tadi, sebut saja “Bukan Bunga” selama 3 tahun masih menyisakan bayangan ama mantannyawalaupun sudah ga mungkin lagi dia miliki.
Alah mak…Bukan Bunga ditinggal nikah/kawin oleh kekasihnya.
Sampai 3 tahun itu (kekasih Bukan Bunga married th2005), si mbak ga bisa melupakan kenangan-kenangan manis.
ckckck…

Pas si penyiarnya nanya : Apa pengalaman yang paing berkesan bersamanya, unforgetable memory?
Bukan Bunga (BB) : ehm..apa ya? banyak sekali..semuanya sulit dilupakan

Penyiar (P): apa mbak masih menghubungi dirinya, sekedar say hai atau apa kamu masih terbesit pengen tahu ttg dirinya via orang ketiga?
BB: Kalo menghubungi langsung ga pernah. Kalo kemauan ya ada. Pengen tau gimana aktivitasnya, sudah punya momongan apa belum. Tapi saya ga pengen terlalu jauh. Saya ga mau mengusik rumah tangganya.

wah…saya diam-diam salut juga atas perjuangan si mbak BB

and in the end of the conversation, penyiar nanya lagi
P: Andai..andai kamu dapat kesempatan untuk bertemu dengannya, hal apa yang ingin kamu sampaikan?

(Berandai-andai…membuka angan-angan semu, kadang-kadang ga banget ya?)

BB: Saya cuma pengen dia tahu bahwa saya harus berjuang keras untuk melupakan dia dan itu sangat sulit.

Waduh…cinta anak manusia…cinta yang membawa suka, kadang bawa lara juga.
Beres dengarin curhatan nya Mbak Bukan Bunga, saya jadi berpikir juga…

L.O.V.E

Ya, saya jadi ambil hikmah saja sebagai sesama perempuan bahwa keputusan mbak BB untuk menjaga jarak dengan mantannya adalah tepat sekali.
Menghubungi mantan, yang notabene dah jadi suami perempuan lain, itu hanya akan memantik api menjadi kebakaran ya?
Ya, terus saya jadi belajar bahwa memang tidak boleh memposisikan cinta makhluk di atas cinta Sang Khalik.
ntar, bisa berabe sendiri.

Jangan khawatir mbak, even i don’t know u..tapi saya mendoakan mbak untuk mendapatkan cinta yang sejati dan yang menentramkan.
Ga lain dan ga bukan setelah mengikuti rambu-rambu yang telah diatur oleh yang Maha Pencipta.

“perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula.
sedangkan perempuan-prempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula”

(Q.S An-Nur (24):26)

Yakin deh ama Allah swt…
Termasuk keyakinan saya bahwa saya juga insya allah akan menemukan my own prince..hehe..:”>

Read Full Post »