Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 18th, 2010

5 Februari 2010 saya berkesempatan mengikuti training Identifikasi Korban Traffcking di Jawa Barat yang diselenggarakan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB). Bekerja sama dengan NGO International Organization for Migration dan dihadiri oleh peserta dari berbagai stake holder seperti Dinas Kesehatan, kepolisisan, Kejaksaan, dan LSM yang bergerak di bidang perlindungan hukum, perempuan dan anak.

Ternyata Prov. Jawa Barat menempati peringkat kedua dalam jumlah korban perdagangan manusia (trafficking). Pada tahun 2009, terdapat 700 korban trafficking asal Jawa Barat, di bawah Kalimantan Barat dengan 750 korban. (Bareskrim Mabes Polri)

Berikut beberapa catatan, semoga bermanfaat.

Kata “Trafficking”  berasosiasi pada kata Trafiking yang artinya perdagangan orang . Bentuk perlingdungan yang telah ada di Indonesia yaitu  UU 21/2007, lebih dikenal dengan TPPO = Tindak Pidana Perdagangan Orang .

Definisi Traficking

Perekrutan, pegiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksaan, penculikan, penipuan, kebohongan atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan agar dapat meperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi.

Eksploitasi termasuk, paling tidak, eksploiasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk-bentuk lain dari eksploitai seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktek-praktek serupa perbudakan, penghambaan atau pengambilan organ tubuh. (United Nation, Pasal 3 Protokol PBB untuk Mencegah, Menekan dan Menghukum Trafiking Manusia, Khususnya Wanita dan Anak-anak, ditandatangani pada bulan Desember 2000 di Palermo, Sisilia, Italia)

Sedangkan definisi TPPO dalam UU 21/2007 adalah Tindakan perekrutan, pengangkutan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memgang kendali orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi [pasal 1 (1)]

Tindakan Pidana Perdagangan Orang: adalah setiap tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan dalam undang-unadang ini [pasal 1 (2)].

Oke, mengapa definisinya sedikian rumit?

Karena dari definisilah akan mempermudah identifikasi TPPO. Jangan salah lho, selain traffcking juga ada istilah smuggling. Lanjut ya…

Secara garis besar, trafficking terbagi dua:

  1. Korban usia <18 tahun
  2. Korban > 18 tahun

Suatu kasus baru dapat disebut TPPO jika tercapai 3 unsur berikut:

1. Proses : pergerakan , 2. Cara, 3. Tujuan : eksploitasi . Ini berlaku untuk identifikasi korban yang berusia >18 tahun. Sedangkan jika korban adalah anak <18 tahun maka cukup melakukan 2 tahapan saja   : Proses  dan Tujuan.

Mengapa ada perbedaan? Penjabaran tentang ke-3 point di atas akan lebih jelas seperti uraian berikut.

  1. Proses : Metode Pergerakan. Apakah orang tsb:
  • Direkrut? atau
  • Ditransportasi? atau
  • Dipindahkan? atau
  • Ditampung? atau
  • Diterimakan di tujuan?

Jika TIDAK, ia bukan korban trafficiking

Jika YA, maka masuk ke tahap identifikasi no. 2 yaitu, CARA

2. CARA. Apakah orang tersebut:

  • Diancam? atau
  • Dipaksa dengan cara lain? atau
  • Diculik? atau
  • Menjadi korban pemalsuan? atau
  • Ditipu? atau
  • Menjadi korban penyalahgunaan kekuasaan?

Jika TIDAK, ia bukan korban trafiking

Jika YA, maka masuk ke tahap identifikasi no. 3 yaitu, TUJUAN

3. TUJUAN : Eksploitasi. apakah korban tereksploitasi? Dapat termasuk dalam kategori eksploitasi bila :

  • Pelacuran, atau
  • Bentuk lain dari eksploitasi seksual, atau
  • Kerja Paksa, atau
  • Perbudakan, atau
  • Praktek-praktek lain dari perbudakan (mis. tugas militer paksa), atau
  • Pengambilan organ-organ tubuh, atau

Jika jawabannya YA, ia adalah KORBAN TRAFIKING.

Jika jawabannnya TIDAK, ia bukanlah korban trafiking.

Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang itu adalah VOTS? (Vicims ofTraficking)?

Berikut beberapa indikator umum:

  • Orang tersebut tidak dapat pindah ke lokasi baru atau meninggalkan pekerjaan mereka.
  • Orang tersebut tidak mengelola uang mereka sendiri.
  • Orang tersebut tidak menguasai dokumennya sendiri, seperti paspor, kartu pengenal, dll.
  • Orang tersebut tidak dibayar untuk pekerjaannya atau dibayar sangat rendah.
  • Orang tersebut tinggal bersama beberapa orang lainnya dalam kondisi tidak bersih atau tinggal bersama majikannya (mungkin mucikarinya).
  • Orang tersebut jarang sendirian dan tampaknya selalu memiliki pendamping.
  • Orang tersebut tampak memiliki luka fisik atau bekas luka, seperti goresan, memar, atau luka bakar.
  • Orang tersebut menunjukkan sikap penurut.
  • Orang tersebut memperlihatkan gejala tekanan emosional dan masalah psikologis, seperti depresi, kegelisahan, luka yang dibuat sendiri, cenderung ingin bunuh diri.

Bicara tentang trafficking pasti akan berbicara tentang masalah yang kompleks. Mulai dari himpitan ekonomi, budaya masyarakat, moralitas, hukum, kemanusiaan, policy antar Negara, dll.

Cerita dari staf IOM, Mbak Ana juga cukup membuat saya mengidik. Bagaimana jahatnya orang tua yang memperdagangkan anaknya, sengaja menjadikan anak komoditas seksual, dll. Para gadis remaja yang tepaksa membayar hutang keluarga dan akhirnya mereka dimekanisasi dalam penjualan manusia. Belum lagi cerita-cerita kekerasan fisik dan psikis yang dialami. Persis seperti nasib tragis sebagian TKW Indonesia.

Mencoba surfing ke website terkait, saya membaca:

Salah satu fakta yang menyedihkan mengapa trafficking marak di Indonesia karena budaya konsumerisme yang melanda generasi muda. Selain itu, angka putus sekolah (dropout) di Jawa Barat cukup tinggi dan rata-rata lama sekolah (RLS) yang masih berkisar 8 tahun. “Angka DO di Jawa Barat memang relatif kecil, sekitar 2,5 persen. Namun, karena jumlah anak sekolahnya banyak, siswa yang DO-nya juga ribuan orang,” tutur Direktur Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan Nasional (Kemen-diknas) Eia Yulaelawati, MA.

….

Sebenarnya materi trafficking masih panjang. Insya allah saya share di kesempatan yang lain…

Pada akhirnya saya menyadari…

Kerja-kerja untuk umat adalah sangat banyak. Berat bahkan teramat berat. Maka tak akan mungkin dipikul sendiri oleh pemerintah saja, LSM saja, polisi saja, jaksa saja…kecuali dengan kerja  sama…ya, KERJA SAMA.

Termasuk bagaimana saya, Anda. Perlu menjadi pribadi yang sehat lahir dan batin, kuat itikadnya dan sanggup meringankan urusan umat ini. Insya allah…

Bdg, 18022010

Advertisements

Read Full Post »