Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2010

Tanggal 8 Maret diperingati dunia sebagai hari Perempuan Internasional. Hari yang menjadi momen kesempatan bagi semua umat manusia untuk memiliki rasa solidaritas terhadap perjuangan kaum perempuan di manca negara, yang sampai saát ini posisi kaum perempuan, baik di negara maju maupun di berbagai negara sedang berkembang masih menyentuh pada banyak persoalan ketidak-adilan dalam posisinya di kehidupan sosial-ekonomi, misalnya menghadapi kasus diskriminasi dan kekerasan kaum prempuan di sektor kerja. Juga, posisi perempuan banyak mengalami persoalan kekerasan dan pemerkosaan di kehidupan berkeluarga. Bahkan di banyak negara berkembang, kaum perempuan tetap
menghadapi kondisi kehidupan paling terberat karena faktor kemiskinan.

Saya sendiri baru tahu hal ini . Setelah googling, ternyata cukup banyak mendapatkan sumber informasi tentang sejarah, sepak terjang para aktivis perempuan dunia dan permasalahan global terkait perempuan. Sedikit berbagi pandangan. Enjoy!

Dan perempuan…kau mengalihkan perhatian dunia…

Sejarah

Banyak orang beranggapan bahwa pengakuan hari perempuan internasional ini asal-muasalnya dari pencerminan aksi massal kaum perempuan Amerika di tekstil/pakaian industri tanggal 8 Maret 1908 sehingga pada tiap tanggal tersebut juga dipakai oleh masyarakat di eropa sebagai acuan hari aksi bagi gerakan perempuan.

Clara Zetkin (1857 – 1933) pada tahun 1889 sebagai wakil perempuan sosialis – Berlin telah memulai memperjuangkan hak-hak pekerja perempuan dan pekerja anak-anak di pertemuan Kongres internasional ke II di Paris. Dalam Kongres tersebut, Clara Zetkin mengajukan persoalan pekerja perempuan dan pekerja anak-anak, untuk dimasukan dalam program perjuangan gerakan buruh. Dalam pertemuan kongres tersebut, Clara memasukkan program tuntutan, antara lain tentang pelarangan mempekerjakan anak-anak dibawah usia 14 tahun, membolehkan anak-anak bekerja max 6 jam per-hari pada antara usia 14-18 tahun, menuntut penghapusan dinas malam bagi pekerja perempuan dan anak-anak di bawah usia 18 tahun. Ia juga menolak agenda tuntutan, yang di serukan kaum sosialiste lainnya, untuk penghapusan undang-undang pekerja perempuan, dengan alasan bahwa perempuan berhak menuntut persamaan hak dalam posisi sosial-ekonomi.

Singkat kata, perjuangan Clara Zetkin memperjuangkan kesamaan hak dan keadilan sosial kaum perempuan berbuah manis pada konferensi Internasional Perempuan Sosisialis di stuttgart pada tanggal 17 Agustus 1907 yaitu resolusi tuntutan hak memilih dan hak untuk dipilih bagi kaum perempuan dewasa.

Puncaknya, setahun kemudian, di kota New York pada tanggal 8 Maret 1908 ribuan pekerja perempuan dari tekstil/pakaian industri mengadakan demonstrasi dengan tuntutan menentang kerja seharian penuh, salary rendah dan kondisi kerja buruk.

Pada tahun 1911 untuk pertama kali peringatan Hari Perempuan Internasional mulai dilakukan di Jerman, Denmark, Zwiserland dan di Amerika dengan melakukan demonstrasi massal kaum pekerja perempuan. Sejak saat itu tradisi kebangkitan kaum perempuan semakin marak di daratan Eropa dalam perjuangannya melaui protes aksi atau demonstrasi massal. Sejarah pergerakan Perempuan se Dunia ini, pada akhirnya mendapat pengakuan dari PBB pada tahun 1978.

Tantangan Abad 21

Dalam Konferensi Dunia IV mengenai Perempuan dan Pembangunan di Beijing tahun 1995, pemerintah negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Indonesia, berjanji memajukan kesetaraan, pembangunan, dan perdamaian bagi perempuan di mana pun.

Itulah hal paling dasar dari pemenuhan hak asasi manusia seperti tercantum dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.Kesetaraan bagi perempuan dan anak perempuan mencakup kepentingan ekonomi dan sosial. Selama mereka belum terbebaskan dari kemiskinan dan ketidakadilan dalam arti luas, maka perdamaian, keamanan, dan pembangunan berkelanjutan tetap terancam.

Itu pula sebabnya, tujuan ketiga Sasaran Pembangunan Milenium (MDGs), yakni mencapai kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, merupakan isu sentral dari semua tujuan MDGs. Artinya, semua tujuan MDGs tak akan tercapai tanpa memperhitungkan faktor kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan.

Deklarasi Beijing telah memberi panduan bagi pembuatan kebijakan publik, selain pesan yang jelas bahwa kesetaraan dan kesempatan bagi perempuan dan anak perempuan tak terpisahkan dari hak-hak asasi manusia.

Meski demikian, masih banyak yang harus dilakukan. Begitu diingatkan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon menyongsong Hari Perempuan Internasional (8/3/2010), bertema ”Kesetaraan hak, kesetaraan kesempatan: Kemajuan bagi semua”.

Ia mengingatkan, angka kematian ibu melahirkan di dunia masih sangat tinggi. Itu artinya, akses pada pelayanan kesehatan reproduksi baru dinikmati segelintir perempuan dan kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan seksual, tetap bersifat endemik.

Selain itu, diskriminasi dan stereotyping terus berlangsung di semua kebudayaan dan komunitas. Perkawinan paksa, praktik honor killing (pembunuhan terhadap perempuan dan anak perempuan atas nama ”kehormatan” keluarga), kekejian seksual, dan meningkatnya kegiatan kriminal perdagangan perempuan dan anak perempuan.

Dari perspektif apa pun, perempuan dan anak perempuan harus menanggung beban terberat keluarga, komunitas, dan masyarakatnya.

the power of women, perempuan cerdas, berdaya dan bahagia!

What Next?

Life goes through dan perempuan juga ada di sana. Semua manusia bergulat dengan zaman dan perempuan termasuk di dalamnya. Zaman yang semakin kompetitif, cepat dan dinamis menuntut manusia berubah (adaptif) dan terus meningkatkan kekuatan diri.

“Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An-Nisa: 9).

Tentu saja lemah yang dimaksud di sini bukan hanya lemah secara ekonomi saja, melainkan juga lemah secara spiritual (ruhiyah), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qusyairi. Artinya, jangan sampai orangtua meninggalkan generasi yang lemah agamanya sehingga alih-alih menjadi penerus bagi generasi sebelumnya, justru menjadi generasi yang merusak warisan para pendahulunya.

Para perempuan hendaklah mengambil peran perubahan peradaban dengan cara meningkatkan kepahaman dengan ILMU. Ilmu apapun selama itu mengantarkan pada jalan kebaikan. Sebaik-baik ilmu ditegaskan sebagai ilmu yang mengalir dalam siklus belajar dan mengajarkan (tataran AMAL). Wilayah cakupan ilmunya pun sangat beragam, mulai dari Ilmu agama, ilmu kontemporer, ilmu sejarah dan sebagainya.

What a wonderful concept of Islam, bahwa muslim/muslimah diberi peluang yang sama untuk berbuat baik dan diganjar oleh Allah sesuai dengan amalannya masing-masing. Maka yang tercipta adalah nuansa kompetisi dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Ayo perempuan Indonesia, jangan mau ketinggalan! Muslimah, keep striving on kindness! Karena syurgaNya tidak menunggu, tapi harus diburu..:) (Febi Mutia)

-mengambil spirit Training the Power of Woman, perempuan Cerdas, Berdaya dan Bahagia-

Bandung, 08032010

Referensi:lbh-apik, prakarsa-rakyat, apadong

Laki-laki dan perempuan: bekerja sama dalam kebaikan dan takwa

Read Full Post »