Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 9th, 2011

Rupa-rupa Pagi

Untuk yang tinggal di daerah kota besar dan ada slum areanya pasti sudah lazim dengan kehidupan di gang sempit, padat dan hanya bisa dilintasi sepeda motor. Kehidupan di daerah tersebut rata-rata kompleks, perbauran antara masyarakat asli maupun para karyawan atau mahasiswa pendatang yang butuh kost-kostan murah.

Bukan sekali-dua kali pula daerah seperti ini menjadi sasaran pencurian, pengemis, pengamen yang menghampiri rumah ke rumah hingga pemulung. Pagi itu, saya melihat sesuatu bingkai kehidupan yang lain.

Niat awalnya adalah membeli jus buah. Maka sembari menunggu pesanan, saya duduk di bangku panjang di luar warung itu. Ya namanya juga jalan gang, pasti rame ya…Tiba-tiba sesosok lelaki 40an tersuara keras.

“Jadi kafir itu ada dua ya neng. Kafir zhimi dan kafir…(saya lupa dan saya KAGET SEKALI!)

Makin lama dia semakin mendekat ke arah warung dan tetap dengan khutbahnya. Langkahnya sedikit terseok dan ditopang satu kayu penyangga. Fisiknya sehat dan lengkap.

“Maka kita harus selalu membantu yang kekurangan, bla..bla..

Dua pelajar tanggung yang juga duduk di warung mulai kasak-kusuk, tidak nyaman. Untungnya pesanan saya sudah selesai dan saya masuk ke warung. Takut kalo memdadak si Bapak itu tiba-tiba kalap dan bertindak agresif. Seremmm…

Pengemis di sela hari

Sambil membayar, saya pun bercakap-cakap dengan si Ibu penjual jus.

“Kehidupan makin sulit dan tingkah orangpun makin aneh-aneh saja ya mbak? Kasihan, padahal tadi orangnya ga cacat-cacat amat.

“Hmm, iya bu. Ada yang sehat namun memilih jadi pengemis, ada juga yang tetap usaha seperti keliling kampung bawa sapu atau tukang sol sepatu. Mereka berusaha dengan cara yang berbeda dan pasti tiap keringat merekapun akan berbeda nilainya, jawab saya.

Sepulang dari warung itu, banyak pikiran berkecamuk. Intinya kehidupan ekonomi yang sulit bisa mebuat orang-orang tak berdaya. Namun keimanan yang kering justru lebih berbahaya. Hidup harus kian peka dan pengendalian diri. Jangan berlebih-lebihan. Baiknya pas-pasan (pas butuh, pas ada 🙂 ). Habiskan makanan yang anda makan.

Pikirkan berapa banyak energi yang dimulai dari mulai menanam, mengolah dan menyajikannya di piring dan berakhir sia-sia. Padahal di saat yang sama, di belahan bumi lain banyak yang gizi buruk dan tidak bisa makan nasi.

Sayup-sayup, ocehan khutbah gratis tadi masih terdengar. Mungkin dia sudah di gang yang lain dan matahari kian tinggi…

Read Full Post »