Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2011

Medio Juli 1997

Saat sorot mata lebih berbicara daripada kata-kata maka itulah gambaran hari itu. Semua anak-anak kelas 6 ingin berada di sana. Di kelas baru itu. Kelas dengan meja dan kursi baru, meruap khas bau cat. Papan tulis yang hitam sempurna dan belum terukir tulisan arab bismillah. Itulah kelas 6D yang di sebelahnya adalah kelas yang difungsikan sebagai mushala. Kelas ekslusif bertembok bata, tidak berbatas papan yang bisa dibuka-tutup seperti kelas lain. Hari itu saya ada di sana. Bersama sekumpulan kawan-kawan yang didaulat sebagai anak kelas inti.

Rupanya ada skenario yang lebih menarik lagi. Kesempatan mencicipi kelas inti hanya berlangsung beberapa hari karena sesungguhnya tempat saya di kelas 6B. Entah mengapa akhirnya kelas inti itu dipecah dan murid-muridnya disebar di kelas 6A hingga 6E.

Kalian masih ingat siapa saja wali kelas 6A-6E? Ada Ibu Murni, Bu Fatma, Bu Ros, Bu Nurjannah dan Bu …(lupa). Ibu-ibu ini sangat kompak bagai lima sekawan bahkan urusan taplak meja kelaspun seragam, yaitu kain biru dengan motif uang koin dan ada rample-rampel. Mungkin kalau beli borongan, tawar-menawar harga kain dan ongkos jahitnya makin seru ya? 🙂

Cerita seru lainnya yang pasti mengesankan adalah lomba masak nasi goreng. Begini kisahnya…

***

“Bi, kita perlu bagi-bagi tugas, kata Musdya.

“Pasti. Masak nasi goreng kan gampang? Jawabku. Maklumlah, usia 11 tahun untuk anak perempuan sudah sepatutnya bisa mengerjakan beberapa tugas rumah tangga. Maka setelah Bu Fatma membagi kelompok berdasarkan deretan tempat duduk, kelompokku mulai berkonsolidasi. Job description telah tuntas. Saya bertugas bawa kompor dan peralatan memasak, Irfandi dan Shalihin membawa peralatan makan (piring, sendok, gelas), Musdya dengan racikan bumbu nasi goreng. Semua dapat tugas. Semua antusias dengan rencana lomba masak ini. Termasuk kelas 6 lainnya.

Tiba di hari H, heboh berat..Bisa dibayangkan, ada acara gotong kompor minyak dari rumah, geser-geser meja dan kursi dan menset dapur dadakan dan mulai mengolah bahan-bahan. Para siswi mulai keluar gaya mamak-mamaknya…Contohnya seperti ini:

“Eh, potong timunnya jangan tebal-tebal!

“Ulekan cabe dan bumbunya masih kasar!

“Nasi gorengnya masih pucat! Tambah lagi kecapnya…

“Jangan aduk nasi dan bumbunya pakai tangan..Jorok e..

Aaaahhh..pokoknya semua gabuk. Hehe…

Kelas 6 B menerapkan sistem yang berbeda. Ibu wali kelas kami hanya bertindak sebagai fasilitator, benar-benar membebaskan anak muridnya berkreasi. Akhirnya kelas penuh dengan harumnya minyak menumis bumbu, aroma kecap manis, garam, desing sodet dengan kuali ditimpali gelak tawa. Murid-murid berlagak bagai chef master. Sekompak mungkin dan berusaha keras untuk menyajikan sepiring nasi goreng lezat sebagai tester kepada dewan juri yang tak lain adalah ibu-ibu wali kelas.

Anak-anak sibuk memasak, ibu-ibu wali kelaspun tidak ketinggalan. Sibuk inspeksi dong! Mengawasi supaya anak-anak menjalankan step-step memasak dengan standar kesehatan dan keselamatan kerja :-). Secara banyak potensi bahaya di sana, mulai dari pisau, kompor, api, minyak goreng dan minyak tanah. Alhamdulillah, untungnya murid-murid aman-aman saja menjalankan misinya.

Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah 2 jam “berkutat di dapur”. Jarum jam dinding sudha menunjukkan pukul 11.30. saatnya mengakhiri acara masak-masak dan masuk kepada tahap serving. Yakin dan percaya diri saja, teman… Nasi goreng made in kelompokku pasti enak. Nasi goreng mulai disajikan di piring. Irisan tomat dan mentimun menghiasi sisi-sisinya. Dipadu dengan telur dadar dan taburan bawang goreng. Menu semakin komplet dengan minuman sirup patung plus biji selasih dan nata de coco. Sempurna..Perfecto! (kalau dipikir-pikir sekarang, ini padanan yang aneh -_-‘)

Saya sempat melirik ke kelompok sebelah…

“Mus, hebat ya si Nopi. Bisa buat bunga mawar dari tomat! Musdya melirik ke sebelah. Ia turut mengiyakan. Maka selanjutnya adalah sesi penilaian dewan juri. Satu persatu ibu wali kelas mencicipi nasi goreng buatan kelompok. Hmm…kami menatap harap-harap cemas. Untungnya tidak ada yang berkomentar seperti Chef Juna 🙂

“Wah, ini rasanya manis nak..kebanyakan kecap ya? Kata Bu Fatma. Kami hanya senyum-senyum. Dari penampakan fisik memang tak salah lagi..warna nasi goreng memang didominasi warna kecap..Hehe.. Ada pula nasi goreng yang terlalu pedas, asin dan tampilan pucat. Hehe..lengkap sudah. Tidak ada yang mengantongi poin sempurna. Namun tak disangka, kelompokku meraih juara 2 nasi goreng terbaik. Yeahhh..sedangkan juara 1 diraih Mawaddah dkk.

Setelah sesi penjurian, tanpa panjang lebar…saatnya makaaaaaannnn!! Alhamdulillah, semua nasi goreng buatan bocah-bocah kelas 6B rasanya enak dan enak sekali. Karena rasa tak pernah bohong 🙂

-sayangnya tak ada dokumentasi saat itu-

Nasi Goreng

 

Read Full Post »