Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2011

Aslinya saya anak baik :-). Gak neko-neko pas jadi siswa SMA Mosa. Dalam kamus saya,  taat peraturan, disiplin dalam hal shalat berjamaah, senam pagi dan belajar sudah menjadi panggilan jiwa..(ciee..) Intinya sejak masuk Mosa yang notabene sekolah berasrama, sejak itu pula saya siap jadi anak mandiri, rajin bla bla lainnya. Maklumlah, jika saya mbandel ntar laporannya pasti sampai ke rumah dan langsung deh dicap jelek. “Kok, anak guru begini..kok anak guru begitu..”.

Sampai suatu saat, saya melanggar peraturan sekolah. Pertama kalinya. Dan ini termasuk kejahatan kelas berat!

***

Ba’da Jumatan tahun 2001.

Saya gelisah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2.30 siang. Ya..tidak..ya..tidak. 30 menit lagi waktu prosus (les sore) dimulai. Saya kembali berhitung ulang berbagai kemungkinan dan waktu yang saya butuhkan untuk mencapai kota Banda Aceh. Satu sisi hati berbisik, ayo Bee..now or never! Ciptakan sejarah dalam hidupmu. Sementara sisi lainnya menimpali, hai Febi..percuma saja kamu keluar sekarang. Waktu yang tersisa tidak akan cukup. Jam 5 sore tinggal sesaat lagi. Belum lagi minta izin guru, waktu di jalan, dll. Susah..sudah, lupakan saja mimpimu itu!

Kegalauan hati saya berbuah mantap:  keluar. Ada agenda mendesak yang harus saya selesaikan di kota dan tidak mungkin diwakilkan. Akhirnya dengan muka memohon-memelas, saya izin ke guru piket.  Biarpun panik-panik bergembira, saya tidak berani main kabur. Berbekal izin, saya langsung naik kendaraan umum. Kepada room mate, saya hanya pesan bahwa saya ada agenda penting dan tetap akan pulang ke asrama Cot Geundreut.

Setelah tiba di Banda Aceh yang sebenarnya cuma berjarak 13 km, saya segera menghubungi Ibu saya via wartel. Zaman itu sudah mulai komunikasi via hp, cuma belum lazim saja. Intinya, saya minta ibu saya menjemput dan mengantarkan saya ke daerah Jeulingke dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam bayang-bayang sore, sampai juga saya di tempat tujuan.

Pas sekali. Pendaftar terakhir di injury time. Yap, teman-teman..saya saat itu memberanikan diri mendaftar sebagai peserta AFS atau program pertukaran siswa yang diselenggarakan Yayasan Bina Antar Budaya. Masih dalam kondisi berpeluh-peluh, saya menyelesaikan form isian. Untungnya staf registrasi yang bertugas saat itu adalah Kak Ina (Laina Hilma Sari) yang merupakan alumni Mosa 1998. Alhamdulillah, saya masih diterima pendaftarannya dan tercatat sebagai satu-satunya siswa Modal Bangsa yang ikut seleksi AFS tahun itu.

What next is ujian seleksi pertamanya, yaitu esok hari, Sabtu jam 8.30 pagi. Wah, harus susun strategi ni. Akhirnya, saya (dengan berat hati) memutuskan cabut untuk pertama kalinya alias menginap tanpa izin. Cabut syar’i. Sekali lagi saya tegaskan! Ini semata-mata demi kelancaran esok hari. Kalian percaya saya kan? 😀

Bayangkan, sulit dan sangat tidak efektif jika saya kembali ke asrama hari ini dan esokny harus izin lagi dari asrama pagi-pagi. Toh, besok juga hari Minggu dimana jadwal anak-anak Mosa pelesir ke kota. Tapi jadwal pelesir baru diizinkan setelah jam 9 pagi. Ga banget kan?Akhirnya, info singkat ini saya kabarkan ke room mate yang sudah punya hp. Pokoknya aman! Saya coba abaikan rasa salah yang sempat terselip di hati. Everything gonna be alright!

Malamnya saya istirahat sambil mempelajari materi dan berita terkini. Besok ujiannya adalah pengetahuan umum. Semoga besok lancar…

Subuh pukul 6, room mate saya menelpon ke rumah (waktu itu saya beum punya hp).

“Bee, gawat. tadi pagi ada absen subuh. Banyak yang bolos sehingga anak2 yang ga hadir dipanggil abis makan pagi. Balik ke asrama dulu ya, walau sebentar saja…

Hadeuuhh..saya senewen berat. Kok bisa anak-anak barak Anggrek pada bablas subuhnya? Bisa ketahuan ni status saya sebagai Ketua Barak Anggrek cabut! Bahaya bagi pencitraan 🙂

Akhirnya…dengan segala pertimbangan, saya kembali ke asrama, saudara-saudara! Abang saya yang mengantar. Ia menyetir  mobil seperti orang kalap, demi mencapai asrama Mosa tepat waktu. Bayangkan beres makan biasanya jam 7.30, saya harus bisa setor muka, lalu langsung capcus lagi ke lokasi ujian jam 8.30. Berasa kaya amazing race ni! Panik…

Musalla Mosa

Tiba di kampus Mosa, barak Anggrek sudah sepi. Tandanya teman-teman sudah berbaris di depan musalla. Saya lari dan langsung bergabung ke barisan. Tepat waktu! Tepat bahwa nama saya sudah dipanggil 1 menit yang lalu. Ohhh..pastaslah, muka teman-teman saya pada tegang bin cemas. Jelas, kelas I-1 dipanggil urutan pertama dan nama dengan urutan F sudah terlewati dan sekarang Pak Kepala Asrama sedang mengabsen urutan nama M.

Sambil mengatur nafas, saya sudah pasrah. Alamat kena hukum ni. Terlambat beberapa menit tadi sangat fatal rupanya, karena status saya yang cabut juga terbongkar. Kesalahan berlapis! Mulai dari tidak shalat subuh berjamaah hingga cabut dari asrama tanpa izin Ka. Asrama (saat itu Pak Hamid). Ada laporan ke Bapak Asrama, makanya room mate saya tidak bisa mengelak. Hufff…gondok berat rasanya. Ter-la-lu! Masa sebagai teman, ga ada cs-nya sama sekali! Tak tahukah ia kalau saya akan, sedang mengemban tugas negara!?! Perasaan sedih, palak, panik bercampur jadi satu.

Barak Anggrek

Akhirnya, dengan berani mengakui kesalahan, menjelaskan duduk perkara dan kegentingan yang saya hadapi, saya kena hukuman: korvey cabut rumput depan barak Anggrek. Yap, sudah tidak ada waktu untuk berdebat lagi. Segera saja saya menyelesaikan tugas secepat-cepatnya dan langsung berangkat lagi. Waktu sudah semakin sempit. Saya harus bergegas karena satu bagian sejarah hidup saya yang lain sedang menanti! AFS, I’m coming 🙂

 Tapi, sejak saat itu saya sadar..yang salah tetap salah. Terlepas akhirnya saya lulus AFS, namun tidak jadi diambil, that’s another story. Ga lagi deh  saya cabut dari asrama karena saya tidak berbakat, cabut dan ketahuan..hehe. Peace ya Pak…

Itulah #CeritaPertama melakukan pelanggaran asrama. Tidak untuk dicontoh ya! 🙂 Nantikan #CeritaPertama selanjutnya. Salam

Advertisements

Read Full Post »

Saya sudah mendengar praktek pengobatan thabibun nabiy bekam atau hijamah ini sejak kuliah tingkat 3. Saat itu ada senior mahasiswa Aceh yang melakukannya dan dari penuturannyalah saya tahu bahwa bekam itu mengeluarkan darah kotor.

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Salam bersabda :

إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْفَصْدُ

Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah hijamah (bekam) dan fashdu (venesection).” (HR Bukhari – Muslim).

Akhirnya karena alasan ingin membuat sejarah dalam hidup dan mengalahkan ketakutan dalam diri, ba’da jumatan bulan Juni 2011 saya memberanikan diri ke kinik bekam dan ruqyah terpercaya di daerah Ciputat. Dari awal masuk, sudah tercium seperti aroma minyak gosok…hmm..cukup menyengat baunya.  Setelah mendaftar, saya menunggu untuk didiagnosa.

Tampaknya tak banyak antrian hari ini. sampai tiba-tiba…

Braakkk..seorang perempuan keluar dari ruang pemeriksaan dengan pandangan liar. Ia malah berlari ke arah jalan raya. Seorang lelaki dan anak kecil turut mengejarnya. Saya duga ini adalah suami dan anaknya. Anak kecil itu mulai menangis dan mengejar ibunya, sedangkan perempuan itu mengoceh asal. Perasaan saya mulai tidak enak.

Saya pura-pura sibuk baca koran. Di ruang tunggu juga ada beberapa terapis ikhwan yang menunggu, hendak mengamankan sang pasien. Tak jelas, suaminya tiba-tiba meninggalkan klinik itu. Saya lihat si perempuan itu kira-kira usia 30 tahunan dan anaknya yang 6 tahunan itu bertubuh kurus, penuh ingus dan luka di kakinya. Mulai deh saya berhipotesa bahwa keluarga mereka sedang dilanda konflik (kondisi kejiwaan ibunya yang labil) hingga menyebabkan anaknya tidak terurus. namun karena mereka semua di luar gedung,  suasana yang tegang lama-lama berangsur hilang.

Tak lama saya muai kebat-kebit. Perempuan yang masih kerasukan jin itu masuk ke lobi klinik dan duduk berjarak 1 meter dari saya. Alamak, gimana kalau dia tiba-tiba bringas? mencekik saya? marah-marah ga jelas? Jujur saya takut. Perempuan itu duduk seenaknya bahkan sampai tidur-tiduran segala. Saya konsen dengan terus berzikir dalam hati. Kalau saya takut, berarti saya kalah dong ama jin jahat itu!

“Apaan itu baca-baca segala..Makanya baca yang bener..Baca tu sejarah..Baacaaaaa!!

Ia berteriak kencang sambil mengacungkan jari ke arah televisi. Anaknya kembali menangis dan beringsut ke dekatnya.

Astagfirullah..Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini, doaku. Perempuan itu kumat lagi ni. Para terapis pura-pura cuek, saya pun demikian. Walaupun mulai keluar keringat jagung. Coba kalian di posisi saya, pasti harap-harap cemas juga kan? 😀

Hingga akhirnya 5 menit kemudian suaminya kembali dan mereka diarahkan kembali ke ruang pemeriksaan. Hufff…alhamdulillah.

Tibalah giliran saya didiagnosa. Terapis menanyakan keluhan saya. Sebenarnya saya tidak punya riwayat penyakit tertentu, cuma penasaran saja dengan yang namanya bekam. Akhirnya saya menuturkan kadang-kadang suka pegel di tengah telapak kaki jika sudah kebanyakan berdiri atau jalan. Eh, ustadnya sempat menanyakan mau diruqyah sekalian. Saya cuma nyengir, menolak halus dengan alasan tak punya cukup waktu. Padahal masih takut dengan peristiwa tadi 🙂

Setelah proses pembayaran (Rp. 70rb), saya menunggu untuk dipanggil. Sebagai informasi, bekam pasti dilakukan oleh terapis yang berpengalaman dan tersedia ruang bagi pasien laki dan perempuan. Layanannya juga dilakukan dengan alat yang steril (jarum baru) dan terapis dengan gender yang sama sesuai pasien.

Nah, the show start! Mulai deh prosesi bekam dimulai. Ada pengolesan minyak, lalu permukaan kulit ditembak semacam tabung untuk memvakumkan udara, lalu dicetek-cetek dengan pulpen yang berjarum. Tidak sakit, mungkin karena saya sangking amazednya melihat dari permukaan kaki saya mulai mengeluarkan titik darah. Prosesnya lebih kurang 20-30 menit. Ada bagian yang mengucurkan darah dengan deras (seperti di bagian dekat tumit), namun ada pula yang hanya beberapa tetes.  sepertinya tergantung jumlah darah kotor yang berkumpul di pembuluh tersebut.

Sumber Foto: eliman-international.com

Akhirnya, proses bekam saya selesai juga. Alhamdulillah, rasanya lebih baik. Setelah diperhatikan, tabung-tabung bekam memang meninggalkan bekas di kulit seperti lingkaran yang memerah. Ditambah lagi dengan bekas jarum-jarumnya. Tapi setelah 3 hari, bekas tersebut hilang dengan sendirinya.

Begitulah #CeritaPertama saya dibekam. nantikan #CeritaPertama edisi selanjutnya. Salam!

Read Full Post »

Untuk anak yang tinggal di Banda Aceh dan sekitarnya, belajar mengendarai sepeda motor serasa wajib hukumnya. Karena naik kereta adalah transportasi yang lazim, murah dan terjangkau oleh mayoritas warga Banda. Tak heran, jalur angkotan umum yang terbatas dan tidak menjangkau jalan-jalan utama, menyebabkan anak-anak ini dikarbit untuk cepat besar. Dan salah satu tanda eksistensi “jadi orang besar” adalah bisa mengendarai motor.

Tahun 1998 belum dikenal motor matic. Kalau mau latihan mengendarai motor, pilihannya jatuh ke honda, sebuh merek motor yang menjadi trendmark saat itu. Kisah saya mulai bawa honda yaitu di kelas 6 MIN (setingkat SD). Sebuah masa yang dianggap cukup layak untuk belajar dengan pertimbangan minimal kaki sudah mampu menapak di tanah (walaupun masih jinjit) dan mampu mengimbangi massa honda.

Tak perlu lama, honda ibu saya jadi alat uji cobanya. Tempat berlatih di Jalan Bahtera Kampung Mulia. Cukup dekat dengan rumah dan lokasi jalan ini strategis sekali karena merupakan jalan buntu yang diapit oleh 2 lapangan kosong. Pelatihnya yaitu abang saya sendiri, Reza. Ok, sempurna kan?

Sore lepas hujan saya tetap bersemangat berlatih. Toh saya pikir bawa honda kan gitu-gitu aja ya? Asal bisa diawalnya, mengerti cara oper gigi, lancarlah…Basicnya sih harus biasa bawa sepeda dulu. Nah, minimal saya sudah akrablah dengan part honda. Rutinitas “memanaskan” honda di pagi hari membuat saya tidak grogi untuk menstart mesin, mengencangkan gas dll.

sumber gambar: esq-news.com

Setelah pengantar teori mengendarai motor dengan baik dan benar dari abang saya, maka it’s time to practise! Medan latihan yang mulus dan lurus membuat saya lancar jaya mengedarai motor. Dua tiga kali bolak-balik kepercayaan diri saya meningkat.

Wah, walaupun baru 1 kali latihan saya sudah tahap bisa. Mungkin ga lama lagi bisa tahap mahir dan bisa dipercaya ke jalan lalu lintas ramai. Yes..yes!

Tak disangka, saat ingin baik arah saya mulai kewalahan. Gas saya pelankan dan rem diinjak dalam-dalam. Namun mendadak saya hilang keseimbangan. Ups, kaki ini mencoba menggapai tanah dan tertatih mencoba jalan sambil berpegangan di stang honda. Bodi honda yang memang berat untuk anak seumuran 12 tahun menjadi beban bagi saya. Abang saya yang mengawasi di ujung jalan berteriak-teriak..mundur dulu!

Nah sayanya bandel. Menganggap sudut putaran sudah sempurna dan space untuk berbelok 360 derajat cukup lebar. Tentulah prediksi saya salah besar. karena roda depan sudah mulai keperosok ke selokan besar yang penuh air sisa hujan besar. Tekstur tanah yang gembur membuat kaki saya terbenam dalam lumpur. Mudah saja, kaki yang tidak kuat menapak sekaligus tidak kuat menopang bodi honda membuat saya kewalahan. Dalam beberapa detik, terjun bebaslah honda dan si anak bandel itu ke dalam parit panjang berair coklat. Hiks…

“Baaaaaaaaang…saya cuma bisa menjerit.

Akhirnya abang saya datang, menarik saya keluar dari parit yang kira-kira sedalam lutut orang dewasa. Honda yang ikutan nyemplung sudah berlepotan lumpur. Sambil menahan sakit di kaki, saya menepi di atas jalan aspal. ternyata tak ada yang luka, cuma beset-best saja di kulit. Alhamdulillah…

Setelah memastikan honda dalam keadaan baik-baik saja, kami pun pulang. pelajaran bawa dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan. Abang saya cuma ngomel sedikit saja. hehe..untung saja.

Sampai akhirnya, saya masih tetap mengendarai motor. Apalagi sejak SIM C di kantong. Tapi tenang saja, saya tipe rider yang baik dan benar lho. Pakai helm, taat peraturan lalu lintas dan tidak  kebut-kebutan 🙂

Mudah-mudahan saya dapat memperdalam teknik riding motor bike saya di Vietnam 😀

Ini #CeritaPertama saya mengendarai sepeda motor! Nantikan edisi #CeritaPertama berikutnya

Read Full Post »

Alhamdulillah, Pemerintah Aceh kembali menawarkan peluang bantuan biaya pendidikan bagi masyarakat Aceh yang sedang menyelesaikan pendidikan S1, S2 dan S3 dalam dan luar negeri.
Info detail, silahkan ke TKP.
Semoga berhasil.
Pendaftaran sejak Senin, 11 Juli 2011 dan ditutup tanggal 9 September 2011.

Read Full Post »