Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2011

Apa definisi artis bagi seorang pelajar MTsN (setingkat SMP) kelas 3? Mungkin sosok yang sering tampil di TV atau media massa lainnya. Namun buat saya, ngefans artis terparah cukuplah hanya kepada boyband asal Irlandia, Westlife. Setelah itu, semuanya berasa biasa saja.

Tahun 2000, segala sesuatu yang namanya keramaian, acara akbar selalu mendatangkan antusiasme. Walaupun acara tersebut berlangsung di MAN Banda Aceh, namun anak MTsN tetap bersuka cita menyaksikan acara tersebut. Maklumlah, MTsN dan MAN I Banda Aceh masih satu komplek.

Buat saya, tokoh-tokoh yang datang itu adalah spesial. Saya mengenali tokoh-tokoh itu, mengagumi karya dan tulisan mereka.  Even itu bertajuk ”Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya” yang disponsori oleh Majalah sastra Horison dan Ford Foundation. Bahkan H-2 saya sudah punya siasat jitu. Saya harus bisa bertemu dengan mereka!

Anak-anak kelas unggul III-1 siang itu kurang bersemangat mengikuti les sore. Entah sudah bosan belajar atau memang lagi sedang kurang motivasi. Wali kelas, Pak Zul bijak dapat menangkap tanda-tanda tersebut. Saat bertanya kepada para siswa, saya langsung memohon agar hari ini libur saja. Alasannya kami ingin menonton acara SBSB di MAN. Dan beliau mengabulkan. Singkat kata saya langsung menghambur ke pekarangan MAN.

Wah, sudah ramai. Dengan konsep acara outdoor, kursi-kursi dipenuhi oleh siswa MAN dan posisi saya sebagai bocah sekolah sebelah cuma bisa berdiri di sekitar panggung. Dua buku sudah saya pegang erat. Saya yakin pengarangnya pasti datang. Beliau muslimah yang berdarah Aceh, aktif menulis cerpen di Majalah Annida, sangat inspiratif. Saya yang sudah membaca majalah remaja islami sejak kelas I MTsN tentu saja penasaran dengan sosok beliau. Yup, benar sekali. Beliau adalah Helvy Tiana Rosa (HTR).

Helvy Tiana Rosa

Waktu berjalan lambat. Belum ada tanda-tanda pembicara datang. Jadilah saya duduk beralas tanah di tepi taman. Posisi saya strategis,  hanya 2 m dari tangga panggung. Ini membuat saya gampang menatap panggung tanpa harus berdiri dan berjinjit. Tiba-tiba, suasana semarak dan penonton riuh sekali. Tak lama iring-iringan pembicara muncul. Mata saya sibuk mencari sosok yang saya maksud. Waahhh, itu dia yang baju pink. Sreett, pas sekali melintas di depan saya. Sangking senangnya, saya freeze seketika.

Memang begitulah perasaan orang (fans) yang membuncah saat bertemu pujaannya. Memang sih ga sampai histeris segala :-). Namun, jika pembicara yang hadir sekaliber Helvy TR, Rendra, Pak Taufik Ismail, isn’t that amazing? Nah, begitulah saya. Khusyuk mendengar penjelasan tentang sastra dari para pembicara. Terlepas saya yang belum mengerti benar dengan apa yang mereka perbincangkan. Tidak masalah! Yang penting rame.

Rangkaian acara mulai berjalan dan tanpa terasa jam 17.15 sudah menuju akhir acara. Saya mulai bersiap. Seperti tak mau kehilangan momen, saya mulai beringsut ke sisi kiri panggung. Tepat saat pembacaan doa dimulai, saya mulai mengacungkan novel Ketika Mas Gagah Pergi. Pas sekali Mbak Helvy duduk paling ujung.

“Sebentar ya dek. Nanti saya tanda tangan”, ucapnya sambil tersenyum.

Pas selesai doa, pas novel saya berpindah tangan. Dalam waktu singkat, novel itu sudah dibubuhi tanda love dan huruf HTR. Wah, senangnya saya waktu itu. Berbunga-bunga. Novel Mas gagah adalah novel pertama yang bela-belain saya beli karena ceritanya yang te-o-pe-be-ge-te. Ibrah ceritanya sampai membuat saya terharu. Bahkan mama saya juga ikut menangis saat membaca Mas Gagah. Nah, tentu saya berasa sangat beruntung buku itu langsung ditanda tangani oleh Mbak Helvy.

Sumber foto: goodread.com

Tak lama, mulai banyak yang mengikuti apa yang saya lakukan. Ada yang bawa buku dan minta ditanda tangan. Tangga panggung dipenuhi oleh massa siswa yang sangat antusias ingin bersalaman, berfoto bersama dsb. Akhirnya panitia terpaksa membentuk formasi mengamankan para pembicara. Pembicara meninggalkan panggung dan banyak siswa MAN yang kecewa karena tak tercapai hasratnya.

Sore muai beranjak maghrib. Saat dijemput di sekolah saya pun bercerita kepada ibu saya tentang pengalaman tadi. Sembari pulang ke rumah, kami sekeluarga sepakat bahwa malam ini akan makan di restoran. Ini lazim kami lakukan tiap malam minggu. Tak perlu lama, meluncurlah kami sekeluarga ke Mie Razali. Kedai mie aceh yang fenomenal.

Mie Razali

Namanya juga rumah makan..ya ramai dengan orang-orang. Setelah menempati tempat duduk, mata saya tertumbuk pada sekelompok orang yang sedang makan mie juga. And guess who? Itu adalah rombongan sastrawan tadi. Wuss..kali ini mereka lebih ramai dan agaknya full team, termasuk Mas Emha Ainun dan Mbak Novia Kolopaking. Alhamdulillah senang sekali rasanya.

Setelah melihat situasi yang mendukung, saya menghampiri dan berkenalan. Awalnya sih dimediatori ibu saya. Sambutan mereka sangat ramah dan kami berbincang akrab. Dan bahkan saya bisa mendapatkan tanda tangan Pak Taufik Ismail, WS Rendra dll komplit..plit. Wah, special edition! Kalau rejeki memang ga lari kemana ya?

Kini, novel-novel itu sudah hilang dibawa tsunami. Namun memoir itu tidak akan pernah hilang.

Itulah #CeritaPertama saya bertemu artis. Nantikan kisah #CeritaPertama selanjutnya. Salam

Advertisements

Read Full Post »

Binatang apa yang kalian takuti? Cacing? Ular? Cecak? atau ayam?

Saya takut anjing dan tikus. Jika ditelusuri asal muasal ketakutan itu, mungkin dimulai sejak kecil. Walaupun tidak punya pengalaman traumatik, rasanya ingin kabur jika ada 2 makhuk itu minimal radius 5 meter dari saya.

Kalau dipikir-pikir, kasihan juga kepada hewan A dan T itu. Trademark mereka kurang elit. Anjing sering dijadikan kata-kata umpatan kasar bahkan ungkapan ekspresi. Mulai dari kata anjing, anjir, anjrot, dan modifikasi huruf a-n-j-i-n-g lainnya. Statusnya najis berat di dalam agama Islam. Kalaupun ada yang berbakti, paling banter jadi hewan pemburu dan pelacak. Sama halnya seperti tikus. Asosiasi hewan pengerat ini kerap dihubungkan dengan para koruptor, politikus dan profesi yang culas. Tak heran, dalam kehidupan kedua hewan ini dianggap mengganggu dan penyebar penyakit. Rabies dan leptospirosis contohnya.

Tapi nampaknya, saya tidak bisa mengelak bahwa di komplek asrama SMA Mosa banyak  mr. doggy. Kawanan hewan itu bebas berkeliaran dan sempat melonjak populasinya. Malam-malam anjing di Mosa juga suka melolong sendu, membuat suasana menjadi spooky. Siang hari bila lengah sedikit, Mr. doggy leluasa singgah bahkan sempat masuk ke barak. Jika sudah demikian, korvey sama’ barakpun dilakukan. Ritual menyiram lantai barak dengan 7x siraman air suci plus dicampur tanah ini minimal dilakukan 1 kali dalam setahun. Namun, sempat juga Barak Anggrek kecolongan karena teledor dengan pintu depan. Sama’ pun dilakukan lagi. Ga capek sih, karena dilakukan bersama-sama. Asal syaratnya suplai air cukup dan ada irisan waktu luang bersama antara penghuni asrama.

Tapi #CeritaPertama kali ini lebih spektakuler. Lagi-lagi terjadi di Barak Anggrek…

Saya masih kelas I dan itu terjadi di tahun 2001

Lepas makan siang sebelum prosus adalah waktu yang paling enak buat ngaso. Santai-santai sambil dengar walkman plus semilir angin dari kipas. Siang yang sempurna itu mendadak rusak.

“Ehm, bau apa ni? Menyengat kali! celetuk my room mate.

Iya..bau apa ya? Kami sekamar mulai selidik, mana tahu ada cicak terjepit di pintu. Nihil. Ya sudah, investigasi dihentikan karena baunya juga mendadak sirna.

Esoknya kehebohan terjadi. Salah seorang penghuni Anggrek shock berat setelah kembali dari tempat jemuran. Tak disangka, seekor anjing mati di sana. Kontan saja anak-anak penasaran. Semua ingin melihat walau sambil tahan napas. Saya juga ikutan mengintai dari jauh. Takut plus masih tidak percaya kenapa anjing itu mengakhiri hayatnya di sana.

Oh, ternyata mayat anjinglah penyebab aroma bau nan menusuk hidung. Saat itu tidak ada tindakan yang dilakukan selain mengeluh bau..bau..dan bau. Serba salah juga jadinya. Kita (penghuni barak) berharap ada Bang Neh yang mau mengeksekusi (menggubur) tapi tampaknya beliau sibuk.Hari-hari di barak yang harusnya menjadi tempat istirahat berubah 180 derajat menjadi tidak menyenangkan. Terbayang jika angin sepoi berhembus, maka yang paling sengsara duluan adalah kamar 9,8,7. Posisi kamar 2 Anggrek agak bagus, masih agak jauh dari TKP. Ibu asrama (bu Tawir) bahkan sudah menitahkan, tepatnya mengultimatum bahwa mayat anjing itu harus segera dikubur.

Nah lho! Masalahnya siapa yang mau melakukannya? Saya sebenarnya enggan, namun tidak mungkin juga melemparkan ke Barak mawar atau melati. Secara Mr. doggy nya tewas di wilayah teritorial barak Anggrek dan saya, sebagai ketua barak saat itu perlu mengambil tindakan segera. Hufff…

Setelah menggelar rapat intrernal barak, maka langkah eksekusipun dirancang. Petugas misi ini adalah 2 orang perwakilan dari tiap kamar. Alat-alat pendukung mulai dikumpulkan. Waktu pelaksanaan adalah hari Minggu pagi. Deal!

Hingga hari eksekusipun tampaknya tak ada bala bantuan dari kaum Adam :-(. Padahal saya ingat, beberapa abang kelas tiga suka berseuara miring jika melintas depan Barak Anggrek. Ihhh..Barak Anggrek bau! Tapi ya sudahlah, the show must go on.

Setelah menyiapkan diri, rombonganpun ke lokasi. Masya Allah..bangkai anjingnya besar sekali. Kayanya ini induknya. Posisinya masih utuh, kaku dengan mulut sedikit terbuka. Whhaaa..Baunya juga ga nahaaaann..Udah 4  harian bangkainya nganggur di situ. Isi perut saya sudah mulai bergejolak, namun saya berusaha bertahan. Rasa mual, takut bercampur jadi satu. Beberapa anggota tim yang tidak kuat langsung menyingkir. Maka langsung saja langkah pertama, menyiramkan minyak tanah ke mayat itu. Kata Bu Tawir, ini untuk menghilangkan baunya and it works!

Jamila, expert dalam hal cangkul-mencangkul langsung memainkan perannya. Cangkul yang cuma satu menyebabkan hanya Mila sendiri yang mengerjakan. Untungnya gadis ini cukup terlatih. Dalam sekejap lubang kira-kira ukuran 1m x 60 cm dengan kedalaman 70 cm sudah selesai.

Dan ini yang paling heboh. Acara menggiring bangkai itu ke dalam lubang. Kami menggunakan ranting-ranting pohon yang kokoh, mulai menyodok dari arah samping. Bayangkan, saat itu posisi saya hanya 1 m dari bangkai. Andai itu masih anjing hidup pasti saya tidak akan mau.

Bangkai anjingnya cukup berat, agak lama baru bergeser. Stik kayu kami ayunkan terus dengan semangat. Sedikit demi sedikit bangkai sudah mendekati lubang. Hup, 1 m..60 cm lagi..30 cm..Ayo terus kawan-kawan! Saya menyemangati tim. Bak menggiring bola ke gawang dan akhirnya..gol! Bangkainya masuk sempurna ke lubang. Huff, legalah kami semua. Mila pun melakukan tahap finishing dengan menimbun lubang hingga padat. Alhamdulillah, misi selesai!

Selesai dari prosesi tadi, saya belajar beberapa hal. 1. kematian akan menimpa semua makhluk hidup, dimanapun ia berada. 2. Pelaksanaan pemakaman harus diselenggarakan dengan cara baik dan secepatnya demi kesehatan (jika kasusnya hewan). 3. Saya menaklukkan rasa takut saya kepada anjing (walaupun sudah mati) 🙂

Itulah #CeritaPertama saya menggurusi pemakaman seekor makhluk Allah. Sampai jumpa di edisi #CeritaPertama berikutnya. Salam!

Imagenya disengajakan anjing lucu 🙂

Read Full Post »