Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2011

Di belakang rumah saya sengaja ditanami 6 pohon. Saya menyebutnya pohon pocong ­čśÇ Hehe…soalnya bentuknya panjang menyerupai pocong. Pohon-pohon itu ditanam oleh bapak saya sejak 3 tahun yang lalu. Alasannya sederhana, untuk penghijauan namun tidak merusak bangunan rumah. Ada yang bisa memberitahukan apa nama pohon ini?

Pohon Pocong

Jika teman-teman jeli, terlihat sesuatu yang signifikan dari ke-6 pohon itu. Ya, tinggi pohon yang paling kanan melampaui saudara-saudaranya. Pocong paling imut saja 1,5 kali dari tinggi badan saya (165 cm). Apalagi pocong yang bongsor itu. Padahal mereka ditaman bersamaan lho…

Saya pun tertarik melakukan pengamatan lebih lanjut. Kali ini terhadap diameter pohon. Sampel pohon adalah si bongsor 1 (paling kanan) dan si bongsor 2 (kedua dari kanan). Saya menggunakan ranting pohon sebagai pengganti penggaris. Dan hasilnya…

diameter bongsor-1

bandingkan..

diameter bongsor-2

Sedikit mengingat pelajaran biologi, tumbuhan adalah makhluk hidup yang geraknya terbatas. Kelangsungan hidupnya sangat bergantung dari ada tidaknya suplai makanan, hara di sekelilingnya. Apalagi pohon pocong ini berciri-ciri monokotil.

Selama ini pohon pocong itu tersirami alami dari air hujan atau sesekali saya menyiraminya dengan air yang ada di selokan. Observasi di lapangan menguatkan hipotesis saya bahwa pohon pocong itu tumbuh  paling jangkung karena lokasinya yang strategis. Dekat dengan selokan air kotor rumah! Ya wajar saja, mungkin jangkauan akarnya lebih dekat mencapai air dibandingkan saudara-saudaranya. Jadilah pertumbuhannya paling mencolok dibandingkan yang lain.

Tak lama kemudian, saya berpikir. Alangkah kasihannya pohon pocong lainnya. Mereka pasrah berpostur pendek, kurang disiram. Namun yang namanya makhluk Allah yang satu ini, tidak bisa demo kepada pemiliknya, apalagi mengajukan “putus hubungan” jadi pohon, kecuali sampai ajalnya tiba dari Yang Maha Kuasa.

Lain halnya dengan manusia. Manusia diilhami dengan akal pikiran, kemampuan untuk memilih alat indera dan akal (Surat 16:78;  surat 30:8). Karena diberi akal itulah maka manusia harus mempertanggungjawabkan segala keputusannya

Selain itu manusia diciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk (At-tin:4). Tapi begitu dihadapkan pada kondisi hidup yang tidak ideal, mereka mengeluh seolah-olah insan termalang di dunia. Padahal peluang untuk hijrah dan berubah itu selalu ada kan? Asal masih ada nyawa di badan dan fungsi otak masih bekerja..semuanya bisa dilakukan. Anehnya, semua hal dikeluhkan. Cuaca panaslah, lagi bokeklah, galau, bete, kondisi orang lain dan emosi-emosi negatif lainnya. Kurang bersabar dan syukur kali ya?

Maka tak salah apa yang tertera dalam Al-Quran bahwa manusia sudah bawaan badannya suka mengeluh (Surat 70:20). Upss…Am I one of that person?

Hari ini saya tafakur alam dari pohon pocong. Tentang bersyukur dan bersabar.

Advertisements

Read Full Post »