Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘jalan-jalan’ Category

Alhamdulillah,  Sabtu 25 Agustus 2012 menjadi hari yang penuh rahmat. Seharian boleh dibilang, saya silaturahim terus di 2 kota yang berbeda. Bukan hanya kental dengan suasana Idul Fitri, tetapi juga atas nama “sensasi sebuah pengalaman”. Tiket Schoeneswochende (akhir pekan), 2 kota  yang cantik, undangan Grillparty dan secangkir persaudaraan yang hangat. Sempurna, bukan?

Atas nama “Asupan Ruhani”

Awalnya tak ada niat ke Duisburg. Tapi keputusan untuk ke sana berlangsung sangat singkat. Kurang dari 30 menit saja. Bermula dari kunjungan Hesty, teman ITB 2004 yang kini menempuh studi doktoral di Bochum, ke asrama CDC Dortmund. Ia bermaksud menjemput Rachmi, yang juga calon penghuni Bochum, ke kajian Muslimah Ruhr. Berhubung nanti sore ada agenda di Köln, tak ada salahnya tiket akhir pekan dipakai untuk 2 kota sekaligus. Saya pun segera bergegas. Maklum, sudah lama tidak mengkhususkan diri hadir ke pengajian, karena hidup nomaden dalam setahun terakhir 😦

Kajian bulanan ini rutin dilaksanakan oleh komunitas Muslimah Indonesia yang berdiam di daerah Ruhr (Dortmund, Bochum, Dusseldorf, dll). Lokasinya di rumah salah satu keluarga Indonesia di Duisburg, tepatnya kediaman keluarga Bu Nuning. Butuh 1 jam dari Dortmund menuju ke lokasi. Setiba di sana, acara sudah dimulai dengan tilawah. Masing-masing secara bergiliran membaca surat Al-Ma’un. Saya taksir sekitar 30 orang lebih hadir. Materi taklimkali ini  ialah tentang silaturrahim dan hubungan sesama manusia. Selaku pemateri adalah Mbak Marina, mahasiswa Statistik di TU Dortmund. Beliau menyampaikan pentingnya memaafkan kesalahan, menyambung hubungan silaturrahim sesama muslim. Dilanjutkan dengan sesi diskusi yang sangat hangat.

Bagaimana tidak hangat, jika ibu-ibu semua bersemangat mengajukan pertanyaan dan saling menimpali? Seru dan ramai sekali 🙂 Antusiasme itu saya nilai positif, karena banyak kasus yang sering terjadi dalam kehidapan sehari-hari dibahas di pengajian dengan pendekatan Islam. Seperti bagaimana memaafkan seseorang di masa silam, bagaimana mengkritik akhlak buruk saudara yang lebih tua usianya, dll.  Alhasil jam 13 pengajian usai dan ditutup secara resmi dengan foto bersama.

Kajian Muslimah Ruhr (doc. NH Susanty, 2012)

Ohya, tak disangka saya bertemu dengan alumni ITB juga, teh Ine BI angk.95. Beliau  salah satu pengrus pengajian ini.  Ada juga Zata ITS06 yang ada mutual friend dengan adik kelas di Tambang, Kak Mela asal Lhokseumawe, mbak-mbak, teteh-teteh, ibu-ibu, tante-tante yang baik, cantik,dan  ramah. Senang rasanya punya keluarga baru…

Laiknya acara ngumpul ala Indonesia, tak lengkap rasanya jika tanpa acara makan bersama. Alhamdulillah, kue, buah segar, lontong, soto, nasi buriani siap tersaji. Asli, cita rasa Indonesia. Sesuatu banget ya di siang yang rintik-rintik 🙂

Terpesona di Köln

Saatnya melanjutkan hari. Sesuai agenda, saya akan ke Köln guna menghadiri acara Halal bil halal mahasiswa Aceh NRW. Atas undangan Kak Nova, kami ber-7 penerima beasiswa asal Aceh mensambangi salah satu kota tua di NRW. Kali ini temanya Grillparty alias barbeque. Cocok sekali diadakan di Sommer karena alam yang bersahabat dan cuaca yang mendukung untuk beraktifitas di luar rumah. Berhubungan baru pertama kali ke Köln, ada rasa semangat penjelajahan muncul 🙂

Dan memang benar. Setiba di Köln Hbf jam 16, saya menyadari arus manusianya sangat ramai. Hilir mudik, jangan sampai meleng karena nanti saya bisa berpisah dari rekan-rekan mahasiswa Aceh. Pengumuman di stasiunpun dalam 3 bahasa, yaitu Jerman, Inggris dan Perancis. Wajar saja, toh ini kota besar. Begitu keluar dari stasiun, bangunan klasik abad pertengahan hadir di depan mata. Dom!

Dom (doc. Umam, 2012)

Butuh setengah jam untuk mencari dimana posisi stasiun U-Bahn (kereta bawah tanah). Ternyata stasiun untuk arah yang kami tuju, ada di luar Hbf. Maklum, masih cupu  untuk soal transportasi di kota besar :P. Kami butuh 2 kali ganti kereta untuk tiba di lokasi. Saat berada di halte, kami berkenalan dengan sekitar 7 orang, rombongan peserta seminar asa UGM. Lucunya, saat menunggu masing-masing langsung punya insting bahwa  kami dan mereka adalah orang Indonesia 🙂

Es ist Rhein!

Setelah turun dari kereta, kami harus melanjutkan lagi perjalanan dengan berjalan kaki. Begitu tampak pemandangan sungai, jembatan, sisi tepi sungai, rerumputan dan aktivitas orang-orang, sontak kami melangkah dengan semangat. Pemandangannya indah dan damai. Ternyata kami sudah berada di dekat Hafen Köln Deutz dan di tepi sungai Rhein…Pantas saja lokasinya sangat difavoritkan untuk refreshing. Ada yang pesta barbeque, olah raga, jalan-jalan, main layangan, hingga sesi pemotretan wedding 🙂

Tepi Sungai Rhein (doc. Umam, 2012)

Anak-anak IMAN sudah berkumpul dan mulai menset pemanggangan. Butuh waktu 30 menit lebih untuk membuat “arang”nya menyala. Sebenarnya bukan arang dari kelapa, tapi sejenis batubara khusus untuk grillen. Karena sistemnya potluck, maka masing-masing mengeluarkan bahan. Ada yang bawa jus, keripik, daging ayam, daging sapi, saus, roti, paprika, dll.

Trio “3 seribu” (Doc. Marlina, 2012)

Selagi para lelaki menyiapkan perapian, saya dan beberapa teman mengobrol ringan plus ngemil. Salah satu tema pembicaraan kami yaitu tentang adaptasi kuliah dan manajemen waktu di Jerman. Ceile, gaya kali pun :). Selaku narasumber Kak Nova. Dari beliau, kami mendapatkan petuah antara lain: jangan menunda buat tugas, tetap gaul 🙂

Matahari bersinar cerah, angin sesekali menyapu dingin. Sensasinya sungguh berbeda. Saat berwudhu dari air sungai, lalu shalat Ashar di alam terbuka. Di tepi Rhein pula. Subhanallah…Tak lupa saya tetap jepret sana-sini buat reportase live via BBM kepada kakanda Reza Kamilin tersayang, yang walau jauh di mata tetap dekat di hati 🙂

Bergantian dengan Ai, Mira, saya ikut memanggang ayam, daging steak dan sosis. Tapi diakhir saya mencoba berkreasi dengan sate ceria. Ada kombinasi sosis, paprika, jamur dan bawang bombay. Ceria kan?

Panggang Sate Ceria (Doc. Marlina, 2012)

Beres panggang tahap I, saatnya makan bersama. Steak di dalam brotchen (roti) dan menu lainnya. Yup, namanya juga grillen, ya minus nasi, banyak daging 🙂

Menu Utama (doc. Marlina, 2012)

Enak ya? Apalagi sate cerianya 🙂 Suasana kebersamaannya sangat terasa. Tak hanya kami yang mahasiswa, tapi ikut serta satu keluarga Aceh yang sudah lama menentap di Cologne dan 2 rekan Aceh dari Belanda. Kawan baru lagi, kelurga baru lagi.

Gute Apetit (doc. Marlina, 2012)

Hidup Silaturrahim! Hidup NRW! (doc. Marlina, 2012)

Akhir pekan yang menyenangkan 🙂 ! Terima kasih semuanya…

Senja di Rhein (doc. Marlina, 2012)

Read Full Post »

Alhamdulillah, sudah 3 pekan saya berada di negara dengan julukan der Panzer. Yup, tepatnya 3 Agustus 2012 mulai merasakan hawa Sommer di kota Dortmund, Jerman. Untuk kesekian kalinya, siang yang cerah ini saya dan teman-teman Aceh memutuskan untuk ke daerah Zentrum. Daerah ini adalah zonanya belanja. Toko-toko dengan meriahnya menyambut pembeli dengan tulisan sale, sale dan sale. Aneka produk mulai dari pecah belah, ATK, fashion, restoran, hingga komedi putar untuk anak-anakpun hadir memeriahkan suasana. Tak heran jika kawasan ini sangat ramai dikunjungi dan berpotensi untuk menjadi meeting point, khususnya akhir pekan.

Setelah selesai dengan agenda mendaftar SIM card dari suatu provider hp, kamipun beranjak pulang. Tapi tak lama berselang, ada mobil van besar yang sedang parkir. Ternyata itu adalah mobil Deutsch Rote Kreuz yang sedang melakukan aktivitas Blut spenden atau kegiatan donor darah. Terang saja, saya yang hobi donor darah merasa terpanggil untuk ikut serta :).

Blutspendemobil

Dari kami berlima, hanya saya dan Sayed yang tertarik untuk donor darah. Apalagi ini pertama kalinya bagi kami untuk donor darah di negara lain. Kami pun menghampiri seorang ibu petugas yang stand by di counter depan. Sayangnya beliau tidak cukup mahir berbahasa Inggris dan kamipun belum cukup lancar bahasa Jermannya :). Setelah berpikir, diam..pikir dan diam lagi, akhirnya dengan segenap kemampuan yang ada, saya bertanya:

“Was sollen wir tun, Blut zu spenden?

(apa yang harus kami lakukan untuk donor darah?) Padahal aslinya mau tanya “Apa syarat menjadi pendonor darah? Tapi kalimatnya ribet, ditambah tidak ada perbendaharaan kata yang cukup 🙂

Beliaupun langsung nyerocos..bla..bla..bla..Ngerti? ada, walau sedikit. Intinya si petugas harus bertanya dulu ke rekannya selaku dokter di mobil. Sekalipun penggunaan bahasa Inggris beliau tidak mumpuni, tapi dari bahasa tubuhnya menyiratkan bahwa ia adalah pribadi yang bersahabat. Tak lupa saya sampaikan bahwa saya sudah cukup sering donor darah di negara asal, Indonesia. Selang beberapa saat, ia kembali dan menjelaskan bahwa kami perlu melakukan tes malaria sebelum menjadi pendonor. Sayangnya hasil uji tes tsb baru dapat diketahui setelah 14 hari.

OK, karena sudah terlanjur niat donor darah dan bersedia menjalani tes, maka saya dan Sayedpun mengantri giliran dipanggil ke mobil. Sang petugas berkata bahwa hari ini cukup ramai dan antrean pendonor terus penuh. Wah, antusiasme yang lumayan tinggi! Matahari sudah tidak terlalu terik dan kami menunggu dengan sabar. Tepat pukul 15.45 pintu van terbuka, saya masuk sedangkan Sayed masih di luar menunggu antrian. Ohya, untungnya ibu petugas sudah mengatakan bahwa dokter yang akan memeriksa bisa berbahasa Inggris.

Dari pengamatan awal, dokter ini seusia saya. Sedangkan interior dalam mobil cukup apik. Ada ruang pendaftaran dan data, pemeriksaan, dan ruang donor darah. Saat itu ada 2 orang yang sedang menunggu antrian dan 4 orang yang sedang disedot darah 🙂

Setelah menyapa, saya sampaikan bahwa “Ich kann ein bisschen Deutsch sprechen” alias saya cuma bisa bahasa Jerman little-little 🙂. Ia pun meminta saya memperlihatkan pasport dan mencatat data diri. Saya sih sudah semangat 45 menjalani tes, sudah ngebet donor euy!

Saat mengamati paspor, terjalinlah percakapan antara saya dan dokter.

Dokter1: “Sudah berapa lama di Jerman?

Saya : “3 pekan. Tapi saya di Dortmund selama 2 bulan saja untuk keperluan les bahasa (Sprachkurs). Selanjutnya studi di Goettingen.

Kemudian dia berbicara kepada rekannya, seorang bapak paruh baya, apakah donor ini bisa tetap berlanjut di Goettingen.

Dokter2: Berapa lama kamu akan tinggal di Jerman?

Saya: 2 tahun

Dokter2: Kamu harus sudah tinggal di sini 4 tahun, lalu menjalani tes malaria. Baru setelah itu bisa mendonorkan darah.

Saya: Whaatt?! (dalam hati)

Setelah itu tak perlu waktu lama, saya keluar sambil berpikir. Kok bisa ya? Haha, ternyata ribet ya untuk urusan donor darah di negeri orang! Saya tidak tahu persis apakah memang sudah seperti itu aturannya? 4 tahun gitu loohhh…Ya, mungkin saja pemerintah Jerman menerapkan standar keamanan yang sangat tinggi dalam hal ini. Apalagi begitu tahu calon pendonor dari Indonesia, negara yang masih bergelut dengan malaria dan penyakit tropik lainnya.

Sebelum meninggalkan lokasi, saya pamit ke ibu petugas yang ramah itu dan menjelaskan bahwa sepertinyanya selama studi di Jerman, saya tidak ada peluang untuk jadi pendonor. “Ahh, sayang sekali..Tapi kamu bagus sekali, sudah bisa berkomunikasi dengan saya, pakai bahasa Jerman pula! Hehe..saya dan Sayed senyum mesem, nyengir. Untung saja beliau tidak sempat tahu, bahwa kami sudah 8 bulan lebih belajar Jerman tapi kemampuan sprechen/speaking masih amburadul.

Ya, dan alles gute. Tschϋss!

note: Saya tetap penasaran,apakah memang harus 4 tahun? Semoga tidak:)

Read Full Post »

Tidak menyia-nyiakan kesempatan! Sepertinya konsep ini yang berlaku bagi sekelompok anak muda seperti saya dan teman-teman, alumni resimen mahasiswa Batalyon I/ITB. Jika saja ada 5 orang atau lebih berkumpul di Bandung, maka langsung saja terbetik ide untuk berkegiatan bersama. Mulai dari yang sederhana, seperti makan bersama, diskusi, silaturahim ke alumni senior hingga kegiatan yang hari ini saya lakukan. Yup, tracking!

Sudah lama hasrat berpetualang memanggil-manggil. Jadi rasanya saya sudah lama tidak berjalan kaki sejauh masa-masa latrak Diksar menwa. Sebulan yang lalu saya kembali absen ke Rinjani, sedangkan misi tsb dilaksanakan oleh Reni, Galuh dan Surya.  Dan hari ini saya beserta 6 orang teman lainnya memutuskan untuk jalan ke Punclut, Bandung Utara. Mereka adalah Febi, Anggun, Enrico (ekek 39), Reni, Surya, Galuh (ekek 41) dan pak Nomo (senior). Lokasi yang tak jauh dari kampus ITB. Ide tercetus kemarin malam, sedikit koordinasi, laksanakan!

Rute dari ITB ke terminal Dago awalnya mau naik angkot. Tapi kami merasa lebih seru jika jalan kaki saja. Alhasil 30 menit kami sudah tiba di terminal Dago dan siap memulai perjalanan.

Pertama-tama…turunan tajam. Enak dong!

Lalu tanjakan melingkar..napas mulai pendek..huf..huf..Kabut yang menyelimuti mulai samar berganti siraman matahari pagi yang hangat. Tak hanya kami saja yang tracking, namun banyak pula orang-orang lain. Terutama para biker (sepeda) yang melintas bergerombolan.

Supaya tetap semangat, foto-foto dulu kakak 😀

Pose 7

Pemandangan di sekitar cukup asri walau sudah ada pembangunan di sana-sini. Jalanan terus menanjak. Kami mulai berpencar. Pak Nomo, Surya dan Galuh memimpin di jalur depan. Saya di tengah. Sedangkan Rico dan Reni mulai kepayahan. Maklum reni baru saja pulih dari typhus, namun bela-belain tetap ikut. Sampai-sampai (ex) Komandan Anggun turun tangan untuk menyemangati anggota. Ayoooo..maju terus!

Ayo..maju terus!

Jalan datar jadi pit stop untuk mengatur napas dan menetralisir detak jantung. Namun itu tak lama kawan karena tanjakan selanjutnya menanti. Rasa pegal menjalar di kaki. Tapi tak ada istilah berhenti…lanjut!

Saya menatap ke belakang. Dua rekan saya, Reni dan Rico akhirnya memutuskan nyambung pakai angkot hingga ke atas. Tak apalah, jangan memaksakan kondisi. Sayangnya saya luput menjepret mereka yang melaju dengan angkot dago 🙂

Di sisa-sisa tanjakan, saya mulai kepayahan juga. saya memilih untuk jalan pelan, berhenti 5 detik, ambil napas dan melangkah lagi. Hehe..payah ya? Maklum sudah lama tidak latihan fisik secara rutin. dan tralaaaaa… 10 langkah akhirnya sampai juga di jalanan datar.

Phiuuufff…rehat dulu. Pasukan bertujuh sudah komplet. Baru setelah itu kami mencari saung untuk makan pagi. Ternyata, kami butuh 2 jam untuk tiba di Punclut.

Kalau bicara soal kuliner, deretan saung sudah menanti. Makanan khas sunda dan surabi. Menu-menu yang ditawarkan mulai dari ayam, ikan, pepes, tahu, tempe, tutug (keong), oncom dan banyak lagi. Akhirnya kami merapat ke sebuah saung. Suasananya ramai..berarti makanan dan servisnya enak.

Semerbak baunya

Walaupun tidak dapat tempat yang pojok, tak mengurangi kenikmatan sarapan. Apalagi untuk Reni yang langsung ditawari mencoba tutug. Disajikan dalam kuah rebus dan bumbu-bumbu, cara makan keong ini bisa menggunakan tusuk gigi untuk mencapai dagingnya. Atau bisa juga dihirup. Sruluuup…

Menu beras merah dan lauk pauk tersaji. Lalapan dan sambel pun tak ketinggalan. Pasukan 7 ini pun makan dengan lahapnya. Kesegaran kelapa muda membuat segalanya menjadi komplet. Biar seru, saya kembali jepret-jepret lagi dan meminta teman untuk update status. Hehe…penting kan? 😀

Rico beraksi!

Lepas santap dan berbincang-bincang, saatnya melanjutkan kembali perjalanan. Kali ini kembali jalan kaki. tenang saja, jalur pulang adalah menurun melewati pasar kaget Punclut-Ciumbeuluit. Dan persis! Hari Minggu pedagang, pembeli, orang yang lalu lalang sangat banyak. Jalanan yang 2 arah terkadang membuat para pengendara kendaraan harus mengantri sangking ramainya orang.

Ramainya orang-orang

Saya cuma cuci mata saja. barang-barang yang didagangkan adalah sayur, buah, jajanan pasar, aksesoris, barang pecah belah, dll. Seperti Gasibu mini saja. Uniknya per 10 meter ada band lokal yang sedang tampil. Mereka terus bernyanyi dengan sound system seadanya, statis di tempat dan di depan mereka terdapat kotak saweran. Mengharap rupiah orang-orang mampir di kotak tersebut.

Dagang sayur

Wah, sangking kecilnya jalan, sudah dipenuhi penjual plus orang yang lalu lalang. Praktis kecepatan jalanpun menyesuaikan. Akhirnya pukul 11 kami mencapai jalan utama Ciumbeluit.

Perjalanan masih diteruskan dengan jalan kaki. Lagi-lagi karena jalanannya menurun. Cuaca pun mendukung. Hangat, tidak panas. Tanpa terasa sudah memasuki simpang Gandok dan mural Siliwangi. Lihatlah..masih segar bugar semua kan?

Tetap seger, semangat!

Alhasil, hari ini 4 jam untuk jalan kaki dengan sedikit istirahat. Luar biasa deh! Spontan dan menyenangkan! Bravo untuk Yon I/ITB! Semoga tetap sehat dan kompak.

Read Full Post »

Menikmati sore yang menyenangkan adalah pilihan semua orang. Setelah seharian berkutat dengan bermacam aktivitas maka bersantai, mengobrol ditemani kudapan ringan apalagi ditambah dengan suasana yang mendukung pasti tidak akan Anda sia-siakan. Salah satunya berada di suatu kafe di seputaran Teuku Umar Banda Aceh.

Canai Mamak

Warung Canai Mamak Kuala Lumpur. Di situlah saya menghabiskan sore hari itu. Warung yang mulai dipenuhi pengunjung sejak lepas ashar (pukul 17.00) ini memang didominasi oleh remaja dan anak muda. Satu-satu terlihat juga para PNS yang sekedar datang dan take away pesanan. Suasananya mendukung untuk bersantai. Bisa duduk di dalam ruko atau outdoor sambil menikmati pemandangan jalan raya.

Suasana indoor Canai Mamak

Dari namanya saja, orang sudah menduga-duga, apakah warung ini berasal dari Malaysia? Ternyata pemiliknya adalah seorang Aceh yang mengawali usaha ini di Malaysia lalu kemudian membuka usaha yang sama di Banda Aceh. Oh begitu rupanya…

Menu utama Canai Mamak jelaslah roti canai. Roti canainya bukan versi yang sudah jadi, tapi dibentuk dari adonan tepung dan “dilempar-lempar” atraksi chef di penggorengan. Barulah canai dibentuk dengan terlebih dahulu diisi dengan aneka rasa. Favorit saya adalah canai aneka rasa. Satu porsi dengan 5 potong canai berasa coklat, srikaya, dll. Ini paket hemat dibandrol Rp.5000. Sedangkan untuk yang special ada canai rasa durian. Hmmm…pasti lezat.

Canai Isi Srikaya

Interiornya cukup apik. Pengunjung juga bisa menyaksikan aktivitas chef di dapur meracik teh tarik, membuat canai dll karena ada kolom terbuka yang langsung menghadap ke pengunjung. Selain menu-menu yang lezat dan ramah di kantong, pengunjung tetap bisa online. Wajar saja, hampir semua café di Banda Aceh seperti wajib hukumnya untuk menyediakan layanan wifi sebagai salah satu daya tarik.

Hal yang khas dari warung ini adalah para pramusajinya. Mereka berseragam baju kurung layaknya gadis-gadis melayu. Corak kembang-kembang dengan warna mencolok adalah kostumnya. Mereka cukup terlatih dengan membawa nampan dan melayani para tamu terlebih saat peak hour.

Pramusaji berbaju kurung

Jadi, santai sore…sedap, hemat? Bolehlah dicoba Canai Mamak

Read Full Post »

Kalau perut sudah krucuk-krucuk rasa lapar, pasti ingin makankan? Namun bukan nasi, bukan pula cemilan yang ringan. Apa ya jenis kuliner yang “ringan namun nampol”? Daripada pusing, mengapa tak coba mie kocok!

Namanya Mie Kocok Si Doel. Apakah ini kedai mi punyanya si Doel anak betawi?Jangan tanya saya ya…karena asal muasal nama ini ngga nyambung banget dengan lokasinya. Kalau kamu menebak tempatnya di Jakarta dan sekitarnya, maka ente salah besar..hehe. Mie kocok Si Doel adalah salah satu kedai mie kocok di Kota Banda Aceh. Letaknya pas di Jl. Diponegoro pusat kota Banda Aceh, hanya berjarak 100m dari mesjid Raya Baiturrahman. Tak ayal, warung ini pun ramai dikunjungi mulai jam 11 hingga sore. Namun jangan coba-coba makan di waktu menjelang Zuhur (atau waktu shalat) khususya saat shalat Jumat karena akan dirazia oleh aparat perempuan Wilayatul Hisbah. Tenang, peraturan yang terakhir cuma berlaku bagi laki-laki kok…

Mie Kocok Si Doel

Namanya juga warung mie kocok, maka menu spesialnya adalah mie kocok dengan kaldu sapi. Ditambah dengan daging sapi cincang. Ya buat yang vegetarian, sorry to say..Mienya enak lho…mienya bukan mie telor yang keriting-keriting itu, melainkan mie kuning panjang. Dengan irisan seledri, siraman kaldu panas, mie kocok siap disantap. Kalau mau enak, boleh ditambah acar bawang, kerupuk, kecap, cabe, telur rebus atau perkedel kentang. Yummy…

Mie Kocok Si Doel

Tambahan untuk santap Mie Kocok

Buat yang mau pesan menu lain juga tersedia bakso sapi. Untuk minuman, saya rekom es campur. Tahu sendirikan bagaimana teriknya kota Banda Aceh? Pasti bawaannya ingin minum minuman dingin. Es campur di Aceh berupa racikan dawet/cendol tepung beras yang warna hijau, biji delima, kacang hijau, cincau hitam dengan santan, gula merah. Semua bahan tersebut bercampur satu ditambah potongan es batu, pas sekali menemani Anda bersantap.

Es Campur

Satu poin lagi di Si Doel yaitu pesannya ga pake lama alias pelayannya bekerja dengan sigap mengantar pesanan konsumen. Apalagi kalau kamu pesannya buaaaaanyak dan bayar 😀 . Tak usah khawatir, di dapurnya, porsi mie sudah tersaji di piring. Jadi, begitu datang pesanan..langsung deh kaldunya dituang.

Siap sedia

Soalnya dari pemantauan saya, yang makan di sini biasanya ibu-ibu yang habis belanja dari Pasar Aceh atau pelajar yang baru pulang sekolah. Benang merahnya..mereka adalah orang yang lapar berat dan tidak suka menunggu lama (termasuk saya 🙂 )

Racikan Es Campur

Kalau untuk hang out, kayanya kurang pas karena tempatnya tidak dirancang untuk itu. Kedainya berupa ruko, kipas angin di langit-langit dan belum ada fasilitas wifi. Ya minimal, untuk makan sepiring mie kocok polos dan es campur Anda cukup keluar kocek 13 ribu. Cukup hematlah…

Mari bersantap!

Read Full Post »

Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta, 25 Oktober 2010 pk.17.00 WIB…

Detik-detik keberangkatan semakin dekat saja…

“Feb, gimana perasaanmu? Tanya Kak Ivan.

Saya cuma tersenyum. “Biasa saja, Kak.

Entahlah, saya merasa biasa saja. Tidak cemas, tidak pula terlalu excited (teringat akan assignment DG yang belum disubmit 😦 ). Kekhawatiran akan bagaimana keadaan ke depan pasti ada… tapi, I have to make up my mind. Dalam hitungan jam, saya sudah akan di negara lain lho! Bukankah hari ini adalah sangat bersejarah? Hari yang menjadi jawaban perjuangan panjang saya dan teman-teman selama 6 bulan terakhir? Ayo Bee, cheer up!

Usai shalat magrib dan makan malam, IPY 2010 mulai berbaris dan mobilisasi barang-barang. Selanjutnya barang di bagasi diurus oleh Kak Ve dan beberapa alumni SII ditemani oleh Caca selaku tour leader contingent. Alhamdulillah, barang aman dan boarding pass Japan Airlines dibagikan. Saya kebagian di seat 52A.

Pak Jimmo dari kemenpora dan Mas Rino mewakili SII memberikan kata-kata sambutan, menyemangati kami, mendoakan agar tiba dengan selamat di Tokyo dan menjalankan misi SSEAYP dengan optimal. Saat berdoa, perasaanku campur aduk. Ini mengingatkanku dulu saat rombongan mahasiswa Aceh kemitraan berangkat menuntut ilmu ke ITB 6 tahun yang lalu.

Wejengan dari Presiden SII

Kami mulai mengantri untuk cek imigrasi. Secara fisik, pasti rombongan IPY sangat mencolok di bandara. Jas warna gelap, sepatu pantofel, embelem garuda di dada, pin MPG, papan nama dan peci bersanding pin garuda yang mengkilap. Berseragam A1, gagah sekali. Bahkan petugas imigrasi yang mengecekpun bertanya, rombongan apa ini, hendak kemana, acara apa dan lain-lain. Tentu saja, saya menjawab dengan sejelas, seringkas dan sebaik mungkin. Duta bangsa, ga boleh malu-maluin kan 🙂

Antri di loket pemeriksaan paspor

Semua IPY 2010 sudah menjalani pemeriksaan. Satu tahap lancar. Saatnya melangkah ke ruang tunggu…

Barisan disiapkan oleh Chandra. Dan aba-aba terdengar lantang…

“IPY 2010, maju jalan!

IN-DO-NE-SIA JAYA! Suara yang membahana, langkah kaki menghentak dan sejak itu the SSEAYP story of  IPY 2010 goes…

Bismillahi tawaqqaltu ‘alallah

Bismillahi majraha wa mursaha…

Tanah air yang tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku tak kulupakan

Engkau ku banggakan

Sayup-sayup…lagu Tanah Air terdengar yang dinyanyikan oleh alumni SII. Disambung dengan cheers korewa omigoto…

Indonesia, kami pergi untuk kembali!

Read Full Post »