Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘kuliner’ Category

Menikmati sore yang menyenangkan adalah pilihan semua orang. Setelah seharian berkutat dengan bermacam aktivitas maka bersantai, mengobrol ditemani kudapan ringan apalagi ditambah dengan suasana yang mendukung pasti tidak akan Anda sia-siakan. Salah satunya berada di suatu kafe di seputaran Teuku Umar Banda Aceh.

Canai Mamak

Warung Canai Mamak Kuala Lumpur. Di situlah saya menghabiskan sore hari itu. Warung yang mulai dipenuhi pengunjung sejak lepas ashar (pukul 17.00) ini memang didominasi oleh remaja dan anak muda. Satu-satu terlihat juga para PNS yang sekedar datang dan take away pesanan. Suasananya mendukung untuk bersantai. Bisa duduk di dalam ruko atau outdoor sambil menikmati pemandangan jalan raya.

Suasana indoor Canai Mamak

Dari namanya saja, orang sudah menduga-duga, apakah warung ini berasal dari Malaysia? Ternyata pemiliknya adalah seorang Aceh yang mengawali usaha ini di Malaysia lalu kemudian membuka usaha yang sama di Banda Aceh. Oh begitu rupanya…

Menu utama Canai Mamak jelaslah roti canai. Roti canainya bukan versi yang sudah jadi, tapi dibentuk dari adonan tepung dan “dilempar-lempar” atraksi chef di penggorengan. Barulah canai dibentuk dengan terlebih dahulu diisi dengan aneka rasa. Favorit saya adalah canai aneka rasa. Satu porsi dengan 5 potong canai berasa coklat, srikaya, dll. Ini paket hemat dibandrol Rp.5000. Sedangkan untuk yang special ada canai rasa durian. Hmmm…pasti lezat.

Canai Isi Srikaya

Interiornya cukup apik. Pengunjung juga bisa menyaksikan aktivitas chef di dapur meracik teh tarik, membuat canai dll karena ada kolom terbuka yang langsung menghadap ke pengunjung. Selain menu-menu yang lezat dan ramah di kantong, pengunjung tetap bisa online. Wajar saja, hampir semua café di Banda Aceh seperti wajib hukumnya untuk menyediakan layanan wifi sebagai salah satu daya tarik.

Hal yang khas dari warung ini adalah para pramusajinya. Mereka berseragam baju kurung layaknya gadis-gadis melayu. Corak kembang-kembang dengan warna mencolok adalah kostumnya. Mereka cukup terlatih dengan membawa nampan dan melayani para tamu terlebih saat peak hour.

Pramusaji berbaju kurung

Jadi, santai sore…sedap, hemat? Bolehlah dicoba Canai Mamak

Read Full Post »

Kalau perut sudah krucuk-krucuk rasa lapar, pasti ingin makankan? Namun bukan nasi, bukan pula cemilan yang ringan. Apa ya jenis kuliner yang “ringan namun nampol”? Daripada pusing, mengapa tak coba mie kocok!

Namanya Mie Kocok Si Doel. Apakah ini kedai mi punyanya si Doel anak betawi?Jangan tanya saya ya…karena asal muasal nama ini ngga nyambung banget dengan lokasinya. Kalau kamu menebak tempatnya di Jakarta dan sekitarnya, maka ente salah besar..hehe. Mie kocok Si Doel adalah salah satu kedai mie kocok di Kota Banda Aceh. Letaknya pas di Jl. Diponegoro pusat kota Banda Aceh, hanya berjarak 100m dari mesjid Raya Baiturrahman. Tak ayal, warung ini pun ramai dikunjungi mulai jam 11 hingga sore. Namun jangan coba-coba makan di waktu menjelang Zuhur (atau waktu shalat) khususya saat shalat Jumat karena akan dirazia oleh aparat perempuan Wilayatul Hisbah. Tenang, peraturan yang terakhir cuma berlaku bagi laki-laki kok…

Mie Kocok Si Doel

Namanya juga warung mie kocok, maka menu spesialnya adalah mie kocok dengan kaldu sapi. Ditambah dengan daging sapi cincang. Ya buat yang vegetarian, sorry to say..Mienya enak lho…mienya bukan mie telor yang keriting-keriting itu, melainkan mie kuning panjang. Dengan irisan seledri, siraman kaldu panas, mie kocok siap disantap. Kalau mau enak, boleh ditambah acar bawang, kerupuk, kecap, cabe, telur rebus atau perkedel kentang. Yummy…

Mie Kocok Si Doel

Tambahan untuk santap Mie Kocok

Buat yang mau pesan menu lain juga tersedia bakso sapi. Untuk minuman, saya rekom es campur. Tahu sendirikan bagaimana teriknya kota Banda Aceh? Pasti bawaannya ingin minum minuman dingin. Es campur di Aceh berupa racikan dawet/cendol tepung beras yang warna hijau, biji delima, kacang hijau, cincau hitam dengan santan, gula merah. Semua bahan tersebut bercampur satu ditambah potongan es batu, pas sekali menemani Anda bersantap.

Es Campur

Satu poin lagi di Si Doel yaitu pesannya ga pake lama alias pelayannya bekerja dengan sigap mengantar pesanan konsumen. Apalagi kalau kamu pesannya buaaaaanyak dan bayar 😀 . Tak usah khawatir, di dapurnya, porsi mie sudah tersaji di piring. Jadi, begitu datang pesanan..langsung deh kaldunya dituang.

Siap sedia

Soalnya dari pemantauan saya, yang makan di sini biasanya ibu-ibu yang habis belanja dari Pasar Aceh atau pelajar yang baru pulang sekolah. Benang merahnya..mereka adalah orang yang lapar berat dan tidak suka menunggu lama (termasuk saya 🙂 )

Racikan Es Campur

Kalau untuk hang out, kayanya kurang pas karena tempatnya tidak dirancang untuk itu. Kedainya berupa ruko, kipas angin di langit-langit dan belum ada fasilitas wifi. Ya minimal, untuk makan sepiring mie kocok polos dan es campur Anda cukup keluar kocek 13 ribu. Cukup hematlah…

Mari bersantap!

Read Full Post »

Apa yang enak disantap saat siang hari nan terik?

Es krim? Cendol? Es sirup? Biasa banget kan? Saya punya rekomendasi lain yaitu rujak buah. Mau coba?

Ini bukan sembarang rujak, karena rujak ini kuliner khas Aceh. Rujak dengan bahasa local “lincah” ini biasanya menjadi hidangan di tiap hajatan. Buah-buah tropis seperti bengkuang, mangga, papaya mengkal, timun, ketela, nenas akan semakin lengkap dengan hadirnya buah batok. Saya sampai sekarang masih belum menemukan buah tersebut di daerah lain. Buah batok ini cukup unik, karena untuk membelahnya harus membanting ke lantai atau ke benda yang keras karena cangkang buah yang keras.

Perawakan buahnya seukuran buah manggis, kulit kasar seperti kulit melon dan isi dalamnya padat serupa …(ah, lihat sendiri saja ya).

Buah Batok (rieskar.multiply.com)

Buah dirajang halus, pake cabe rawit, gula merah. Tambah es batu, Segernyaaa..Manis, segar, asam campur jadi satu. Kalau yang ga biasa makan pedas, waspada ya..

Kalau berkesempatan ke Banda, tukang rujak yang terkenal adalah Rujak Garuda. Murah meriah 6000 rupiah per porsi. Yang saya masih salut, bungkusan rujaknya masih pakai daun pisang. Klasik sekali…

Rujak Aceh (indonesiaindonesia.com)

Read Full Post »