Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘nostalgia’ Category

Apa definisi artis bagi seorang pelajar MTsN (setingkat SMP) kelas 3? Mungkin sosok yang sering tampil di TV atau media massa lainnya. Namun buat saya, ngefans artis terparah cukuplah hanya kepada boyband asal Irlandia, Westlife. Setelah itu, semuanya berasa biasa saja.

Tahun 2000, segala sesuatu yang namanya keramaian, acara akbar selalu mendatangkan antusiasme. Walaupun acara tersebut berlangsung di MAN Banda Aceh, namun anak MTsN tetap bersuka cita menyaksikan acara tersebut. Maklumlah, MTsN dan MAN I Banda Aceh masih satu komplek.

Buat saya, tokoh-tokoh yang datang itu adalah spesial. Saya mengenali tokoh-tokoh itu, mengagumi karya dan tulisan mereka.  Even itu bertajuk ”Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya” yang disponsori oleh Majalah sastra Horison dan Ford Foundation. Bahkan H-2 saya sudah punya siasat jitu. Saya harus bisa bertemu dengan mereka!

Anak-anak kelas unggul III-1 siang itu kurang bersemangat mengikuti les sore. Entah sudah bosan belajar atau memang lagi sedang kurang motivasi. Wali kelas, Pak Zul bijak dapat menangkap tanda-tanda tersebut. Saat bertanya kepada para siswa, saya langsung memohon agar hari ini libur saja. Alasannya kami ingin menonton acara SBSB di MAN. Dan beliau mengabulkan. Singkat kata saya langsung menghambur ke pekarangan MAN.

Wah, sudah ramai. Dengan konsep acara outdoor, kursi-kursi dipenuhi oleh siswa MAN dan posisi saya sebagai bocah sekolah sebelah cuma bisa berdiri di sekitar panggung. Dua buku sudah saya pegang erat. Saya yakin pengarangnya pasti datang. Beliau muslimah yang berdarah Aceh, aktif menulis cerpen di Majalah Annida, sangat inspiratif. Saya yang sudah membaca majalah remaja islami sejak kelas I MTsN tentu saja penasaran dengan sosok beliau. Yup, benar sekali. Beliau adalah Helvy Tiana Rosa (HTR).

Helvy Tiana Rosa

Waktu berjalan lambat. Belum ada tanda-tanda pembicara datang. Jadilah saya duduk beralas tanah di tepi taman. Posisi saya strategis,  hanya 2 m dari tangga panggung. Ini membuat saya gampang menatap panggung tanpa harus berdiri dan berjinjit. Tiba-tiba, suasana semarak dan penonton riuh sekali. Tak lama iring-iringan pembicara muncul. Mata saya sibuk mencari sosok yang saya maksud. Waahhh, itu dia yang baju pink. Sreett, pas sekali melintas di depan saya. Sangking senangnya, saya freeze seketika.

Memang begitulah perasaan orang (fans) yang membuncah saat bertemu pujaannya. Memang sih ga sampai histeris segala :-). Namun, jika pembicara yang hadir sekaliber Helvy TR, Rendra, Pak Taufik Ismail, isn’t that amazing? Nah, begitulah saya. Khusyuk mendengar penjelasan tentang sastra dari para pembicara. Terlepas saya yang belum mengerti benar dengan apa yang mereka perbincangkan. Tidak masalah! Yang penting rame.

Rangkaian acara mulai berjalan dan tanpa terasa jam 17.15 sudah menuju akhir acara. Saya mulai bersiap. Seperti tak mau kehilangan momen, saya mulai beringsut ke sisi kiri panggung. Tepat saat pembacaan doa dimulai, saya mulai mengacungkan novel Ketika Mas Gagah Pergi. Pas sekali Mbak Helvy duduk paling ujung.

“Sebentar ya dek. Nanti saya tanda tangan”, ucapnya sambil tersenyum.

Pas selesai doa, pas novel saya berpindah tangan. Dalam waktu singkat, novel itu sudah dibubuhi tanda love dan huruf HTR. Wah, senangnya saya waktu itu. Berbunga-bunga. Novel Mas gagah adalah novel pertama yang bela-belain saya beli karena ceritanya yang te-o-pe-be-ge-te. Ibrah ceritanya sampai membuat saya terharu. Bahkan mama saya juga ikut menangis saat membaca Mas Gagah. Nah, tentu saya berasa sangat beruntung buku itu langsung ditanda tangani oleh Mbak Helvy.

Sumber foto: goodread.com

Tak lama, mulai banyak yang mengikuti apa yang saya lakukan. Ada yang bawa buku dan minta ditanda tangan. Tangga panggung dipenuhi oleh massa siswa yang sangat antusias ingin bersalaman, berfoto bersama dsb. Akhirnya panitia terpaksa membentuk formasi mengamankan para pembicara. Pembicara meninggalkan panggung dan banyak siswa MAN yang kecewa karena tak tercapai hasratnya.

Sore muai beranjak maghrib. Saat dijemput di sekolah saya pun bercerita kepada ibu saya tentang pengalaman tadi. Sembari pulang ke rumah, kami sekeluarga sepakat bahwa malam ini akan makan di restoran. Ini lazim kami lakukan tiap malam minggu. Tak perlu lama, meluncurlah kami sekeluarga ke Mie Razali. Kedai mie aceh yang fenomenal.

Mie Razali

Namanya juga rumah makan..ya ramai dengan orang-orang. Setelah menempati tempat duduk, mata saya tertumbuk pada sekelompok orang yang sedang makan mie juga. And guess who? Itu adalah rombongan sastrawan tadi. Wuss..kali ini mereka lebih ramai dan agaknya full team, termasuk Mas Emha Ainun dan Mbak Novia Kolopaking. Alhamdulillah senang sekali rasanya.

Setelah melihat situasi yang mendukung, saya menghampiri dan berkenalan. Awalnya sih dimediatori ibu saya. Sambutan mereka sangat ramah dan kami berbincang akrab. Dan bahkan saya bisa mendapatkan tanda tangan Pak Taufik Ismail, WS Rendra dll komplit..plit. Wah, special edition! Kalau rejeki memang ga lari kemana ya?

Kini, novel-novel itu sudah hilang dibawa tsunami. Namun memoir itu tidak akan pernah hilang.

Itulah #CeritaPertama saya bertemu artis. Nantikan kisah #CeritaPertama selanjutnya. Salam

Read Full Post »

Binatang apa yang kalian takuti? Cacing? Ular? Cecak? atau ayam?

Saya takut anjing dan tikus. Jika ditelusuri asal muasal ketakutan itu, mungkin dimulai sejak kecil. Walaupun tidak punya pengalaman traumatik, rasanya ingin kabur jika ada 2 makhuk itu minimal radius 5 meter dari saya.

Kalau dipikir-pikir, kasihan juga kepada hewan A dan T itu. Trademark mereka kurang elit. Anjing sering dijadikan kata-kata umpatan kasar bahkan ungkapan ekspresi. Mulai dari kata anjing, anjir, anjrot, dan modifikasi huruf a-n-j-i-n-g lainnya. Statusnya najis berat di dalam agama Islam. Kalaupun ada yang berbakti, paling banter jadi hewan pemburu dan pelacak. Sama halnya seperti tikus. Asosiasi hewan pengerat ini kerap dihubungkan dengan para koruptor, politikus dan profesi yang culas. Tak heran, dalam kehidupan kedua hewan ini dianggap mengganggu dan penyebar penyakit. Rabies dan leptospirosis contohnya.

Tapi nampaknya, saya tidak bisa mengelak bahwa di komplek asrama SMA Mosa banyak  mr. doggy. Kawanan hewan itu bebas berkeliaran dan sempat melonjak populasinya. Malam-malam anjing di Mosa juga suka melolong sendu, membuat suasana menjadi spooky. Siang hari bila lengah sedikit, Mr. doggy leluasa singgah bahkan sempat masuk ke barak. Jika sudah demikian, korvey sama’ barakpun dilakukan. Ritual menyiram lantai barak dengan 7x siraman air suci plus dicampur tanah ini minimal dilakukan 1 kali dalam setahun. Namun, sempat juga Barak Anggrek kecolongan karena teledor dengan pintu depan. Sama’ pun dilakukan lagi. Ga capek sih, karena dilakukan bersama-sama. Asal syaratnya suplai air cukup dan ada irisan waktu luang bersama antara penghuni asrama.

Tapi #CeritaPertama kali ini lebih spektakuler. Lagi-lagi terjadi di Barak Anggrek…

Saya masih kelas I dan itu terjadi di tahun 2001

Lepas makan siang sebelum prosus adalah waktu yang paling enak buat ngaso. Santai-santai sambil dengar walkman plus semilir angin dari kipas. Siang yang sempurna itu mendadak rusak.

“Ehm, bau apa ni? Menyengat kali! celetuk my room mate.

Iya..bau apa ya? Kami sekamar mulai selidik, mana tahu ada cicak terjepit di pintu. Nihil. Ya sudah, investigasi dihentikan karena baunya juga mendadak sirna.

Esoknya kehebohan terjadi. Salah seorang penghuni Anggrek shock berat setelah kembali dari tempat jemuran. Tak disangka, seekor anjing mati di sana. Kontan saja anak-anak penasaran. Semua ingin melihat walau sambil tahan napas. Saya juga ikutan mengintai dari jauh. Takut plus masih tidak percaya kenapa anjing itu mengakhiri hayatnya di sana.

Oh, ternyata mayat anjinglah penyebab aroma bau nan menusuk hidung. Saat itu tidak ada tindakan yang dilakukan selain mengeluh bau..bau..dan bau. Serba salah juga jadinya. Kita (penghuni barak) berharap ada Bang Neh yang mau mengeksekusi (menggubur) tapi tampaknya beliau sibuk.Hari-hari di barak yang harusnya menjadi tempat istirahat berubah 180 derajat menjadi tidak menyenangkan. Terbayang jika angin sepoi berhembus, maka yang paling sengsara duluan adalah kamar 9,8,7. Posisi kamar 2 Anggrek agak bagus, masih agak jauh dari TKP. Ibu asrama (bu Tawir) bahkan sudah menitahkan, tepatnya mengultimatum bahwa mayat anjing itu harus segera dikubur.

Nah lho! Masalahnya siapa yang mau melakukannya? Saya sebenarnya enggan, namun tidak mungkin juga melemparkan ke Barak mawar atau melati. Secara Mr. doggy nya tewas di wilayah teritorial barak Anggrek dan saya, sebagai ketua barak saat itu perlu mengambil tindakan segera. Hufff…

Setelah menggelar rapat intrernal barak, maka langkah eksekusipun dirancang. Petugas misi ini adalah 2 orang perwakilan dari tiap kamar. Alat-alat pendukung mulai dikumpulkan. Waktu pelaksanaan adalah hari Minggu pagi. Deal!

Hingga hari eksekusipun tampaknya tak ada bala bantuan dari kaum Adam :-(. Padahal saya ingat, beberapa abang kelas tiga suka berseuara miring jika melintas depan Barak Anggrek. Ihhh..Barak Anggrek bau! Tapi ya sudahlah, the show must go on.

Setelah menyiapkan diri, rombonganpun ke lokasi. Masya Allah..bangkai anjingnya besar sekali. Kayanya ini induknya. Posisinya masih utuh, kaku dengan mulut sedikit terbuka. Whhaaa..Baunya juga ga nahaaaann..Udah 4  harian bangkainya nganggur di situ. Isi perut saya sudah mulai bergejolak, namun saya berusaha bertahan. Rasa mual, takut bercampur jadi satu. Beberapa anggota tim yang tidak kuat langsung menyingkir. Maka langsung saja langkah pertama, menyiramkan minyak tanah ke mayat itu. Kata Bu Tawir, ini untuk menghilangkan baunya and it works!

Jamila, expert dalam hal cangkul-mencangkul langsung memainkan perannya. Cangkul yang cuma satu menyebabkan hanya Mila sendiri yang mengerjakan. Untungnya gadis ini cukup terlatih. Dalam sekejap lubang kira-kira ukuran 1m x 60 cm dengan kedalaman 70 cm sudah selesai.

Dan ini yang paling heboh. Acara menggiring bangkai itu ke dalam lubang. Kami menggunakan ranting-ranting pohon yang kokoh, mulai menyodok dari arah samping. Bayangkan, saat itu posisi saya hanya 1 m dari bangkai. Andai itu masih anjing hidup pasti saya tidak akan mau.

Bangkai anjingnya cukup berat, agak lama baru bergeser. Stik kayu kami ayunkan terus dengan semangat. Sedikit demi sedikit bangkai sudah mendekati lubang. Hup, 1 m..60 cm lagi..30 cm..Ayo terus kawan-kawan! Saya menyemangati tim. Bak menggiring bola ke gawang dan akhirnya..gol! Bangkainya masuk sempurna ke lubang. Huff, legalah kami semua. Mila pun melakukan tahap finishing dengan menimbun lubang hingga padat. Alhamdulillah, misi selesai!

Selesai dari prosesi tadi, saya belajar beberapa hal. 1. kematian akan menimpa semua makhluk hidup, dimanapun ia berada. 2. Pelaksanaan pemakaman harus diselenggarakan dengan cara baik dan secepatnya demi kesehatan (jika kasusnya hewan). 3. Saya menaklukkan rasa takut saya kepada anjing (walaupun sudah mati) 🙂

Itulah #CeritaPertama saya menggurusi pemakaman seekor makhluk Allah. Sampai jumpa di edisi #CeritaPertama berikutnya. Salam!

Imagenya disengajakan anjing lucu 🙂

Read Full Post »

Aslinya saya anak baik :-). Gak neko-neko pas jadi siswa SMA Mosa. Dalam kamus saya,  taat peraturan, disiplin dalam hal shalat berjamaah, senam pagi dan belajar sudah menjadi panggilan jiwa..(ciee..) Intinya sejak masuk Mosa yang notabene sekolah berasrama, sejak itu pula saya siap jadi anak mandiri, rajin bla bla lainnya. Maklumlah, jika saya mbandel ntar laporannya pasti sampai ke rumah dan langsung deh dicap jelek. “Kok, anak guru begini..kok anak guru begitu..”.

Sampai suatu saat, saya melanggar peraturan sekolah. Pertama kalinya. Dan ini termasuk kejahatan kelas berat!

***

Ba’da Jumatan tahun 2001.

Saya gelisah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2.30 siang. Ya..tidak..ya..tidak. 30 menit lagi waktu prosus (les sore) dimulai. Saya kembali berhitung ulang berbagai kemungkinan dan waktu yang saya butuhkan untuk mencapai kota Banda Aceh. Satu sisi hati berbisik, ayo Bee..now or never! Ciptakan sejarah dalam hidupmu. Sementara sisi lainnya menimpali, hai Febi..percuma saja kamu keluar sekarang. Waktu yang tersisa tidak akan cukup. Jam 5 sore tinggal sesaat lagi. Belum lagi minta izin guru, waktu di jalan, dll. Susah..sudah, lupakan saja mimpimu itu!

Kegalauan hati saya berbuah mantap:  keluar. Ada agenda mendesak yang harus saya selesaikan di kota dan tidak mungkin diwakilkan. Akhirnya dengan muka memohon-memelas, saya izin ke guru piket.  Biarpun panik-panik bergembira, saya tidak berani main kabur. Berbekal izin, saya langsung naik kendaraan umum. Kepada room mate, saya hanya pesan bahwa saya ada agenda penting dan tetap akan pulang ke asrama Cot Geundreut.

Setelah tiba di Banda Aceh yang sebenarnya cuma berjarak 13 km, saya segera menghubungi Ibu saya via wartel. Zaman itu sudah mulai komunikasi via hp, cuma belum lazim saja. Intinya, saya minta ibu saya menjemput dan mengantarkan saya ke daerah Jeulingke dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam bayang-bayang sore, sampai juga saya di tempat tujuan.

Pas sekali. Pendaftar terakhir di injury time. Yap, teman-teman..saya saat itu memberanikan diri mendaftar sebagai peserta AFS atau program pertukaran siswa yang diselenggarakan Yayasan Bina Antar Budaya. Masih dalam kondisi berpeluh-peluh, saya menyelesaikan form isian. Untungnya staf registrasi yang bertugas saat itu adalah Kak Ina (Laina Hilma Sari) yang merupakan alumni Mosa 1998. Alhamdulillah, saya masih diterima pendaftarannya dan tercatat sebagai satu-satunya siswa Modal Bangsa yang ikut seleksi AFS tahun itu.

What next is ujian seleksi pertamanya, yaitu esok hari, Sabtu jam 8.30 pagi. Wah, harus susun strategi ni. Akhirnya, saya (dengan berat hati) memutuskan cabut untuk pertama kalinya alias menginap tanpa izin. Cabut syar’i. Sekali lagi saya tegaskan! Ini semata-mata demi kelancaran esok hari. Kalian percaya saya kan? 😀

Bayangkan, sulit dan sangat tidak efektif jika saya kembali ke asrama hari ini dan esokny harus izin lagi dari asrama pagi-pagi. Toh, besok juga hari Minggu dimana jadwal anak-anak Mosa pelesir ke kota. Tapi jadwal pelesir baru diizinkan setelah jam 9 pagi. Ga banget kan?Akhirnya, info singkat ini saya kabarkan ke room mate yang sudah punya hp. Pokoknya aman! Saya coba abaikan rasa salah yang sempat terselip di hati. Everything gonna be alright!

Malamnya saya istirahat sambil mempelajari materi dan berita terkini. Besok ujiannya adalah pengetahuan umum. Semoga besok lancar…

Subuh pukul 6, room mate saya menelpon ke rumah (waktu itu saya beum punya hp).

“Bee, gawat. tadi pagi ada absen subuh. Banyak yang bolos sehingga anak2 yang ga hadir dipanggil abis makan pagi. Balik ke asrama dulu ya, walau sebentar saja…

Hadeuuhh..saya senewen berat. Kok bisa anak-anak barak Anggrek pada bablas subuhnya? Bisa ketahuan ni status saya sebagai Ketua Barak Anggrek cabut! Bahaya bagi pencitraan 🙂

Akhirnya…dengan segala pertimbangan, saya kembali ke asrama, saudara-saudara! Abang saya yang mengantar. Ia menyetir  mobil seperti orang kalap, demi mencapai asrama Mosa tepat waktu. Bayangkan beres makan biasanya jam 7.30, saya harus bisa setor muka, lalu langsung capcus lagi ke lokasi ujian jam 8.30. Berasa kaya amazing race ni! Panik…

Musalla Mosa

Tiba di kampus Mosa, barak Anggrek sudah sepi. Tandanya teman-teman sudah berbaris di depan musalla. Saya lari dan langsung bergabung ke barisan. Tepat waktu! Tepat bahwa nama saya sudah dipanggil 1 menit yang lalu. Ohhh..pastaslah, muka teman-teman saya pada tegang bin cemas. Jelas, kelas I-1 dipanggil urutan pertama dan nama dengan urutan F sudah terlewati dan sekarang Pak Kepala Asrama sedang mengabsen urutan nama M.

Sambil mengatur nafas, saya sudah pasrah. Alamat kena hukum ni. Terlambat beberapa menit tadi sangat fatal rupanya, karena status saya yang cabut juga terbongkar. Kesalahan berlapis! Mulai dari tidak shalat subuh berjamaah hingga cabut dari asrama tanpa izin Ka. Asrama (saat itu Pak Hamid). Ada laporan ke Bapak Asrama, makanya room mate saya tidak bisa mengelak. Hufff…gondok berat rasanya. Ter-la-lu! Masa sebagai teman, ga ada cs-nya sama sekali! Tak tahukah ia kalau saya akan, sedang mengemban tugas negara!?! Perasaan sedih, palak, panik bercampur jadi satu.

Barak Anggrek

Akhirnya, dengan berani mengakui kesalahan, menjelaskan duduk perkara dan kegentingan yang saya hadapi, saya kena hukuman: korvey cabut rumput depan barak Anggrek. Yap, sudah tidak ada waktu untuk berdebat lagi. Segera saja saya menyelesaikan tugas secepat-cepatnya dan langsung berangkat lagi. Waktu sudah semakin sempit. Saya harus bergegas karena satu bagian sejarah hidup saya yang lain sedang menanti! AFS, I’m coming 🙂

 Tapi, sejak saat itu saya sadar..yang salah tetap salah. Terlepas akhirnya saya lulus AFS, namun tidak jadi diambil, that’s another story. Ga lagi deh  saya cabut dari asrama karena saya tidak berbakat, cabut dan ketahuan..hehe. Peace ya Pak…

Itulah #CeritaPertama melakukan pelanggaran asrama. Tidak untuk dicontoh ya! 🙂 Nantikan #CeritaPertama selanjutnya. Salam

Read Full Post »

Untuk anak yang tinggal di Banda Aceh dan sekitarnya, belajar mengendarai sepeda motor serasa wajib hukumnya. Karena naik kereta adalah transportasi yang lazim, murah dan terjangkau oleh mayoritas warga Banda. Tak heran, jalur angkotan umum yang terbatas dan tidak menjangkau jalan-jalan utama, menyebabkan anak-anak ini dikarbit untuk cepat besar. Dan salah satu tanda eksistensi “jadi orang besar” adalah bisa mengendarai motor.

Tahun 1998 belum dikenal motor matic. Kalau mau latihan mengendarai motor, pilihannya jatuh ke honda, sebuh merek motor yang menjadi trendmark saat itu. Kisah saya mulai bawa honda yaitu di kelas 6 MIN (setingkat SD). Sebuah masa yang dianggap cukup layak untuk belajar dengan pertimbangan minimal kaki sudah mampu menapak di tanah (walaupun masih jinjit) dan mampu mengimbangi massa honda.

Tak perlu lama, honda ibu saya jadi alat uji cobanya. Tempat berlatih di Jalan Bahtera Kampung Mulia. Cukup dekat dengan rumah dan lokasi jalan ini strategis sekali karena merupakan jalan buntu yang diapit oleh 2 lapangan kosong. Pelatihnya yaitu abang saya sendiri, Reza. Ok, sempurna kan?

Sore lepas hujan saya tetap bersemangat berlatih. Toh saya pikir bawa honda kan gitu-gitu aja ya? Asal bisa diawalnya, mengerti cara oper gigi, lancarlah…Basicnya sih harus biasa bawa sepeda dulu. Nah, minimal saya sudah akrablah dengan part honda. Rutinitas “memanaskan” honda di pagi hari membuat saya tidak grogi untuk menstart mesin, mengencangkan gas dll.

sumber gambar: esq-news.com

Setelah pengantar teori mengendarai motor dengan baik dan benar dari abang saya, maka it’s time to practise! Medan latihan yang mulus dan lurus membuat saya lancar jaya mengedarai motor. Dua tiga kali bolak-balik kepercayaan diri saya meningkat.

Wah, walaupun baru 1 kali latihan saya sudah tahap bisa. Mungkin ga lama lagi bisa tahap mahir dan bisa dipercaya ke jalan lalu lintas ramai. Yes..yes!

Tak disangka, saat ingin baik arah saya mulai kewalahan. Gas saya pelankan dan rem diinjak dalam-dalam. Namun mendadak saya hilang keseimbangan. Ups, kaki ini mencoba menggapai tanah dan tertatih mencoba jalan sambil berpegangan di stang honda. Bodi honda yang memang berat untuk anak seumuran 12 tahun menjadi beban bagi saya. Abang saya yang mengawasi di ujung jalan berteriak-teriak..mundur dulu!

Nah sayanya bandel. Menganggap sudut putaran sudah sempurna dan space untuk berbelok 360 derajat cukup lebar. Tentulah prediksi saya salah besar. karena roda depan sudah mulai keperosok ke selokan besar yang penuh air sisa hujan besar. Tekstur tanah yang gembur membuat kaki saya terbenam dalam lumpur. Mudah saja, kaki yang tidak kuat menapak sekaligus tidak kuat menopang bodi honda membuat saya kewalahan. Dalam beberapa detik, terjun bebaslah honda dan si anak bandel itu ke dalam parit panjang berair coklat. Hiks…

“Baaaaaaaaang…saya cuma bisa menjerit.

Akhirnya abang saya datang, menarik saya keluar dari parit yang kira-kira sedalam lutut orang dewasa. Honda yang ikutan nyemplung sudah berlepotan lumpur. Sambil menahan sakit di kaki, saya menepi di atas jalan aspal. ternyata tak ada yang luka, cuma beset-best saja di kulit. Alhamdulillah…

Setelah memastikan honda dalam keadaan baik-baik saja, kami pun pulang. pelajaran bawa dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan. Abang saya cuma ngomel sedikit saja. hehe..untung saja.

Sampai akhirnya, saya masih tetap mengendarai motor. Apalagi sejak SIM C di kantong. Tapi tenang saja, saya tipe rider yang baik dan benar lho. Pakai helm, taat peraturan lalu lintas dan tidak  kebut-kebutan 🙂

Mudah-mudahan saya dapat memperdalam teknik riding motor bike saya di Vietnam 😀

Ini #CeritaPertama saya mengendarai sepeda motor! Nantikan edisi #CeritaPertama berikutnya

Read Full Post »

Medio Juli 1997

Saat sorot mata lebih berbicara daripada kata-kata maka itulah gambaran hari itu. Semua anak-anak kelas 6 ingin berada di sana. Di kelas baru itu. Kelas dengan meja dan kursi baru, meruap khas bau cat. Papan tulis yang hitam sempurna dan belum terukir tulisan arab bismillah. Itulah kelas 6D yang di sebelahnya adalah kelas yang difungsikan sebagai mushala. Kelas ekslusif bertembok bata, tidak berbatas papan yang bisa dibuka-tutup seperti kelas lain. Hari itu saya ada di sana. Bersama sekumpulan kawan-kawan yang didaulat sebagai anak kelas inti.

Rupanya ada skenario yang lebih menarik lagi. Kesempatan mencicipi kelas inti hanya berlangsung beberapa hari karena sesungguhnya tempat saya di kelas 6B. Entah mengapa akhirnya kelas inti itu dipecah dan murid-muridnya disebar di kelas 6A hingga 6E.

Kalian masih ingat siapa saja wali kelas 6A-6E? Ada Ibu Murni, Bu Fatma, Bu Ros, Bu Nurjannah dan Bu …(lupa). Ibu-ibu ini sangat kompak bagai lima sekawan bahkan urusan taplak meja kelaspun seragam, yaitu kain biru dengan motif uang koin dan ada rample-rampel. Mungkin kalau beli borongan, tawar-menawar harga kain dan ongkos jahitnya makin seru ya? 🙂

Cerita seru lainnya yang pasti mengesankan adalah lomba masak nasi goreng. Begini kisahnya…

***

“Bi, kita perlu bagi-bagi tugas, kata Musdya.

“Pasti. Masak nasi goreng kan gampang? Jawabku. Maklumlah, usia 11 tahun untuk anak perempuan sudah sepatutnya bisa mengerjakan beberapa tugas rumah tangga. Maka setelah Bu Fatma membagi kelompok berdasarkan deretan tempat duduk, kelompokku mulai berkonsolidasi. Job description telah tuntas. Saya bertugas bawa kompor dan peralatan memasak, Irfandi dan Shalihin membawa peralatan makan (piring, sendok, gelas), Musdya dengan racikan bumbu nasi goreng. Semua dapat tugas. Semua antusias dengan rencana lomba masak ini. Termasuk kelas 6 lainnya.

Tiba di hari H, heboh berat..Bisa dibayangkan, ada acara gotong kompor minyak dari rumah, geser-geser meja dan kursi dan menset dapur dadakan dan mulai mengolah bahan-bahan. Para siswi mulai keluar gaya mamak-mamaknya…Contohnya seperti ini:

“Eh, potong timunnya jangan tebal-tebal!

“Ulekan cabe dan bumbunya masih kasar!

“Nasi gorengnya masih pucat! Tambah lagi kecapnya…

“Jangan aduk nasi dan bumbunya pakai tangan..Jorok e..

Aaaahhh..pokoknya semua gabuk. Hehe…

Kelas 6 B menerapkan sistem yang berbeda. Ibu wali kelas kami hanya bertindak sebagai fasilitator, benar-benar membebaskan anak muridnya berkreasi. Akhirnya kelas penuh dengan harumnya minyak menumis bumbu, aroma kecap manis, garam, desing sodet dengan kuali ditimpali gelak tawa. Murid-murid berlagak bagai chef master. Sekompak mungkin dan berusaha keras untuk menyajikan sepiring nasi goreng lezat sebagai tester kepada dewan juri yang tak lain adalah ibu-ibu wali kelas.

Anak-anak sibuk memasak, ibu-ibu wali kelaspun tidak ketinggalan. Sibuk inspeksi dong! Mengawasi supaya anak-anak menjalankan step-step memasak dengan standar kesehatan dan keselamatan kerja :-). Secara banyak potensi bahaya di sana, mulai dari pisau, kompor, api, minyak goreng dan minyak tanah. Alhamdulillah, untungnya murid-murid aman-aman saja menjalankan misinya.

Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah 2 jam “berkutat di dapur”. Jarum jam dinding sudha menunjukkan pukul 11.30. saatnya mengakhiri acara masak-masak dan masuk kepada tahap serving. Yakin dan percaya diri saja, teman… Nasi goreng made in kelompokku pasti enak. Nasi goreng mulai disajikan di piring. Irisan tomat dan mentimun menghiasi sisi-sisinya. Dipadu dengan telur dadar dan taburan bawang goreng. Menu semakin komplet dengan minuman sirup patung plus biji selasih dan nata de coco. Sempurna..Perfecto! (kalau dipikir-pikir sekarang, ini padanan yang aneh -_-‘)

Saya sempat melirik ke kelompok sebelah…

“Mus, hebat ya si Nopi. Bisa buat bunga mawar dari tomat! Musdya melirik ke sebelah. Ia turut mengiyakan. Maka selanjutnya adalah sesi penilaian dewan juri. Satu persatu ibu wali kelas mencicipi nasi goreng buatan kelompok. Hmm…kami menatap harap-harap cemas. Untungnya tidak ada yang berkomentar seperti Chef Juna 🙂

“Wah, ini rasanya manis nak..kebanyakan kecap ya? Kata Bu Fatma. Kami hanya senyum-senyum. Dari penampakan fisik memang tak salah lagi..warna nasi goreng memang didominasi warna kecap..Hehe.. Ada pula nasi goreng yang terlalu pedas, asin dan tampilan pucat. Hehe..lengkap sudah. Tidak ada yang mengantongi poin sempurna. Namun tak disangka, kelompokku meraih juara 2 nasi goreng terbaik. Yeahhh..sedangkan juara 1 diraih Mawaddah dkk.

Setelah sesi penjurian, tanpa panjang lebar…saatnya makaaaaaannnn!! Alhamdulillah, semua nasi goreng buatan bocah-bocah kelas 6B rasanya enak dan enak sekali. Karena rasa tak pernah bohong 🙂

-sayangnya tak ada dokumentasi saat itu-

Nasi Goreng

 

Read Full Post »