Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Jebreett..Uang Kaget 50M

Berawal dari sebuah kisah 50 Milyar rupiah yang sedang ramai diperbincangkan, tercetuslah ide di komunitas Gam Inong Blogger untuk membuat tulisan tentang “Andai Aku dapat 50 Milyar”. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana cara cepat untuk menghabiskannya 🙂 Karena ingatan saya langsung terbayang pada program realityshow “Uang Kaget”, dimana “korban” (umumnya kelas ekonomi bawah) diharuskan menghabiskan uang 5 juta IDR dalam waktu singkat. Reaksinya bisa ditebak? Panik dan gelagapan pegang duit. Biasanya mereka langsung belanja grosiran sembako, kebutuhan sekolah anak, dan basic needs lainnya.

Apakah saya akan beraksi hal yang sama dengan “korban” uang kaget? Mungkin ya, mungkin tidak…Nilai 50M itu juga sesungguhnya relatif. Bisa saja dinilai sedikit atau banyak. Tergantung nilai pembandingnya. Kalau ingin habis sekejap, ya langsung dibelikan barang mewah, propersi di kawasan elit, traveling dengan kelas VVIP, dan lain-lain. Tapi kok rasanya egois sekali ya? hehe…

Namun lagi-lagi, namanya juga “Andai Dapat 50M”…maka tak salah kan jika saya punya mimpi untuk membeli “tanah air” ?. Seperti hal yang digaungkan oleh ustad Yusuf Mansur #IndonesiaBerjamaah atau gerakan #IndonesiaBerdaya. Saya percaya bahwa uang itu hanya sebagai alat mencapai tujuan. Besar atau kecilnya nominal uang akan saya terjemahkan pada pengaruh “daya kemanfaatannya” atau circle of impact. Uang 50M memang bisa memanjakan1 orang, tapi sebaliknya juga berpotensi memberi manfaat kepada jutaan orang.

Hal-hal yang terpikir oleh saya jika  saya mendapat 50M IDR adalah:

  1. Beli kembali lahan sawah dan perkebunan yang dikuasai kaum kapitalis,
  2. ambil alih kembali hutan, pulau, tambang dengan harapan dapat dikelola oleh anak bangsa sendiri dengan mandiri,
  3. jadi pemilik stasiun TV- yang tidak mau menampilkan sinetron ala “upik abu-ibu tiri “bermata tajam, senyum sinis”,
  4. punya saham di maskapai penerbangan dan investasi untuk teknologi kedirgantaraan, dan
  5. akuisisi aset-aset strategis negeri.

Kira-kira cukup ga ya? Tapi tak ada salahnya, tolong di-aamiinkan ya 🙂

Goettingen, 2 Oct 2013

nb. mudah-mudahan rencana hajatan 50M itu tidak terwujud, jika alhasil hanya semakin memicu konflik atau pergesekan di masyarakat. Rasa aman, damai, bahagia itu priceless.

Advertisements

Read Full Post »

waktu

saya benar2 lagi ngerasa ada yang ga beres dengan hidup saya akhir-akhir ini. banyak waktu hidup saya yang malah bergantung pada orang lain. sebenarnya saya ga suka itu. saya mau bebas untuk mengatur waktu saya sendiri. itu idealnya. tapi tatkala harus berurusan dengan orang lain, dan kita butuh orang tersebut, maka yang ada justru cenderung mengalah dan mengorbankan waktu saya sendiri.

kalau dipikir2, mengapa saya mau repot untuk itu? toh saya juga tidak mendapat bayaran atau manfaat secara langsung..tapi saya tidak bisa menampik, bahwa ketika saya sudah memilih amanah maka tanggung jawab untuk melaksanakannya juga ikut menyertai. hal ini bisa jadi tidak ada pada semua orang. saya percaya bahwa kualitas diri saya akan teruji dengan cara memegang amanah, mengurus sebuah kepanitiaan contohnya.

Merasa kerja sendiri, letih karena tidak mendapatkan irama kerja yang supportif dan suhu kerja yang berbeda antar individu menyebabkan saya yang berada di puncak pimpinan harus turun untuk mengkawal kerja di lapangan. Padahal sistem manajemen seperti itu kadangkala tidak baik ya? Fungsi delegasi macet, berarti ada yang salah dalam proses kaderisasi ini.

Ya saya dan teman2 sekarang semuanya belajar. saya belajar memimpin orang lain, namun di saat yang sama saya berusaha sekooperatif mungkin saat dipimpin. saya tahu jadi pemimpin itu penuh tantangan. dan saya mau menjadi manusia yang “never crack under pressure”

 

salam hangat akhir pekan

Goe, 13.05.13

 

Read Full Post »

Komitmen untuk konsisten itu gampang-gampang susah ya? Pada suatu waktu ia mudah terucap dan satu waktu pula ada seribu satu alasan yang menghalangi. Apalagi untuk perkara kebaikan. Mau rutin tilawah? sibuk! Olahraga teratur? Ga sempat cuy. Baca buku untuk menambah pengetahuan? Boro-boro..tugas kuliah saja menjelang deadline. Kemudian yang ada hanyalah pembenaran-pembenaran, alasan-alasan sehingga pada siang 09.03.12, saya kembali tersadar bahwa…itu semua bisa diakali.

 Hasrat yang tertunda

“Jadi kita pergi Feb? Tanya Epi, rekanku di Goethe Institut.

“Ja, gehen wir! (kira-kira artinya yuk mari). Ya,bertiga saja. Saya, Epi dan Ai.

Jarak dari Sam Ratulangi ke TIM kami tempuh dengan berjalan kaki kecepatan sedang. Suasana cukup ramai. Pasar kaget yang selalu mengiringi hari Jumat dengan segala rupa-rupa benda turut meramaikan suasana. Kami merasa beruntung sekali ketika pejalan kaki lebih leluasa berjalan dibandingkan dengan mobil-mobil yang frustasi terjebak kemacetan di sekitar Cut Mutia.

Tak butuh waktu lama, 3 tiket sudah di tangan. See…this show will be a private show :-D. Penontonnya cuma 5 orang!

Film Negeri 5 Menara. Film yang bukunya saya sudah baca setahun yang silam dan kali ini saya menikmati filmnya. Cerita hebat tentang penuntut ilmu, Alif dan Sahibul Menara.

Saat semuanya jadi satu

Maaf, bukan saya bermaksud spoiler. Tapi percaya deh, saya menilai film ini “sangat direkomendasikan” untuk ditonton. Apalagi untuk para perantau. Suasana konflik batin seorang Alif yang memilih untuk memenuhi keinginan orang tuanya bersekolah di pesantren dan menunda mimpinya ke SMA, sangat terasa. Ayahnya bela-belain menjual kabau satu-satunya yang selama ini menggarap sawah, demi biaya pendidikan Alif di Jawa. Langsung deh saya teringat masa-masa saya galau memilih tujuan kampus, kampus jaket kuning atau yang di jalan Ganesha dan pengorbanan orang tua saya 😥

Ada juga cerita seru ala anak asrama Pondok Madani, seperti Alif dan 5 sohibnya yang beraneka ragam karakternya, guru pamong yang bijak, peraturan tidak boleh nonton TV, mencuci baju sendiri, pemadaman lampu karena gensetnya lebih sering ngadat dari pada benernya, lomba pidato bahasa Inggris antar siswa baru, ngecengin keponakan Pak Kyai, ramai-ramai kena hukuman dari senior divisi kedisiplinan, ikut berbagai unit eksul dan masa uji cobanya, antusias dan kreativitas yang teruji di malam pertunjukan seni dan masih banyak lagi. Ah, semuanya  kembali menghadirkan memori saya tentang MOSA, SMA tercinta saya yang juga system boarding school. Pas nonton, langsung nyengir, asli MOSA banget dah! Memang tak salah jika masa-masa SMA adalah masa yang paling indah, sampai-sampai ada lagunya kan? Hehe..

Tapi…film ini bukan hanya cerita-cerita gokil remaja tanggung! Pada akhirnya saya, Ai dan Epi diam-diam menangis haru. Pokoknya air mata tumpah tak tertahankan, emosi penonton larut, saat kalimat sakti MAN JADDA WA JADA itu menunjukkan powerfullnya pada seorang Baso, Alif dan 4 rekan lainnya. Intinya Man Jadda wa jada, siapa yang sungguh-sungguh akan berhasil!

Get in the Real Life

Tak terasa 2 jam sudah kami menonton. Ada suatu perasaan yang muncul, menyelusup dalam hati. Entahlah saya menyebutnya apa. Semacam tekad bahwa..ayo, kamu bisa!

Bahwa MIMPIlah yang tinggi, cukupkan usaha dan biarkan Allah yang mengatur kelanjutannya.

Kalau kata ustad Salman-nya film Negeri 5 Menara, bukan karena perkara parang yang tumpul kayu itu bisa patah, tapi karena terus-menerus ditebas akhirnya ia terbelah jua. Bukan semata-mata perkara modal turunan (pintar, cakep, kaya dll) yang bisa buat sesorang berhasil, tapi lagi-lagi sebesar apa kemauan, usaha orang tersebut untuk mau mewujudkan mimpi-mimpinya.

Sepulang dari sana saya ingin segera menuliskan pengalaman tadi dalam bentuk notes. Karena ini termasuk agenda saya, “komitmen dan konsistensi” untuk menulis, seperti yang telah disinggung sebelumnya. Selain itu masih ada sederetan mimpi, proyek kebaikan dan tugas negara lainnya yang siap diwujudkan 🙂

lelah-lelah dahulu bersenang-senang kemudian 
tiada suatu yang yang besar tanpa perjuangan yang hebat
man jadda wa jada…

Read Full Post »

Dan Aku Cemburu!

Hari ini hati saya tergerak untuk menulis. Tepatnya mengisi kembali blog saya yang sudah sebulan kosong tanpa postingan baru. Tenang saja saudara-saudara, walaupun sudah jarang menulis kegiatan membaca dan diskusi tetap jalan  🙂

Salah satu bacaan yang sedang saya nikmati adalah novel genre sejarah dengan seting Aceh masa kolonialisme. Judulnya Sabil. Saya sudah lama 2 bulan naksir ingin membeli/membacanya namun baru tercapai seminggu yang lalu ketika saya berkunjung ke Bandung.

Novel Sabil

Pertimbangan untuk membeli novel ini:

1. Novel ini memberi kesan pertama yang bagus untuk saya. Tema yang menarik, cover bagus dan tebal (700an halaman lho). Yup, that’s right! rasanya puas kalau menaklukkan novel bermutu dan tebal. Uangnya berasa worthed 🙂

2. Setingnya di Aceh dan terinspirasi dari Hikayat Prang Sabil. Wow, kalau saja teman-teman pernah membaca dan paham artinya, bakal merasa merinding gimana gitu. Pesan heroiknya sangat kentara. Hikayat yang ditulis pada abad ke-17 Masehi lahir untuk menguatkan semangat juang para rakyat Aceh dalam berperang. Jujur, saya belum pernah baca teks Hikayat Prang Sabil dengan utuh.

3. Budget masih mencukupi, soalnya ada diskon 30% #mata-ga-nahan-lihat-diskon

Nah, apa yang membuat saya kagum, amazed, salut dan cem.bu.ru adalah sang penulisnya masih berusia 25 tahun. 11-12 dengan saya. He is still very young! Sekalipun saya baru baca sampai halaman 200, novel ini mampu memukau saya. Diksi, konflik, struktur dan tokoh-tokohnya memang nama-nama pejuang di Aceh. Berasa belajar sejarah, euy!

Menyadari usia saya hanya berselisih 6 bulan lebih muda, saya tambah salut. Apalagi Sabil ini adalah novel dwilogi. Wow, kebayangkan ntar novel ke-2 setebal apa? dan ternyata pengarangnya Syaf Muhammad Isa adalah orang Sukabumi. Ckckck…tapi gaya bahasa meu-Aceh that. Pastinya ia melakukan riset yang dalam ya? Kejutan selanjutnya, ia sebelum ini juga sudah menerbitkan novel dengan tema sejarah pula. Oww…ini dia orangnya.

Nah, saya yang masih terkagum-kagum akhirnya memutuskan chat dan berbagi perasaan ini kepada seorang teman. Ia penulis juga, tepatnya penggiat citizen journalism.

Intinya saya cerita kekaguman saya pada karya novel tsb sekaligus kepada pengarangnya. Dan tahu apa yang teman saya katakan?

chat

Mari saya pertegas kata-kata teman saya ini:

Jangan iri apa yg orang lakukan dgn mnginginkan melakukan hal yang sama

Apa yg mreka perbuat,adalah konsistensi dr hasil beberapa taun

Jadi, mulailah konsisten dgn passion kita, dan kita bisa membuat mahakarya untuk umat manusia kelak 

Begitulah wejengannya malam ini. Huff…ternyata lagi-lagi saya tersadar, tidak boleh hidup dalam standar orang lain. Artinya masing-masing orang pasti akan mencapai suatu kualitas hidup tertentu dari sebuah proses kontinu, mendalam dan pasti. Bukan ujug-ujug jembret, sim salabim…jadi karya yang instan. Bisa saja itu terjadi, tapi biasanya akan cepat pula karya itu hilang tak berbekas.

Oleh karena itu, tetaplah fokus dengan passionmu! Waktu adalah variabel yang akan memantaskan diri ini untuk bertemu dengan sebuah momentum tepat bernama sukses.

Read Full Post »

Di belakang rumah saya sengaja ditanami 6 pohon. Saya menyebutnya pohon pocong 😀 Hehe…soalnya bentuknya panjang menyerupai pocong. Pohon-pohon itu ditanam oleh bapak saya sejak 3 tahun yang lalu. Alasannya sederhana, untuk penghijauan namun tidak merusak bangunan rumah. Ada yang bisa memberitahukan apa nama pohon ini?

Pohon Pocong

Jika teman-teman jeli, terlihat sesuatu yang signifikan dari ke-6 pohon itu. Ya, tinggi pohon yang paling kanan melampaui saudara-saudaranya. Pocong paling imut saja 1,5 kali dari tinggi badan saya (165 cm). Apalagi pocong yang bongsor itu. Padahal mereka ditaman bersamaan lho…

Saya pun tertarik melakukan pengamatan lebih lanjut. Kali ini terhadap diameter pohon. Sampel pohon adalah si bongsor 1 (paling kanan) dan si bongsor 2 (kedua dari kanan). Saya menggunakan ranting pohon sebagai pengganti penggaris. Dan hasilnya…

diameter bongsor-1

bandingkan..

diameter bongsor-2

Sedikit mengingat pelajaran biologi, tumbuhan adalah makhluk hidup yang geraknya terbatas. Kelangsungan hidupnya sangat bergantung dari ada tidaknya suplai makanan, hara di sekelilingnya. Apalagi pohon pocong ini berciri-ciri monokotil.

Selama ini pohon pocong itu tersirami alami dari air hujan atau sesekali saya menyiraminya dengan air yang ada di selokan. Observasi di lapangan menguatkan hipotesis saya bahwa pohon pocong itu tumbuh  paling jangkung karena lokasinya yang strategis. Dekat dengan selokan air kotor rumah! Ya wajar saja, mungkin jangkauan akarnya lebih dekat mencapai air dibandingkan saudara-saudaranya. Jadilah pertumbuhannya paling mencolok dibandingkan yang lain.

Tak lama kemudian, saya berpikir. Alangkah kasihannya pohon pocong lainnya. Mereka pasrah berpostur pendek, kurang disiram. Namun yang namanya makhluk Allah yang satu ini, tidak bisa demo kepada pemiliknya, apalagi mengajukan “putus hubungan” jadi pohon, kecuali sampai ajalnya tiba dari Yang Maha Kuasa.

Lain halnya dengan manusia. Manusia diilhami dengan akal pikiran, kemampuan untuk memilih alat indera dan akal (Surat 16:78;  surat 30:8). Karena diberi akal itulah maka manusia harus mempertanggungjawabkan segala keputusannya

Selain itu manusia diciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk (At-tin:4). Tapi begitu dihadapkan pada kondisi hidup yang tidak ideal, mereka mengeluh seolah-olah insan termalang di dunia. Padahal peluang untuk hijrah dan berubah itu selalu ada kan? Asal masih ada nyawa di badan dan fungsi otak masih bekerja..semuanya bisa dilakukan. Anehnya, semua hal dikeluhkan. Cuaca panaslah, lagi bokeklah, galau, bete, kondisi orang lain dan emosi-emosi negatif lainnya. Kurang bersabar dan syukur kali ya?

Maka tak salah apa yang tertera dalam Al-Quran bahwa manusia sudah bawaan badannya suka mengeluh (Surat 70:20). Upss…Am I one of that person?

Hari ini saya tafakur alam dari pohon pocong. Tentang bersyukur dan bersabar.

Read Full Post »

Saya sudah mendengar praktek pengobatan thabibun nabiy bekam atau hijamah ini sejak kuliah tingkat 3. Saat itu ada senior mahasiswa Aceh yang melakukannya dan dari penuturannyalah saya tahu bahwa bekam itu mengeluarkan darah kotor.

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Salam bersabda :

إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْفَصْدُ

Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah hijamah (bekam) dan fashdu (venesection).” (HR Bukhari – Muslim).

Akhirnya karena alasan ingin membuat sejarah dalam hidup dan mengalahkan ketakutan dalam diri, ba’da jumatan bulan Juni 2011 saya memberanikan diri ke kinik bekam dan ruqyah terpercaya di daerah Ciputat. Dari awal masuk, sudah tercium seperti aroma minyak gosok…hmm..cukup menyengat baunya.  Setelah mendaftar, saya menunggu untuk didiagnosa.

Tampaknya tak banyak antrian hari ini. sampai tiba-tiba…

Braakkk..seorang perempuan keluar dari ruang pemeriksaan dengan pandangan liar. Ia malah berlari ke arah jalan raya. Seorang lelaki dan anak kecil turut mengejarnya. Saya duga ini adalah suami dan anaknya. Anak kecil itu mulai menangis dan mengejar ibunya, sedangkan perempuan itu mengoceh asal. Perasaan saya mulai tidak enak.

Saya pura-pura sibuk baca koran. Di ruang tunggu juga ada beberapa terapis ikhwan yang menunggu, hendak mengamankan sang pasien. Tak jelas, suaminya tiba-tiba meninggalkan klinik itu. Saya lihat si perempuan itu kira-kira usia 30 tahunan dan anaknya yang 6 tahunan itu bertubuh kurus, penuh ingus dan luka di kakinya. Mulai deh saya berhipotesa bahwa keluarga mereka sedang dilanda konflik (kondisi kejiwaan ibunya yang labil) hingga menyebabkan anaknya tidak terurus. namun karena mereka semua di luar gedung,  suasana yang tegang lama-lama berangsur hilang.

Tak lama saya muai kebat-kebit. Perempuan yang masih kerasukan jin itu masuk ke lobi klinik dan duduk berjarak 1 meter dari saya. Alamak, gimana kalau dia tiba-tiba bringas? mencekik saya? marah-marah ga jelas? Jujur saya takut. Perempuan itu duduk seenaknya bahkan sampai tidur-tiduran segala. Saya konsen dengan terus berzikir dalam hati. Kalau saya takut, berarti saya kalah dong ama jin jahat itu!

“Apaan itu baca-baca segala..Makanya baca yang bener..Baca tu sejarah..Baacaaaaa!!

Ia berteriak kencang sambil mengacungkan jari ke arah televisi. Anaknya kembali menangis dan beringsut ke dekatnya.

Astagfirullah..Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini, doaku. Perempuan itu kumat lagi ni. Para terapis pura-pura cuek, saya pun demikian. Walaupun mulai keluar keringat jagung. Coba kalian di posisi saya, pasti harap-harap cemas juga kan? 😀

Hingga akhirnya 5 menit kemudian suaminya kembali dan mereka diarahkan kembali ke ruang pemeriksaan. Hufff…alhamdulillah.

Tibalah giliran saya didiagnosa. Terapis menanyakan keluhan saya. Sebenarnya saya tidak punya riwayat penyakit tertentu, cuma penasaran saja dengan yang namanya bekam. Akhirnya saya menuturkan kadang-kadang suka pegel di tengah telapak kaki jika sudah kebanyakan berdiri atau jalan. Eh, ustadnya sempat menanyakan mau diruqyah sekalian. Saya cuma nyengir, menolak halus dengan alasan tak punya cukup waktu. Padahal masih takut dengan peristiwa tadi 🙂

Setelah proses pembayaran (Rp. 70rb), saya menunggu untuk dipanggil. Sebagai informasi, bekam pasti dilakukan oleh terapis yang berpengalaman dan tersedia ruang bagi pasien laki dan perempuan. Layanannya juga dilakukan dengan alat yang steril (jarum baru) dan terapis dengan gender yang sama sesuai pasien.

Nah, the show start! Mulai deh prosesi bekam dimulai. Ada pengolesan minyak, lalu permukaan kulit ditembak semacam tabung untuk memvakumkan udara, lalu dicetek-cetek dengan pulpen yang berjarum. Tidak sakit, mungkin karena saya sangking amazednya melihat dari permukaan kaki saya mulai mengeluarkan titik darah. Prosesnya lebih kurang 20-30 menit. Ada bagian yang mengucurkan darah dengan deras (seperti di bagian dekat tumit), namun ada pula yang hanya beberapa tetes.  sepertinya tergantung jumlah darah kotor yang berkumpul di pembuluh tersebut.

Sumber Foto: eliman-international.com

Akhirnya, proses bekam saya selesai juga. Alhamdulillah, rasanya lebih baik. Setelah diperhatikan, tabung-tabung bekam memang meninggalkan bekas di kulit seperti lingkaran yang memerah. Ditambah lagi dengan bekas jarum-jarumnya. Tapi setelah 3 hari, bekas tersebut hilang dengan sendirinya.

Begitulah #CeritaPertama saya dibekam. nantikan #CeritaPertama edisi selanjutnya. Salam!

Read Full Post »

Alhamdulillah, Pemerintah Aceh kembali menawarkan peluang bantuan biaya pendidikan bagi masyarakat Aceh yang sedang menyelesaikan pendidikan S1, S2 dan S3 dalam dan luar negeri.
Info detail, silahkan ke TKP.
Semoga berhasil.
Pendaftaran sejak Senin, 11 Juli 2011 dan ditutup tanggal 9 September 2011.

Read Full Post »

Older Posts »