Feeds:
Posts
Comments

Aslinya saya anak baik :-). Gak neko-neko pas jadi siswa SMA Mosa. Dalam kamus saya,  taat peraturan, disiplin dalam hal shalat berjamaah, senam pagi dan belajar sudah menjadi panggilan jiwa..(ciee..) Intinya sejak masuk Mosa yang notabene sekolah berasrama, sejak itu pula saya siap jadi anak mandiri, rajin bla bla lainnya. Maklumlah, jika saya mbandel ntar laporannya pasti sampai ke rumah dan langsung deh dicap jelek. “Kok, anak guru begini..kok anak guru begitu..”.

Sampai suatu saat, saya melanggar peraturan sekolah. Pertama kalinya. Dan ini termasuk kejahatan kelas berat!

***

Ba’da Jumatan tahun 2001.

Saya gelisah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2.30 siang. Ya..tidak..ya..tidak. 30 menit lagi waktu prosus (les sore) dimulai. Saya kembali berhitung ulang berbagai kemungkinan dan waktu yang saya butuhkan untuk mencapai kota Banda Aceh. Satu sisi hati berbisik, ayo Bee..now or never! Ciptakan sejarah dalam hidupmu. Sementara sisi lainnya menimpali, hai Febi..percuma saja kamu keluar sekarang. Waktu yang tersisa tidak akan cukup. Jam 5 sore tinggal sesaat lagi. Belum lagi minta izin guru, waktu di jalan, dll. Susah..sudah, lupakan saja mimpimu itu!

Kegalauan hati saya berbuah mantap:  keluar. Ada agenda mendesak yang harus saya selesaikan di kota dan tidak mungkin diwakilkan. Akhirnya dengan muka memohon-memelas, saya izin ke guru piket.  Biarpun panik-panik bergembira, saya tidak berani main kabur. Berbekal izin, saya langsung naik kendaraan umum. Kepada room mate, saya hanya pesan bahwa saya ada agenda penting dan tetap akan pulang ke asrama Cot Geundreut.

Setelah tiba di Banda Aceh yang sebenarnya cuma berjarak 13 km, saya segera menghubungi Ibu saya via wartel. Zaman itu sudah mulai komunikasi via hp, cuma belum lazim saja. Intinya, saya minta ibu saya menjemput dan mengantarkan saya ke daerah Jeulingke dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam bayang-bayang sore, sampai juga saya di tempat tujuan.

Pas sekali. Pendaftar terakhir di injury time. Yap, teman-teman..saya saat itu memberanikan diri mendaftar sebagai peserta AFS atau program pertukaran siswa yang diselenggarakan Yayasan Bina Antar Budaya. Masih dalam kondisi berpeluh-peluh, saya menyelesaikan form isian. Untungnya staf registrasi yang bertugas saat itu adalah Kak Ina (Laina Hilma Sari) yang merupakan alumni Mosa 1998. Alhamdulillah, saya masih diterima pendaftarannya dan tercatat sebagai satu-satunya siswa Modal Bangsa yang ikut seleksi AFS tahun itu.

What next is ujian seleksi pertamanya, yaitu esok hari, Sabtu jam 8.30 pagi. Wah, harus susun strategi ni. Akhirnya, saya (dengan berat hati) memutuskan cabut untuk pertama kalinya alias menginap tanpa izin. Cabut syar’i. Sekali lagi saya tegaskan! Ini semata-mata demi kelancaran esok hari. Kalian percaya saya kan? 😀

Bayangkan, sulit dan sangat tidak efektif jika saya kembali ke asrama hari ini dan esokny harus izin lagi dari asrama pagi-pagi. Toh, besok juga hari Minggu dimana jadwal anak-anak Mosa pelesir ke kota. Tapi jadwal pelesir baru diizinkan setelah jam 9 pagi. Ga banget kan?Akhirnya, info singkat ini saya kabarkan ke room mate yang sudah punya hp. Pokoknya aman! Saya coba abaikan rasa salah yang sempat terselip di hati. Everything gonna be alright!

Malamnya saya istirahat sambil mempelajari materi dan berita terkini. Besok ujiannya adalah pengetahuan umum. Semoga besok lancar…

Subuh pukul 6, room mate saya menelpon ke rumah (waktu itu saya beum punya hp).

“Bee, gawat. tadi pagi ada absen subuh. Banyak yang bolos sehingga anak2 yang ga hadir dipanggil abis makan pagi. Balik ke asrama dulu ya, walau sebentar saja…

Hadeuuhh..saya senewen berat. Kok bisa anak-anak barak Anggrek pada bablas subuhnya? Bisa ketahuan ni status saya sebagai Ketua Barak Anggrek cabut! Bahaya bagi pencitraan 🙂

Akhirnya…dengan segala pertimbangan, saya kembali ke asrama, saudara-saudara! Abang saya yang mengantar. Ia menyetir  mobil seperti orang kalap, demi mencapai asrama Mosa tepat waktu. Bayangkan beres makan biasanya jam 7.30, saya harus bisa setor muka, lalu langsung capcus lagi ke lokasi ujian jam 8.30. Berasa kaya amazing race ni! Panik…

Musalla Mosa

Tiba di kampus Mosa, barak Anggrek sudah sepi. Tandanya teman-teman sudah berbaris di depan musalla. Saya lari dan langsung bergabung ke barisan. Tepat waktu! Tepat bahwa nama saya sudah dipanggil 1 menit yang lalu. Ohhh..pastaslah, muka teman-teman saya pada tegang bin cemas. Jelas, kelas I-1 dipanggil urutan pertama dan nama dengan urutan F sudah terlewati dan sekarang Pak Kepala Asrama sedang mengabsen urutan nama M.

Sambil mengatur nafas, saya sudah pasrah. Alamat kena hukum ni. Terlambat beberapa menit tadi sangat fatal rupanya, karena status saya yang cabut juga terbongkar. Kesalahan berlapis! Mulai dari tidak shalat subuh berjamaah hingga cabut dari asrama tanpa izin Ka. Asrama (saat itu Pak Hamid). Ada laporan ke Bapak Asrama, makanya room mate saya tidak bisa mengelak. Hufff…gondok berat rasanya. Ter-la-lu! Masa sebagai teman, ga ada cs-nya sama sekali! Tak tahukah ia kalau saya akan, sedang mengemban tugas negara!?! Perasaan sedih, palak, panik bercampur jadi satu.

Barak Anggrek

Akhirnya, dengan berani mengakui kesalahan, menjelaskan duduk perkara dan kegentingan yang saya hadapi, saya kena hukuman: korvey cabut rumput depan barak Anggrek. Yap, sudah tidak ada waktu untuk berdebat lagi. Segera saja saya menyelesaikan tugas secepat-cepatnya dan langsung berangkat lagi. Waktu sudah semakin sempit. Saya harus bergegas karena satu bagian sejarah hidup saya yang lain sedang menanti! AFS, I’m coming 🙂

 Tapi, sejak saat itu saya sadar..yang salah tetap salah. Terlepas akhirnya saya lulus AFS, namun tidak jadi diambil, that’s another story. Ga lagi deh  saya cabut dari asrama karena saya tidak berbakat, cabut dan ketahuan..hehe. Peace ya Pak…

Itulah #CeritaPertama melakukan pelanggaran asrama. Tidak untuk dicontoh ya! 🙂 Nantikan #CeritaPertama selanjutnya. Salam

Saya sudah mendengar praktek pengobatan thabibun nabiy bekam atau hijamah ini sejak kuliah tingkat 3. Saat itu ada senior mahasiswa Aceh yang melakukannya dan dari penuturannyalah saya tahu bahwa bekam itu mengeluarkan darah kotor.

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Salam bersabda :

إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْفَصْدُ

Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah hijamah (bekam) dan fashdu (venesection).” (HR Bukhari – Muslim).

Akhirnya karena alasan ingin membuat sejarah dalam hidup dan mengalahkan ketakutan dalam diri, ba’da jumatan bulan Juni 2011 saya memberanikan diri ke kinik bekam dan ruqyah terpercaya di daerah Ciputat. Dari awal masuk, sudah tercium seperti aroma minyak gosok…hmm..cukup menyengat baunya.  Setelah mendaftar, saya menunggu untuk didiagnosa.

Tampaknya tak banyak antrian hari ini. sampai tiba-tiba…

Braakkk..seorang perempuan keluar dari ruang pemeriksaan dengan pandangan liar. Ia malah berlari ke arah jalan raya. Seorang lelaki dan anak kecil turut mengejarnya. Saya duga ini adalah suami dan anaknya. Anak kecil itu mulai menangis dan mengejar ibunya, sedangkan perempuan itu mengoceh asal. Perasaan saya mulai tidak enak.

Saya pura-pura sibuk baca koran. Di ruang tunggu juga ada beberapa terapis ikhwan yang menunggu, hendak mengamankan sang pasien. Tak jelas, suaminya tiba-tiba meninggalkan klinik itu. Saya lihat si perempuan itu kira-kira usia 30 tahunan dan anaknya yang 6 tahunan itu bertubuh kurus, penuh ingus dan luka di kakinya. Mulai deh saya berhipotesa bahwa keluarga mereka sedang dilanda konflik (kondisi kejiwaan ibunya yang labil) hingga menyebabkan anaknya tidak terurus. namun karena mereka semua di luar gedung,  suasana yang tegang lama-lama berangsur hilang.

Tak lama saya muai kebat-kebit. Perempuan yang masih kerasukan jin itu masuk ke lobi klinik dan duduk berjarak 1 meter dari saya. Alamak, gimana kalau dia tiba-tiba bringas? mencekik saya? marah-marah ga jelas? Jujur saya takut. Perempuan itu duduk seenaknya bahkan sampai tidur-tiduran segala. Saya konsen dengan terus berzikir dalam hati. Kalau saya takut, berarti saya kalah dong ama jin jahat itu!

“Apaan itu baca-baca segala..Makanya baca yang bener..Baca tu sejarah..Baacaaaaa!!

Ia berteriak kencang sambil mengacungkan jari ke arah televisi. Anaknya kembali menangis dan beringsut ke dekatnya.

Astagfirullah..Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini, doaku. Perempuan itu kumat lagi ni. Para terapis pura-pura cuek, saya pun demikian. Walaupun mulai keluar keringat jagung. Coba kalian di posisi saya, pasti harap-harap cemas juga kan? 😀

Hingga akhirnya 5 menit kemudian suaminya kembali dan mereka diarahkan kembali ke ruang pemeriksaan. Hufff…alhamdulillah.

Tibalah giliran saya didiagnosa. Terapis menanyakan keluhan saya. Sebenarnya saya tidak punya riwayat penyakit tertentu, cuma penasaran saja dengan yang namanya bekam. Akhirnya saya menuturkan kadang-kadang suka pegel di tengah telapak kaki jika sudah kebanyakan berdiri atau jalan. Eh, ustadnya sempat menanyakan mau diruqyah sekalian. Saya cuma nyengir, menolak halus dengan alasan tak punya cukup waktu. Padahal masih takut dengan peristiwa tadi 🙂

Setelah proses pembayaran (Rp. 70rb), saya menunggu untuk dipanggil. Sebagai informasi, bekam pasti dilakukan oleh terapis yang berpengalaman dan tersedia ruang bagi pasien laki dan perempuan. Layanannya juga dilakukan dengan alat yang steril (jarum baru) dan terapis dengan gender yang sama sesuai pasien.

Nah, the show start! Mulai deh prosesi bekam dimulai. Ada pengolesan minyak, lalu permukaan kulit ditembak semacam tabung untuk memvakumkan udara, lalu dicetek-cetek dengan pulpen yang berjarum. Tidak sakit, mungkin karena saya sangking amazednya melihat dari permukaan kaki saya mulai mengeluarkan titik darah. Prosesnya lebih kurang 20-30 menit. Ada bagian yang mengucurkan darah dengan deras (seperti di bagian dekat tumit), namun ada pula yang hanya beberapa tetes.  sepertinya tergantung jumlah darah kotor yang berkumpul di pembuluh tersebut.

Sumber Foto: eliman-international.com

Akhirnya, proses bekam saya selesai juga. Alhamdulillah, rasanya lebih baik. Setelah diperhatikan, tabung-tabung bekam memang meninggalkan bekas di kulit seperti lingkaran yang memerah. Ditambah lagi dengan bekas jarum-jarumnya. Tapi setelah 3 hari, bekas tersebut hilang dengan sendirinya.

Begitulah #CeritaPertama saya dibekam. nantikan #CeritaPertama edisi selanjutnya. Salam!

Untuk anak yang tinggal di Banda Aceh dan sekitarnya, belajar mengendarai sepeda motor serasa wajib hukumnya. Karena naik kereta adalah transportasi yang lazim, murah dan terjangkau oleh mayoritas warga Banda. Tak heran, jalur angkotan umum yang terbatas dan tidak menjangkau jalan-jalan utama, menyebabkan anak-anak ini dikarbit untuk cepat besar. Dan salah satu tanda eksistensi “jadi orang besar” adalah bisa mengendarai motor.

Tahun 1998 belum dikenal motor matic. Kalau mau latihan mengendarai motor, pilihannya jatuh ke honda, sebuh merek motor yang menjadi trendmark saat itu. Kisah saya mulai bawa honda yaitu di kelas 6 MIN (setingkat SD). Sebuah masa yang dianggap cukup layak untuk belajar dengan pertimbangan minimal kaki sudah mampu menapak di tanah (walaupun masih jinjit) dan mampu mengimbangi massa honda.

Tak perlu lama, honda ibu saya jadi alat uji cobanya. Tempat berlatih di Jalan Bahtera Kampung Mulia. Cukup dekat dengan rumah dan lokasi jalan ini strategis sekali karena merupakan jalan buntu yang diapit oleh 2 lapangan kosong. Pelatihnya yaitu abang saya sendiri, Reza. Ok, sempurna kan?

Sore lepas hujan saya tetap bersemangat berlatih. Toh saya pikir bawa honda kan gitu-gitu aja ya? Asal bisa diawalnya, mengerti cara oper gigi, lancarlah…Basicnya sih harus biasa bawa sepeda dulu. Nah, minimal saya sudah akrablah dengan part honda. Rutinitas “memanaskan” honda di pagi hari membuat saya tidak grogi untuk menstart mesin, mengencangkan gas dll.

sumber gambar: esq-news.com

Setelah pengantar teori mengendarai motor dengan baik dan benar dari abang saya, maka it’s time to practise! Medan latihan yang mulus dan lurus membuat saya lancar jaya mengedarai motor. Dua tiga kali bolak-balik kepercayaan diri saya meningkat.

Wah, walaupun baru 1 kali latihan saya sudah tahap bisa. Mungkin ga lama lagi bisa tahap mahir dan bisa dipercaya ke jalan lalu lintas ramai. Yes..yes!

Tak disangka, saat ingin baik arah saya mulai kewalahan. Gas saya pelankan dan rem diinjak dalam-dalam. Namun mendadak saya hilang keseimbangan. Ups, kaki ini mencoba menggapai tanah dan tertatih mencoba jalan sambil berpegangan di stang honda. Bodi honda yang memang berat untuk anak seumuran 12 tahun menjadi beban bagi saya. Abang saya yang mengawasi di ujung jalan berteriak-teriak..mundur dulu!

Nah sayanya bandel. Menganggap sudut putaran sudah sempurna dan space untuk berbelok 360 derajat cukup lebar. Tentulah prediksi saya salah besar. karena roda depan sudah mulai keperosok ke selokan besar yang penuh air sisa hujan besar. Tekstur tanah yang gembur membuat kaki saya terbenam dalam lumpur. Mudah saja, kaki yang tidak kuat menapak sekaligus tidak kuat menopang bodi honda membuat saya kewalahan. Dalam beberapa detik, terjun bebaslah honda dan si anak bandel itu ke dalam parit panjang berair coklat. Hiks…

“Baaaaaaaaang…saya cuma bisa menjerit.

Akhirnya abang saya datang, menarik saya keluar dari parit yang kira-kira sedalam lutut orang dewasa. Honda yang ikutan nyemplung sudah berlepotan lumpur. Sambil menahan sakit di kaki, saya menepi di atas jalan aspal. ternyata tak ada yang luka, cuma beset-best saja di kulit. Alhamdulillah…

Setelah memastikan honda dalam keadaan baik-baik saja, kami pun pulang. pelajaran bawa dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan. Abang saya cuma ngomel sedikit saja. hehe..untung saja.

Sampai akhirnya, saya masih tetap mengendarai motor. Apalagi sejak SIM C di kantong. Tapi tenang saja, saya tipe rider yang baik dan benar lho. Pakai helm, taat peraturan lalu lintas dan tidak  kebut-kebutan 🙂

Mudah-mudahan saya dapat memperdalam teknik riding motor bike saya di Vietnam 😀

Ini #CeritaPertama saya mengendarai sepeda motor! Nantikan edisi #CeritaPertama berikutnya

Alhamdulillah, Pemerintah Aceh kembali menawarkan peluang bantuan biaya pendidikan bagi masyarakat Aceh yang sedang menyelesaikan pendidikan S1, S2 dan S3 dalam dan luar negeri.
Info detail, silahkan ke TKP.
Semoga berhasil.
Pendaftaran sejak Senin, 11 Juli 2011 dan ditutup tanggal 9 September 2011.

Medio Juli 1997

Saat sorot mata lebih berbicara daripada kata-kata maka itulah gambaran hari itu. Semua anak-anak kelas 6 ingin berada di sana. Di kelas baru itu. Kelas dengan meja dan kursi baru, meruap khas bau cat. Papan tulis yang hitam sempurna dan belum terukir tulisan arab bismillah. Itulah kelas 6D yang di sebelahnya adalah kelas yang difungsikan sebagai mushala. Kelas ekslusif bertembok bata, tidak berbatas papan yang bisa dibuka-tutup seperti kelas lain. Hari itu saya ada di sana. Bersama sekumpulan kawan-kawan yang didaulat sebagai anak kelas inti.

Rupanya ada skenario yang lebih menarik lagi. Kesempatan mencicipi kelas inti hanya berlangsung beberapa hari karena sesungguhnya tempat saya di kelas 6B. Entah mengapa akhirnya kelas inti itu dipecah dan murid-muridnya disebar di kelas 6A hingga 6E.

Kalian masih ingat siapa saja wali kelas 6A-6E? Ada Ibu Murni, Bu Fatma, Bu Ros, Bu Nurjannah dan Bu …(lupa). Ibu-ibu ini sangat kompak bagai lima sekawan bahkan urusan taplak meja kelaspun seragam, yaitu kain biru dengan motif uang koin dan ada rample-rampel. Mungkin kalau beli borongan, tawar-menawar harga kain dan ongkos jahitnya makin seru ya? 🙂

Cerita seru lainnya yang pasti mengesankan adalah lomba masak nasi goreng. Begini kisahnya…

***

“Bi, kita perlu bagi-bagi tugas, kata Musdya.

“Pasti. Masak nasi goreng kan gampang? Jawabku. Maklumlah, usia 11 tahun untuk anak perempuan sudah sepatutnya bisa mengerjakan beberapa tugas rumah tangga. Maka setelah Bu Fatma membagi kelompok berdasarkan deretan tempat duduk, kelompokku mulai berkonsolidasi. Job description telah tuntas. Saya bertugas bawa kompor dan peralatan memasak, Irfandi dan Shalihin membawa peralatan makan (piring, sendok, gelas), Musdya dengan racikan bumbu nasi goreng. Semua dapat tugas. Semua antusias dengan rencana lomba masak ini. Termasuk kelas 6 lainnya.

Tiba di hari H, heboh berat..Bisa dibayangkan, ada acara gotong kompor minyak dari rumah, geser-geser meja dan kursi dan menset dapur dadakan dan mulai mengolah bahan-bahan. Para siswi mulai keluar gaya mamak-mamaknya…Contohnya seperti ini:

“Eh, potong timunnya jangan tebal-tebal!

“Ulekan cabe dan bumbunya masih kasar!

“Nasi gorengnya masih pucat! Tambah lagi kecapnya…

“Jangan aduk nasi dan bumbunya pakai tangan..Jorok e..

Aaaahhh..pokoknya semua gabuk. Hehe…

Kelas 6 B menerapkan sistem yang berbeda. Ibu wali kelas kami hanya bertindak sebagai fasilitator, benar-benar membebaskan anak muridnya berkreasi. Akhirnya kelas penuh dengan harumnya minyak menumis bumbu, aroma kecap manis, garam, desing sodet dengan kuali ditimpali gelak tawa. Murid-murid berlagak bagai chef master. Sekompak mungkin dan berusaha keras untuk menyajikan sepiring nasi goreng lezat sebagai tester kepada dewan juri yang tak lain adalah ibu-ibu wali kelas.

Anak-anak sibuk memasak, ibu-ibu wali kelaspun tidak ketinggalan. Sibuk inspeksi dong! Mengawasi supaya anak-anak menjalankan step-step memasak dengan standar kesehatan dan keselamatan kerja :-). Secara banyak potensi bahaya di sana, mulai dari pisau, kompor, api, minyak goreng dan minyak tanah. Alhamdulillah, untungnya murid-murid aman-aman saja menjalankan misinya.

Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah 2 jam “berkutat di dapur”. Jarum jam dinding sudha menunjukkan pukul 11.30. saatnya mengakhiri acara masak-masak dan masuk kepada tahap serving. Yakin dan percaya diri saja, teman… Nasi goreng made in kelompokku pasti enak. Nasi goreng mulai disajikan di piring. Irisan tomat dan mentimun menghiasi sisi-sisinya. Dipadu dengan telur dadar dan taburan bawang goreng. Menu semakin komplet dengan minuman sirup patung plus biji selasih dan nata de coco. Sempurna..Perfecto! (kalau dipikir-pikir sekarang, ini padanan yang aneh -_-‘)

Saya sempat melirik ke kelompok sebelah…

“Mus, hebat ya si Nopi. Bisa buat bunga mawar dari tomat! Musdya melirik ke sebelah. Ia turut mengiyakan. Maka selanjutnya adalah sesi penilaian dewan juri. Satu persatu ibu wali kelas mencicipi nasi goreng buatan kelompok. Hmm…kami menatap harap-harap cemas. Untungnya tidak ada yang berkomentar seperti Chef Juna 🙂

“Wah, ini rasanya manis nak..kebanyakan kecap ya? Kata Bu Fatma. Kami hanya senyum-senyum. Dari penampakan fisik memang tak salah lagi..warna nasi goreng memang didominasi warna kecap..Hehe.. Ada pula nasi goreng yang terlalu pedas, asin dan tampilan pucat. Hehe..lengkap sudah. Tidak ada yang mengantongi poin sempurna. Namun tak disangka, kelompokku meraih juara 2 nasi goreng terbaik. Yeahhh..sedangkan juara 1 diraih Mawaddah dkk.

Setelah sesi penjurian, tanpa panjang lebar…saatnya makaaaaaannnn!! Alhamdulillah, semua nasi goreng buatan bocah-bocah kelas 6B rasanya enak dan enak sekali. Karena rasa tak pernah bohong 🙂

-sayangnya tak ada dokumentasi saat itu-

Nasi Goreng

 

Judulnya agak lebay ya..hehe :-). Sebenarnya ini ada catatan saya dalam mendonor darah. Tepatnya sejak tahun 2005 saya rutin berteman dengan PMI Bandung yang terletak di Jalan Aceh No.79. Tidak tanggung-tanggung, sekarang saya sudah mendonor sebanyak 13 kali. Itu artinya ada 13 cerita yang berbeda dan luar biasa.

Kalau ada yang bertanya apa motivasi saya menjadi pendonor, maka saya ada 2 alasan. Pertama, saya ingin membuat sejarah dalam hidup saya. Banyak teman saya yang tahu betapa mulianya mendonorkan darah, namun tetap saja menolak jika diajak. Alasannya takut jarum suntik. Well, padahal ketakutan itu tidaklah seperti yang dibayangkan. Kedua, alasan kemanusiaan. Bayangkan 300 cc darah itu bisa membantu seseorang yang membutuhkan. Ini mengajarkan saya tentang memberi tanpa embel-embel. Toh saya juga tidak tahu kepada siapa darah itu akan mengalir dan di belahan bumi mana ia berada. Satu yang saya tahu, pasti resipien itu akan melantunkan doa kebaikan kepada pendonor. Aamin…

Foto: msnbcmedia3.msn.com

Ok, kembali ke cerita donor darah saya. Pengalaman pertama pasti berkesan dong.. Yup, donor darah di Kampus ITB, tepatnya di Labtek V. Salut untuk unit dan himpunan mahasiswa ITB yang rutin mengadakan program donor darah. Kegiatan ini cukup menjadi favorit di kalangan anak ITB karena cukup mudah untuk diselenggarakan. Peminatnya juga ramai. Alhasil, saya yang sudah tahu sejak 2 hari yang lalu benar-benar mempersiapkan diri untuk donor. Sarapan dan tidur yang cukup. Dua hal yang buat anak ITB agak gampang-gampang sulit :-).

Alhamdulillah, 30 Agustus 2005, dengan kolaborasi tekanan darah yang baik, kadar Hb juga ok..maka dengan ikhlas saya sumbangkan sekantung darah B. Rasanya? Sakit namun terkalahkan rasa excited! Apalagi sesudahnya dibekali snack, minuman kotak dan souvenir. Sejak saat itu saya rutin donor per 4 bulanan.

Di lain kesempatan, saya dan teman-teman juga biasanya langsung mengunjungi PMI Bandung untuk donor darah. Hebat, unit ini stand by setiap hari hingga jam 21.00 WIB. Kalau donor di PMI Bandung, dapat popmie, telur rebus dan roti marrie. Hehe..kesejahteraan pendonor terjamin deh.

Cerita seru dan senangnya sudah. Kini giliran cerita “yang ga enaknya”. Saya pernah ditolak donor karena alasan kesehatan. Sangking niatnya saya kembali mendatangi PMI keesokan harinya dan hasilnyaa..sama, ditolak. Padahal saat itu saya sehat dan sedang tidak beraktivitas berat. Pernah juga menemani teman yang mau donor (untuk pertama kalinya) dan dia dengan suksesnya berkunang-kunang dan hampir pingsan. Wahh, panik-panik bergembira.  Saat itu kami menjadi pendonor terakhir, untunglah dokternya mau menunggu hingga teman saya cukup pulih kondisinya.

Sekarang saya mau bahas tentang tempat donor darah. Jika dibandingkan antara PMI Bandung dan PMI Banda Aceh, jelas aktivitas PMI Bandung lebih mengeliat. Pendonor silih berganti berdatangan dan kesadaran masyarakat untuk donor darah secara suka rela juga sudah terbangun. Sedangkan di Banda Aceh, saat saya mau donor malah ditanya, mau donor buat saudara yang mana? Saya bengong plass..Belakangan saya tahu, bahwa di Banda Aceh seseorang terindikasi mendonor darah hanya saat ada keluarga/saudara/teman yang butuh. Hikss…

Anyway, sebagai penutup saya meminta pembaca blog yang budiman untuk mendoakan saya agar tetap sehat dan bisa donor darah terus. Ayo, giatkan aksi donor darah di komunitasmu. Jadikan itu sebagai sebuah gaya hidup (pesan Ka. PMI Pak Jusuf Kalla). Ohya, doakan juga supaya kartu PMI saya tidak hilang sehingga rekam jejak aksi donor darah saya terdokumentasi dengan baik. Mana tahu ntar dapat penghargaan atau diundang ke Istana Negara, bertemu dengan Presiden RI pas HUT RI 17 Agustus 🙂 Who knows?

Yuks ahhh, donor darah!

Kartu PMI Bee

Kartu PMI Bee

PEMERINTAH ACEH MENYEDIAKAN BEASISWA PENUH UNTUK S2 DAN S3 TAHUN 2011.

  1. DAAD Jerman (20 beasiswa): Ekonomi, Teknik, Sains, dan Farmasi.
  2. Taiwan (50 beasiswa): Teknik, Sains, Farmasi, Pendidikan Guru MIPA, Pertanian, Arsitektur, Kesenian, dan Pendidikan Kejuruan.
  3. USA (20 beasiswa): Ekonomi, Keuangan, Teknik, Sains, Hukum Perdagangan Internasional, Hubungan Internasional, Geologi, Pertambangan dan Perminyakan.
  4. Thailand (25 beasiswa): Perikanan, Pertanian, Farmasi, Keperawatan, Kedokteran, Teknik, Sains, dan Pendidikan Kejuruan.
  5. India (25 beasiswa): Kedokteran, IT, Teknik, dan Sains.
  6. Malaysia (70 beasiswa): Ilmu Agama Islam, Ilmu Mawarist (Hakim Syari’ah), Tenaga Perencana Pembangunan Tahap III, Perikanan, dan Bimbingan Konseling.

SYARAT-SYARAT

  1.  Usia pelamar untuk program S2 dan S3: PNS (Dosen/Guru) max. 40 tahun dan PNS Lain max. 35 tahun.
  2.  Usia pelamar untuk Non-PNS max. 29 tahun.
  3.  Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) untuk USA 3,00 dan negara lain 2,80 dengan skala 4,00.
  4.  Surat izin mengikuti tes beasiswa dari atasan tempat instansi bekerja (bagi PNS, CPNS  atau pegawai kontrak)
  5.  Surat izin dari suami/istri bagi yang  menikah.
  6.  Sehat Jasmani dibuktikan dengan Surat Keterangan dari dokter Pemerintah.
  7.  Fotokopi KTP atau Paspor (halaman depan saja).
  8.  Pasfoto 4 x 6 = 4 lembar dan 3 x 4 = 4 lembar.
  9.  Fotokopi Kartu Keluarga (format baru).
  10.  Formulir daftar riwayat hidup dan formulir pendaftaran (silahkan download kedua formulir tersebut di: http://beasiswanad.wordpress.com/
  11. Khusus untuk pelamar beasiswa ke Jerman (dibuka hanya untuk program Master) silakan download formulir aplikasi DAAD di:https://scholarship.daad.de/obdva/www_echt/www/index.html?lang=en&section=status

–   Melampirkan rincian Motivation Letter dalam Bahasa Inggris.

–   Surat Rekomendasi terbaru (dalam bahasa Inggris) dari dosen dan penasehat akademik atau staf riset senior yang relevan dengan aplikasi beasiswa.

–   Jurnal/publikasi jika ada.

–   Surat keterangan pernah mengikuti practical training/ stay abroad yang relevan dengan aplikasi beasiswa (jika ada).

–   Transkrip dan ijazah legalisir (dalam Bahasa Inggris).

–   Sertifikat Bahasa Jerman jika ada.

–   TOEFL ITP min. 527 /IELTS  min. 6.

–   Pendaftaran ditutup tanggal 7 Mei 2011, pukul 12.00 WIB.

–   Wawancara diadakan tanggal 23 – 24 Mei 2011 (tempat akan ditentukan kemudian)

12.     Syarat-syarat lain untuk Non Jerman :

–   USA TOEFL  ITP 540; TOEFL IBT 83; IELTS 6,5

–   Taiwan dan India TOEFL ITP 500

–   Malaysia dan Thailand TOEFL  ITP 470

13.   Transkrip dan ijazah legalisir.

14.   Semua dokumen (Hard copy dan Soft copy) dikirimkan ke alamat :

Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Aceh

d/h Komisi Beasiswa Aceh

Kompleks SMK Negeri 3 Lama Lt. 2, Jl. H. Di Murthala No. 5 – Lampineung

Banda Aceh

Telp  0651-7551696

15.  Berkas permohonan menjadi hak milik LPSDM. LPSDM tidak mengadakan korespondensi atas semua dokumen yang telah diserahkan.

16.  Untuk pelamar ke negara selain Jerman pendaftaran ditutup Tanggal 21 Mei 2011 pukul 12.00 WIB.

DTO

Gubernur Aceh

Sumber: http://www.facebook.com/notes/saed-mahathir/pengumuman/198057023563989

 ·  · Share

Setelah siangnya panik-panik bergembira, pulang ke rumah dalam keadaan padam listrik. Entah ini memang jadwal pemadaman atau tidak, saya tidak tahu. Sore merambat senja. Lampu-lampu mulai menyala dan rumahku masih gulita. Kenapa lagi ini ya?

Padahal malam sebelumnya hujan deras dan rumah juga mati lampu. Genset ada, tapi udah diotak-atik oleh my dad tidak berfungsi juga. Sampai-sampai Pak Munar , tetanggapun turun tangan. Hitung-hitung kan beliau insinyur…

Sayangnya ya, malam ini none of my my dad and brother were at home. Pertama-tama, saya cek saklar meteran listrik. Cetekin ke kanan, lampu ga nyala. Cetekin ke kiri, sama saja. Ahh, di sisa-sisa batere hp yang sudah sekarat akhirnya saya telpon abang saya, minta tutorial menyalakan genset.

“Coba lihat tombol yang hitam, katanya

“Hitam yang mana? Ada banyak ni, kataku. Mama saya membantu mengarahkan sinar senter LED ke mesin genset.

Tangan kanan memegang hp, tangan kiri mencoba meneliti sejumlah tulisan dan tombol. Wah, asli ga ngerti coy! Padahal kemarin datang ahli listrik, saya sudah diajari cara menghidupkannya. Kelihatannya tutorial jarak jauh dengan abang saya tidak berhasil. Akhirnya, saya dan mama memutuskan untuk jalan-jalan malam. Hehe…

Tak disangka, satu kota Banda Aceh juga mati. Lampu penerangan jalan di Tgk.Daud Bereueh padam. Beberapa warkop terang seadanya. Lampriet padam, lapor seorang teman via sms. Ternyata mati lampu sekota ya? Berarti saya tidak perlu misuh-misuh sendiri dengan padamnya listrik di rumah.

Selesai jalan-jalan malam, lampunya nyala. HORE! Tapi itu di rumah tetangga sebelah. Hiks, rumah saya? Padam. Akhirnya karena keadaan yang mendesak (nasi habis, isi kulkas sudah mencair, batere hp sakratul maut) mama saya phone a friend lagi. Lagi-lagi Bu Dian (mudah-mudahan beliau tambah pahala, amiin). Di tengah suasana yang sendu, hujan gerimis, saya dan mama tunggu di teras luar. Menunggu utusan ahli listrik.

Syukurlah, dalam 30 menit datang 2 orang pria. Sambil mengecek saklar ini dan itu, ternyata ditemukan sumber masalahnya yaitu  4 saklar listrik yang saya tidak tahu fungsinya apa dan di garasi. Rahasianya, kondisi listrik nyala jika semua tombol itu mengarah ke atas. Jelas saja lampu padam karena ada 1 tombol yang mengarah ke bawah. Olala…sepele ya?

Solusinya Benar-benar tak kurang dari 2 menit. Kebayang dong si abang tukang listrik itu rumahnya di daerah Lhok Nga, malam-malam, keadaan hujan, susah payah ke Lampulo dan ternyata trouble listriknya cuma ecek-ecek? Mohon maaf dan terima kasih saya ucapkan. Semoga amal ibadah abang tukang listrik dibalas berlipat ganda oleh Allah.

Dengan ini, saya menyatakan: Saya (tidak) janji untuk tidak gaptek lagi 🙂

Rupa-rupa Pagi

Untuk yang tinggal di daerah kota besar dan ada slum areanya pasti sudah lazim dengan kehidupan di gang sempit, padat dan hanya bisa dilintasi sepeda motor. Kehidupan di daerah tersebut rata-rata kompleks, perbauran antara masyarakat asli maupun para karyawan atau mahasiswa pendatang yang butuh kost-kostan murah.

Bukan sekali-dua kali pula daerah seperti ini menjadi sasaran pencurian, pengemis, pengamen yang menghampiri rumah ke rumah hingga pemulung. Pagi itu, saya melihat sesuatu bingkai kehidupan yang lain.

Niat awalnya adalah membeli jus buah. Maka sembari menunggu pesanan, saya duduk di bangku panjang di luar warung itu. Ya namanya juga jalan gang, pasti rame ya…Tiba-tiba sesosok lelaki 40an tersuara keras.

“Jadi kafir itu ada dua ya neng. Kafir zhimi dan kafir…(saya lupa dan saya KAGET SEKALI!)

Makin lama dia semakin mendekat ke arah warung dan tetap dengan khutbahnya. Langkahnya sedikit terseok dan ditopang satu kayu penyangga. Fisiknya sehat dan lengkap.

“Maka kita harus selalu membantu yang kekurangan, bla..bla..

Dua pelajar tanggung yang juga duduk di warung mulai kasak-kusuk, tidak nyaman. Untungnya pesanan saya sudah selesai dan saya masuk ke warung. Takut kalo memdadak si Bapak itu tiba-tiba kalap dan bertindak agresif. Seremmm…

Pengemis di sela hari

Sambil membayar, saya pun bercakap-cakap dengan si Ibu penjual jus.

“Kehidupan makin sulit dan tingkah orangpun makin aneh-aneh saja ya mbak? Kasihan, padahal tadi orangnya ga cacat-cacat amat.

“Hmm, iya bu. Ada yang sehat namun memilih jadi pengemis, ada juga yang tetap usaha seperti keliling kampung bawa sapu atau tukang sol sepatu. Mereka berusaha dengan cara yang berbeda dan pasti tiap keringat merekapun akan berbeda nilainya, jawab saya.

Sepulang dari warung itu, banyak pikiran berkecamuk. Intinya kehidupan ekonomi yang sulit bisa mebuat orang-orang tak berdaya. Namun keimanan yang kering justru lebih berbahaya. Hidup harus kian peka dan pengendalian diri. Jangan berlebih-lebihan. Baiknya pas-pasan (pas butuh, pas ada 🙂 ). Habiskan makanan yang anda makan.

Pikirkan berapa banyak energi yang dimulai dari mulai menanam, mengolah dan menyajikannya di piring dan berakhir sia-sia. Padahal di saat yang sama, di belahan bumi lain banyak yang gizi buruk dan tidak bisa makan nasi.

Sayup-sayup, ocehan khutbah gratis tadi masih terdengar. Mungkin dia sudah di gang yang lain dan matahari kian tinggi…

Aslinya saya gaptek di dua urusan ini. Permesinan dan alat elektronik/listrik. (Sebenarnya saya gaptek juga untuk hal-hal yang lain :-D).  Bisanya cuma pakai dan kalaupun tiba-tiba ada trouble, sok-sok baca manual book dan ujung-ujungnya nyerah. Sampai saat ini pun, saya mengandalkan cara-cara praktis yaitu tinggal panggil abang saya jika printer ngadat atau bingung saat membuka tangki bensin mobil.

Tapi hari itu lain, karena dua lelaki di rumah alias bapak dan abang saya sedang di luar kota. Dan mama saya sama saja, 11-12 dalam hal kegaptekan ini.

Pagi di Banda Aceh cerah ceria alias panas. Saya biasanya jadi driver andalan, ngantar mama ke pasar, ke sekolah dll. Tiba di sebuah rumah sakit untuk suatu keperluan, sayapun duduk-duduk di lorong rumah sakit. Ngadem di dalam mobil di jam 11 siang bukan ide yang tepat ! Urusan mama saya pun kelar. Pas mau masuk mobil, kenapa ya remotenya tidak berfungsi. Saya tekan tombol unlocked, tak ada tanda-tanda lampu mobil hidup. Maka saya pun membuka manual dari pintu mobil. Tiba-tiba, alarm mobil dengan kencangnya berbunyi…Berisik sekali. Saya tutup pintu, suaranya masih tetap nyala. Panik…Terlebih di rumah sakit yang harusnya suasana sepi dan tidak berisik. Tiiiinnn..tiiiinnn..tiinnn. Orang-orangpun menoleh ke arah sumber suara dengan tanda tanya -mobil siapa sih itu, berisik sekali.

Seorang bapak berseragam tentara menghampiri mencoba mengutak-atik remote. Baru deh padam. Rupanya urusan belum selesai, karena pas pintu mobil dibuka..alarmnya bunyi lagi. Duuhh, kenapa ini? Si bapak bilang, mungkin habis batere. Dia menekan-nekan lagi remote, berakhirlah bunyinya.

“Kayanya ada kabel yang harus dipotong dulu, ” kata si bapak itu.

“Wah ga apa-apa Pak. Yang penting saya bisa masuk, ntar dibawa ke bengkel.

“Saya mau jemput anak dulu kalau begitu. Sebentar ya..

Jadilah saya dan ibu saya menunggu si Bapak Tentara itu. Semoga dia berbaik hati kembali. Hmm, i really dont have any idea about this. Daripada sok tahu, ntar malah bunyi lagi kan repot..Tunggu si Bapak saja deh.

Menit-menit berlalu. Beliau yang kami nantikan itu belum muncul. Mama saya sudah tidak tenang. Akhirnya, kami memutuskan untuk phone a friend alias menelpon Bu Dian, salah satu staf di kantor. Alhamdulillah, tak lama datang Bang Ilham, utusan Bu Dian yang menangani hal tersebut.

Saat diutak-atik, alarm berbunyi dengan santainya…Tiiinnnn..tiiinn..tiiinn..suaranya tidak merdu sama sekali. Saya pasrah saja. Bang Ilham kemudian dengan cekatan membuka kap mesin, menelusuri kabel-kabel dalamnya dan hup..menemukan sumber masalah. Soket diputuskan dan berakhirlah alarm bawel itu. Fuuiihh, lega. Bapak tentara itu sudah kembali dan saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan beliau membantu kami.

Any trouble? Think Fast

Saya diajari singkat isi dalam kap mobil dan tetap saja manggut-manggut ga ngerti. Aslinya saya pengen cepat-cepat pulang minum cendol dingin :-). Akhirnya, tukeran mobil dengan Bang Ilham. Innova yang alarmnya ngadat dibawa ke bengkel.

Tiga puluh menit berselang, innova sudah kembali ke rumah. Dari hasil pengecekan, ternyata batere remote baik-baik saja. Alarm berbunyi karena ada pintu mobil yang belum tertutup rapat yaitu pintu bagasi. Ohya, saya ingat. Kan tadi baru refil galon dan sepertinya pintu tidak tertutup rapat. Baiklah, saudara-saudari. Perlu diingat bahwa, jika alarm remote mobil berbunyi bisa jadi karena pintu mobil tidak tertutup rapat dan kita menekan tombol lock. Maka saat menekan unlock..mobil akan berbunyi. Fiiuuuhh, sepele ya?

Huhu, konyol sekali. Saya sadar sedikit-sedikit harus bisa solusi praktis dalam hal tersebut. Apalagi untuk benda-benda yang ada di sekitar rumah.

Malamnya saya menemui kegaptekan jilid 2 (#bersambung)