Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘anjing’

Binatang apa yang kalian takuti? Cacing? Ular? Cecak? atau ayam?

Saya takut anjing dan tikus. Jika ditelusuri asal muasal ketakutan itu, mungkin dimulai sejak kecil. Walaupun tidak punya pengalaman traumatik, rasanya ingin kabur jika ada 2 makhuk itu minimal radius 5 meter dari saya.

Kalau dipikir-pikir, kasihan juga kepada hewan A dan T itu. Trademark mereka kurang elit. Anjing sering dijadikan kata-kata umpatan kasar bahkan ungkapan ekspresi. Mulai dari kata anjing, anjir, anjrot, dan modifikasi huruf a-n-j-i-n-g lainnya. Statusnya najis berat di dalam agama Islam. Kalaupun ada yang berbakti, paling banter jadi hewan pemburu dan pelacak. Sama halnya seperti tikus. Asosiasi hewan pengerat ini kerap dihubungkan dengan para koruptor, politikus dan profesi yang culas. Tak heran, dalam kehidupan kedua hewan ini dianggap mengganggu dan penyebar penyakit. Rabies dan leptospirosis contohnya.

Tapi nampaknya, saya tidak bisa mengelak bahwa di komplek asrama SMA Mosa banyak  mr. doggy. Kawanan hewan itu bebas berkeliaran dan sempat melonjak populasinya. Malam-malam anjing di Mosa juga suka melolong sendu, membuat suasana menjadi spooky. Siang hari bila lengah sedikit, Mr. doggy leluasa singgah bahkan sempat masuk ke barak. Jika sudah demikian, korvey sama’ barakpun dilakukan. Ritual menyiram lantai barak dengan 7x siraman air suci plus dicampur tanah ini minimal dilakukan 1 kali dalam setahun. Namun, sempat juga Barak Anggrek kecolongan karena teledor dengan pintu depan. Sama’ pun dilakukan lagi. Ga capek sih, karena dilakukan bersama-sama. Asal syaratnya suplai air cukup dan ada irisan waktu luang bersama antara penghuni asrama.

Tapi #CeritaPertama kali ini lebih spektakuler. Lagi-lagi terjadi di Barak Anggrek…

Saya masih kelas I dan itu terjadi di tahun 2001

Lepas makan siang sebelum prosus adalah waktu yang paling enak buat ngaso. Santai-santai sambil dengar walkman plus semilir angin dari kipas. Siang yang sempurna itu mendadak rusak.

“Ehm, bau apa ni? Menyengat kali! celetuk my room mate.

Iya..bau apa ya? Kami sekamar mulai selidik, mana tahu ada cicak terjepit di pintu. Nihil. Ya sudah, investigasi dihentikan karena baunya juga mendadak sirna.

Esoknya kehebohan terjadi. Salah seorang penghuni Anggrek shock berat setelah kembali dari tempat jemuran. Tak disangka, seekor anjing mati di sana. Kontan saja anak-anak penasaran. Semua ingin melihat walau sambil tahan napas. Saya juga ikutan mengintai dari jauh. Takut plus masih tidak percaya kenapa anjing itu mengakhiri hayatnya di sana.

Oh, ternyata mayat anjinglah penyebab aroma bau nan menusuk hidung. Saat itu tidak ada tindakan yang dilakukan selain mengeluh bau..bau..dan bau. Serba salah juga jadinya. Kita (penghuni barak) berharap ada Bang Neh yang mau mengeksekusi (menggubur) tapi tampaknya beliau sibuk.Hari-hari di barak yang harusnya menjadi tempat istirahat berubah 180 derajat menjadi tidak menyenangkan. Terbayang jika angin sepoi berhembus, maka yang paling sengsara duluan adalah kamar 9,8,7. Posisi kamar 2 Anggrek agak bagus, masih agak jauh dari TKP. Ibu asrama (bu Tawir) bahkan sudah menitahkan, tepatnya mengultimatum bahwa mayat anjing itu harus segera dikubur.

Nah lho! Masalahnya siapa yang mau melakukannya? Saya sebenarnya enggan, namun tidak mungkin juga melemparkan ke Barak mawar atau melati. Secara Mr. doggy nya tewas di wilayah teritorial barak Anggrek dan saya, sebagai ketua barak saat itu perlu mengambil tindakan segera. Hufff…

Setelah menggelar rapat intrernal barak, maka langkah eksekusipun dirancang. Petugas misi ini adalah 2 orang perwakilan dari tiap kamar. Alat-alat pendukung mulai dikumpulkan. Waktu pelaksanaan adalah hari Minggu pagi. Deal!

Hingga hari eksekusipun tampaknya tak ada bala bantuan dari kaum Adam :-(. Padahal saya ingat, beberapa abang kelas tiga suka berseuara miring jika melintas depan Barak Anggrek. Ihhh..Barak Anggrek bau! Tapi ya sudahlah, the show must go on.

Setelah menyiapkan diri, rombonganpun ke lokasi. Masya Allah..bangkai anjingnya besar sekali. Kayanya ini induknya. Posisinya masih utuh, kaku dengan mulut sedikit terbuka. Whhaaa..Baunya juga ga nahaaaann..Udah 4  harian bangkainya nganggur di situ. Isi perut saya sudah mulai bergejolak, namun saya berusaha bertahan. Rasa mual, takut bercampur jadi satu. Beberapa anggota tim yang tidak kuat langsung menyingkir. Maka langsung saja langkah pertama, menyiramkan minyak tanah ke mayat itu. Kata Bu Tawir, ini untuk menghilangkan baunya and it works!

Jamila, expert dalam hal cangkul-mencangkul langsung memainkan perannya. Cangkul yang cuma satu menyebabkan hanya Mila sendiri yang mengerjakan. Untungnya gadis ini cukup terlatih. Dalam sekejap lubang kira-kira ukuran 1m x 60 cm dengan kedalaman 70 cm sudah selesai.

Dan ini yang paling heboh. Acara menggiring bangkai itu ke dalam lubang. Kami menggunakan ranting-ranting pohon yang kokoh, mulai menyodok dari arah samping. Bayangkan, saat itu posisi saya hanya 1 m dari bangkai. Andai itu masih anjing hidup pasti saya tidak akan mau.

Bangkai anjingnya cukup berat, agak lama baru bergeser. Stik kayu kami ayunkan terus dengan semangat. Sedikit demi sedikit bangkai sudah mendekati lubang. Hup, 1 m..60 cm lagi..30 cm..Ayo terus kawan-kawan! Saya menyemangati tim. Bak menggiring bola ke gawang dan akhirnya..gol! Bangkainya masuk sempurna ke lubang. Huff, legalah kami semua. Mila pun melakukan tahap finishing dengan menimbun lubang hingga padat. Alhamdulillah, misi selesai!

Selesai dari prosesi tadi, saya belajar beberapa hal. 1. kematian akan menimpa semua makhluk hidup, dimanapun ia berada. 2. Pelaksanaan pemakaman harus diselenggarakan dengan cara baik dan secepatnya demi kesehatan (jika kasusnya hewan). 3. Saya menaklukkan rasa takut saya kepada anjing (walaupun sudah mati) 🙂

Itulah #CeritaPertama saya menggurusi pemakaman seekor makhluk Allah. Sampai jumpa di edisi #CeritaPertama berikutnya. Salam!

Imagenya disengajakan anjing lucu 🙂

Read Full Post »