Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘donor darah’

Alhamdulillah, sudah 3 pekan saya berada di negara dengan julukan der Panzer. Yup, tepatnya 3 Agustus 2012 mulai merasakan hawa Sommer di kota Dortmund, Jerman. Untuk kesekian kalinya, siang yang cerah ini saya dan teman-teman Aceh memutuskan untuk ke daerah Zentrum. Daerah ini adalah zonanya belanja. Toko-toko dengan meriahnya menyambut pembeli dengan tulisan sale, sale dan sale. Aneka produk mulai dari pecah belah, ATK, fashion, restoran, hingga komedi putar untuk anak-anakpun hadir memeriahkan suasana. Tak heran jika kawasan ini sangat ramai dikunjungi dan berpotensi untuk menjadi meeting point, khususnya akhir pekan.

Setelah selesai dengan agenda mendaftar SIM card dari suatu provider hp, kamipun beranjak pulang. Tapi tak lama berselang, ada mobil van besar yang sedang parkir. Ternyata itu adalah mobil Deutsch Rote Kreuz yang sedang melakukan aktivitas Blut spenden atau kegiatan donor darah. Terang saja, saya yang hobi donor darah merasa terpanggil untuk ikut serta :).

Blutspendemobil

Dari kami berlima, hanya saya dan Sayed yang tertarik untuk donor darah. Apalagi ini pertama kalinya bagi kami untuk donor darah di negara lain. Kami pun menghampiri seorang ibu petugas yang stand by di counter depan. Sayangnya beliau tidak cukup mahir berbahasa Inggris dan kamipun belum cukup lancar bahasa Jermannya :). Setelah berpikir, diam..pikir dan diam lagi, akhirnya dengan segenap kemampuan yang ada, saya bertanya:

“Was sollen wir tun, Blut zu spenden?

(apa yang harus kami lakukan untuk donor darah?) Padahal aslinya mau tanya “Apa syarat menjadi pendonor darah? Tapi kalimatnya ribet, ditambah tidak ada perbendaharaan kata yang cukup 🙂

Beliaupun langsung nyerocos..bla..bla..bla..Ngerti? ada, walau sedikit. Intinya si petugas harus bertanya dulu ke rekannya selaku dokter di mobil. Sekalipun penggunaan bahasa Inggris beliau tidak mumpuni, tapi dari bahasa tubuhnya menyiratkan bahwa ia adalah pribadi yang bersahabat. Tak lupa saya sampaikan bahwa saya sudah cukup sering donor darah di negara asal, Indonesia. Selang beberapa saat, ia kembali dan menjelaskan bahwa kami perlu melakukan tes malaria sebelum menjadi pendonor. Sayangnya hasil uji tes tsb baru dapat diketahui setelah 14 hari.

OK, karena sudah terlanjur niat donor darah dan bersedia menjalani tes, maka saya dan Sayedpun mengantri giliran dipanggil ke mobil. Sang petugas berkata bahwa hari ini cukup ramai dan antrean pendonor terus penuh. Wah, antusiasme yang lumayan tinggi! Matahari sudah tidak terlalu terik dan kami menunggu dengan sabar. Tepat pukul 15.45 pintu van terbuka, saya masuk sedangkan Sayed masih di luar menunggu antrian. Ohya, untungnya ibu petugas sudah mengatakan bahwa dokter yang akan memeriksa bisa berbahasa Inggris.

Dari pengamatan awal, dokter ini seusia saya. Sedangkan interior dalam mobil cukup apik. Ada ruang pendaftaran dan data, pemeriksaan, dan ruang donor darah. Saat itu ada 2 orang yang sedang menunggu antrian dan 4 orang yang sedang disedot darah 🙂

Setelah menyapa, saya sampaikan bahwa “Ich kann ein bisschen Deutsch sprechen” alias saya cuma bisa bahasa Jerman little-little 🙂. Ia pun meminta saya memperlihatkan pasport dan mencatat data diri. Saya sih sudah semangat 45 menjalani tes, sudah ngebet donor euy!

Saat mengamati paspor, terjalinlah percakapan antara saya dan dokter.

Dokter1: “Sudah berapa lama di Jerman?

Saya : “3 pekan. Tapi saya di Dortmund selama 2 bulan saja untuk keperluan les bahasa (Sprachkurs). Selanjutnya studi di Goettingen.

Kemudian dia berbicara kepada rekannya, seorang bapak paruh baya, apakah donor ini bisa tetap berlanjut di Goettingen.

Dokter2: Berapa lama kamu akan tinggal di Jerman?

Saya: 2 tahun

Dokter2: Kamu harus sudah tinggal di sini 4 tahun, lalu menjalani tes malaria. Baru setelah itu bisa mendonorkan darah.

Saya: Whaatt?! (dalam hati)

Setelah itu tak perlu waktu lama, saya keluar sambil berpikir. Kok bisa ya? Haha, ternyata ribet ya untuk urusan donor darah di negeri orang! Saya tidak tahu persis apakah memang sudah seperti itu aturannya? 4 tahun gitu loohhh…Ya, mungkin saja pemerintah Jerman menerapkan standar keamanan yang sangat tinggi dalam hal ini. Apalagi begitu tahu calon pendonor dari Indonesia, negara yang masih bergelut dengan malaria dan penyakit tropik lainnya.

Sebelum meninggalkan lokasi, saya pamit ke ibu petugas yang ramah itu dan menjelaskan bahwa sepertinyanya selama studi di Jerman, saya tidak ada peluang untuk jadi pendonor. “Ahh, sayang sekali..Tapi kamu bagus sekali, sudah bisa berkomunikasi dengan saya, pakai bahasa Jerman pula! Hehe..saya dan Sayed senyum mesem, nyengir. Untung saja beliau tidak sempat tahu, bahwa kami sudah 8 bulan lebih belajar Jerman tapi kemampuan sprechen/speaking masih amburadul.

Ya, dan alles gute. Tschϋss!

note: Saya tetap penasaran,apakah memang harus 4 tahun? Semoga tidak:)

Read Full Post »

Judulnya agak lebay ya..hehe :-). Sebenarnya ini ada catatan saya dalam mendonor darah. Tepatnya sejak tahun 2005 saya rutin berteman dengan PMI Bandung yang terletak di Jalan Aceh No.79. Tidak tanggung-tanggung, sekarang saya sudah mendonor sebanyak 13 kali. Itu artinya ada 13 cerita yang berbeda dan luar biasa.

Kalau ada yang bertanya apa motivasi saya menjadi pendonor, maka saya ada 2 alasan. Pertama, saya ingin membuat sejarah dalam hidup saya. Banyak teman saya yang tahu betapa mulianya mendonorkan darah, namun tetap saja menolak jika diajak. Alasannya takut jarum suntik. Well, padahal ketakutan itu tidaklah seperti yang dibayangkan. Kedua, alasan kemanusiaan. Bayangkan 300 cc darah itu bisa membantu seseorang yang membutuhkan. Ini mengajarkan saya tentang memberi tanpa embel-embel. Toh saya juga tidak tahu kepada siapa darah itu akan mengalir dan di belahan bumi mana ia berada. Satu yang saya tahu, pasti resipien itu akan melantunkan doa kebaikan kepada pendonor. Aamin…

Foto: msnbcmedia3.msn.com

Ok, kembali ke cerita donor darah saya. Pengalaman pertama pasti berkesan dong.. Yup, donor darah di Kampus ITB, tepatnya di Labtek V. Salut untuk unit dan himpunan mahasiswa ITB yang rutin mengadakan program donor darah. Kegiatan ini cukup menjadi favorit di kalangan anak ITB karena cukup mudah untuk diselenggarakan. Peminatnya juga ramai. Alhasil, saya yang sudah tahu sejak 2 hari yang lalu benar-benar mempersiapkan diri untuk donor. Sarapan dan tidur yang cukup. Dua hal yang buat anak ITB agak gampang-gampang sulit :-).

Alhamdulillah, 30 Agustus 2005, dengan kolaborasi tekanan darah yang baik, kadar Hb juga ok..maka dengan ikhlas saya sumbangkan sekantung darah B. Rasanya? Sakit namun terkalahkan rasa excited! Apalagi sesudahnya dibekali snack, minuman kotak dan souvenir. Sejak saat itu saya rutin donor per 4 bulanan.

Di lain kesempatan, saya dan teman-teman juga biasanya langsung mengunjungi PMI Bandung untuk donor darah. Hebat, unit ini stand by setiap hari hingga jam 21.00 WIB. Kalau donor di PMI Bandung, dapat popmie, telur rebus dan roti marrie. Hehe..kesejahteraan pendonor terjamin deh.

Cerita seru dan senangnya sudah. Kini giliran cerita “yang ga enaknya”. Saya pernah ditolak donor karena alasan kesehatan. Sangking niatnya saya kembali mendatangi PMI keesokan harinya dan hasilnyaa..sama, ditolak. Padahal saat itu saya sehat dan sedang tidak beraktivitas berat. Pernah juga menemani teman yang mau donor (untuk pertama kalinya) dan dia dengan suksesnya berkunang-kunang dan hampir pingsan. Wahh, panik-panik bergembira.  Saat itu kami menjadi pendonor terakhir, untunglah dokternya mau menunggu hingga teman saya cukup pulih kondisinya.

Sekarang saya mau bahas tentang tempat donor darah. Jika dibandingkan antara PMI Bandung dan PMI Banda Aceh, jelas aktivitas PMI Bandung lebih mengeliat. Pendonor silih berganti berdatangan dan kesadaran masyarakat untuk donor darah secara suka rela juga sudah terbangun. Sedangkan di Banda Aceh, saat saya mau donor malah ditanya, mau donor buat saudara yang mana? Saya bengong plass..Belakangan saya tahu, bahwa di Banda Aceh seseorang terindikasi mendonor darah hanya saat ada keluarga/saudara/teman yang butuh. Hikss…

Anyway, sebagai penutup saya meminta pembaca blog yang budiman untuk mendoakan saya agar tetap sehat dan bisa donor darah terus. Ayo, giatkan aksi donor darah di komunitasmu. Jadikan itu sebagai sebuah gaya hidup (pesan Ka. PMI Pak Jusuf Kalla). Ohya, doakan juga supaya kartu PMI saya tidak hilang sehingga rekam jejak aksi donor darah saya terdokumentasi dengan baik. Mana tahu ntar dapat penghargaan atau diundang ke Istana Negara, bertemu dengan Presiden RI pas HUT RI 17 Agustus 🙂 Who knows?

Yuks ahhh, donor darah!

Kartu PMI Bee

Kartu PMI Bee

Read Full Post »