Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘IPY2010’

Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta, 25 Oktober 2010 pk.17.00 WIB…

Detik-detik keberangkatan semakin dekat saja…

“Feb, gimana perasaanmu? Tanya Kak Ivan.

Saya cuma tersenyum. “Biasa saja, Kak.

Entahlah, saya merasa biasa saja. Tidak cemas, tidak pula terlalu excited (teringat akan assignment DG yang belum disubmit 😦 ). Kekhawatiran akan bagaimana keadaan ke depan pasti ada… tapi, I have to make up my mind. Dalam hitungan jam, saya sudah akan di negara lain lho! Bukankah hari ini adalah sangat bersejarah? Hari yang menjadi jawaban perjuangan panjang saya dan teman-teman selama 6 bulan terakhir? Ayo Bee, cheer up!

Usai shalat magrib dan makan malam, IPY 2010 mulai berbaris dan mobilisasi barang-barang. Selanjutnya barang di bagasi diurus oleh Kak Ve dan beberapa alumni SII ditemani oleh Caca selaku tour leader contingent. Alhamdulillah, barang aman dan boarding pass Japan Airlines dibagikan. Saya kebagian di seat 52A.

Pak Jimmo dari kemenpora dan Mas Rino mewakili SII memberikan kata-kata sambutan, menyemangati kami, mendoakan agar tiba dengan selamat di Tokyo dan menjalankan misi SSEAYP dengan optimal. Saat berdoa, perasaanku campur aduk. Ini mengingatkanku dulu saat rombongan mahasiswa Aceh kemitraan berangkat menuntut ilmu ke ITB 6 tahun yang lalu.

Wejengan dari Presiden SII

Kami mulai mengantri untuk cek imigrasi. Secara fisik, pasti rombongan IPY sangat mencolok di bandara. Jas warna gelap, sepatu pantofel, embelem garuda di dada, pin MPG, papan nama dan peci bersanding pin garuda yang mengkilap. Berseragam A1, gagah sekali. Bahkan petugas imigrasi yang mengecekpun bertanya, rombongan apa ini, hendak kemana, acara apa dan lain-lain. Tentu saja, saya menjawab dengan sejelas, seringkas dan sebaik mungkin. Duta bangsa, ga boleh malu-maluin kan 🙂

Antri di loket pemeriksaan paspor

Semua IPY 2010 sudah menjalani pemeriksaan. Satu tahap lancar. Saatnya melangkah ke ruang tunggu…

Barisan disiapkan oleh Chandra. Dan aba-aba terdengar lantang…

“IPY 2010, maju jalan!

IN-DO-NE-SIA JAYA! Suara yang membahana, langkah kaki menghentak dan sejak itu the SSEAYP story of  IPY 2010 goes…

Bismillahi tawaqqaltu ‘alallah

Bismillahi majraha wa mursaha…

Tanah air yang tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidakkan hilang dari kalbu

Tanahku tak kulupakan

Engkau ku banggakan

Sayup-sayup…lagu Tanah Air terdengar yang dinyanyikan oleh alumni SII. Disambung dengan cheers korewa omigoto…

Indonesia, kami pergi untuk kembali!

Read Full Post »

Selama training SII, saya dan 6 orang calon IPY 2010 ditanya oleh para alumni.

“Sebelum PDT, apa kalian berencana kumpul di Jakarta? Sudah punya tempat tinggalnya?

Sesaat kami tercenung. Bayangkan, waktu PDT hanya 2 minggu. Sangat dibutuhkan tempat yang dapat menampung 28 orang secara bersama minimal seminggu sebelum PDT untuk masa perkenalan, persiapan dan pemenuhan kelengkapan individu dan kontingen. Apalagi saat itu CIPY 2010 berencana berkumpul H-10 PDT. Jelas ini tidak mudah, saudara-saudara…

Cari-mencari berbagai peluang kira-kira di rumah siapa ya yang bisa ditempati. Saat itu rumah CIPY asal Jakarta kayanya kurang representative untuk itu. Kalau sekedar tempat tinggal mungkin bisa, tapi kami juga butuh space yang cukup untuk latihan tari, penyimpanan barang (dimana per orang membawa minimal 2 koper besar dan barang-barang gift dan property untuk exhibition dan cultural performance). Kalau berkaca dari pengalaman angakatan 2009, mereka tinggal di rumah Intan (salah satu IPY 2009).Tapi kini, 2010..dimana?

Di awal Agustus 2010,

“Teh, Ika ada kenalan. Namanya Abah. Beliau ada rumah di Ciputat. Kayanya cukup buat menampung kita selama 10 hari. Di rumah beliau juga biasa dijadikan tempat buat anak-anak mahasiswa yang punya acara”, ungkap Ika, IPY asal Banten.

“Ya boleh banget tu Ka. Hayyu dijajaki dulu rumahnya. Dan apakah beliau mengizinkan untuk kita pakai dari 1-10 Oktober, jawabku penuh harap.

Dalam hati, saya sungguh berharap Abah memberi kabar baik untuk kami semua, calon duta bangsa.

Singkat kata, Abah yang awalnya kami tidak kenal itu- mengizinkan rumahnya dipakai. Maka dengan serta merta, saya dan teman-teman melakukan banyak persiapan. Diwakili oleh Ika dan Dhini, surveypun dilakukan meliputi akomodasi putra dan putri, aksesibilitas dari tempat umum atau terminal, transportasi, fasilitas seperti catering, masjid, warnet, laundry, fotokopi. Dan hasilnya well recommended.

Pertama, tempatnya di Ciputat dekat kampus UIN Syarif Hidayatullah alias dekat terminal Lebak Bulus. Berarti jika ada calon IPY yang datang dari daerah (bandara Soekarno Hatta) bisa diarahkan naik damri.

Kedua, rumahnya luas dan menyerupai pavilion. Ada rumah induk Abah, aula yang bisa kami gunakan untuk assemble point dan ruang latihan, 2 ruang besar terpisah yang bisa jadi kamar bagi putra dan putri, 3 kamar mandi dan tak ketinggalan halaman yang luas yang bisa digunakan untuk berlatih baris-berbaris dan kegiatan outdoor. Perfecto!

Ketiga, Abah mengizinkan.

Walhasil, saya dan rekan-rekan amazed ingin berkenalan dengan beliau. Siapa gerangan Abah yang dengan baik hati menyilahkan rumahnya untuk kami tempati?

Abah. Agaknya saya tidak asing dengan nama tersebut. Nama beliau Raharjo Ramelan. Saya belum pernah kenal, hanya akrab dengan profil dan cerita-cerita tentangnya. Di komunitas Siaware / ITB, teman-teman saya sering menyebut-nyebut Abah. Salah satunya saat ada pengajian Siaware di rumah beliau yang di Bandung. Saat itu, selalu saja ada halangan sehingga saya belum berkesempatan berjumpa langsung dengan sosok pengusaha dan dosen itu.

Hingga saat itu tiba juga…

“Feb, nanti datang ya ke tempat Abah. Ada sedikit syukuran, bareng anak-anak SUJ, kata Ajeng.

“Baiklah, sist, jawab ku.

Kebetulan Ajeng, sahabat baikku ini juga akan berangkat ke Sendai, Jepang dalam rangka S2nya dan ada acara makan-makan bersama yang diprakasai oleh teman-teman dekat.

Ternyata eh ternyata, itu adalah Abah yang sama. Abah Raharjo Ramelan yang rumahnya akan kami tumpangi di bulan Oktober. Alhamdulillah, saya bisa kenal lebih dahulu sebelum menggunakan fasilitasnya. Dan langsung saja, kami mengobrol akrab. Terlebih Abah pernah menjadi relawan di Pagar Air, Aceh Besar.

Rasanya 10 hari di rumah Abah terasa singkat. Banyak cerita seru dan penuh kekeluargaan di sana. Mulai dari piket masak, cupir (cuci piring), latihan kesenian, latihan baris-berbaris, gila-gilaan dengan silent applause di SG activity, diskusi alot tentang bahasa isyarat mana yang paling benar, cheers menyambut IPY yang baru hadir,  bergadang, buat tugas, bolak-balik nyari logistic yang kurang, lari karena dikejar chiripa, sound system yang selalu ngadat di aula, antri kamar mandi, berbagi tempat tidur hingga mabok packing barang…It’s been like yesterday! Really memorable…

Usai Talent Performance

Sarapan bersama, ala kadarnya

Latihan Tari Ulo..1,2,3..

Abah, terima kasih. We Love u full!

Read Full Post »

Setelah menjalani serangkaian tes, pengumpulan kelengkapan administrasi dan bla bla lainnya, formasi calon Indonesia Participating Youth terbentuk. Itu menjadi penanda dimulainya masa-masa untuk konsolidasi. Chatting dan forum dunia maya hingga kopdar di dunia nyata. Tentu saja itu semua untuk satu tujuan…INDONESIA CONTINGENT.

Untuk CIPY yang berdomisili Jakarta, Banten, Jabar sejak akhir Juli 2010 sudah rutin berkumpul tiap minggu. Ini dalam rangka mengikuti training SSYEAP International Indonesia (SII), yaitu asosiasi alumni SSEAYP Indonesia. Febi, Chacha, Stoki, Ika, Dhini, Tria adalah tim ashabiqunal awwalunnya. Tak lama kemudian Trisya dan Era bergabung.

Konsolidasi 1 (250710)

Tugas-tugas selama training semakin berat dan membutuhkan persiapan yang lebih kompleks. Terlebih buat saya dan Chacha yang saban pekan mondar-mandir Bandung-Jakarta. Tak ayal, bila training dimulai hari Minggu maka sejak Jumat sore kita bertujuh sudah stand by di markas perjuangan 1, Cipinang di kediaman Trisyana Nur Ardiyanti alias Trisya.

Setiap Jumat sore CIPY sudah mulai datang dengan gembolan tas, properti kesenian dan exhibition, bahan-bahan diskusi. Tak jarang kami bertujuh tidur sampai 2 dini hari untuk menyiapkan presentasi dan latihan tari, lagu dan cheers (apalagi hapalan lagu Medley Timur dan Vietnam-Ho Chi Minh..hehe). Dan keesokan harinya, kami berdesak-desakan di APV Papanya Trisya menuju gedung Hijau Pondok Indah yang merupakan lokasi training.

Berikut beberapa potongan memorable di Markas Cipinang:

Dukungan Logistik dari Mamanya Trisya

Din, tolong pasangin dong!

bahan-bahan exhibition

ayo latihan lagi! semangat...

Ya Allah, mudahkanlah hamba dalam menghapal lagu ini

terkapar setelah latihan

Dengan seluruh cinta, terima kasih yang tak terhingga kepada Trisya dan keluarga atas dukungan moril dan materil kepada CIPY 2010 saat itu. Mudah-mudahan kami ga merepotkan ya…:-)

Read Full Post »