Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘keluarga’

“Hari ini Jumat kan? Siap-siap ngaji ke HIQQAH ya”,  ujarnya.

Ngg..tapi Papa antar kan? Tanyaku. Sudah terbayang teriknya siang ini, harus ikut les ngaji pula. Niat untuk bolos dengan pura-pura tidak ingat hari ngaji GAGAl TOTAL! Tapi it’s oklah, kalau jumat kan ada ustad Syauki (ustad favorit)…pikirku senang.

Alhasil saya pun bersiap sodara-sodara. Buat anak Banda Aceh, pasti tidak asing lagi dengan HIQQAH (Himpunan Qari-Qariah). Sebuah lembaga pembinaan Al-Quran yang menyediakan pelayanan tahsin dan seni suara tilawah. Para ustadnya adalah para juara langganan MTQ. Tempat mengajinya di Balai Kota Banda Aceh dengan jadwal setiap Jumat siang dan Ahad pagi.

Nah, saya si bocah kelas 5 SD itu pun segera diantar oleh my dad ke TKP dengan motor. Ohya, ada aturan resmi di rumah kami, yang namanya eskul itu harus seragam. Artinya, kalau ada yang les ngaji, maka 2 saudaraku juga ikut eskul yang sama. Kata mama, itu supaya kami (ketiga anaknya) menguasai hal tersebut. Bukan hanya les ngaji, les karate dan renang juga demikian.  Jumat itu, kebetulan hanya saya dan adikku usia 9 tahun-yang ngaji .

Simpang Jambo Tape, Banda Aceh, 13 tahun silam pk. 13.30 WIB…

Motor kami justru mampir ke Simpang Jambo Tape (lebih kurang 1 km dari rumah).

“Pa, kok ke sini? tanyaku. Jalur Jambo Tape justru semakin jauh dari lokasi.

Papa tidak menjawab, malah memarkir motor ke tepi jalan. Kemudian kami berjalan menuju halte. Aku yang bingung hanya turut saja.

“Hari ini Tia dan Egam naik DAMRI ya”.

“Kenapa Pa? Mukaku panik.

“Ya ga apa-apa, belajar saja”.

“Pa, jangan sekarang. Nanti terlambat. Takut…”.

Perasaan sudah campur aduk. Memang untuk anak seusiaku, aku gaptek sekali. Aku belum pernah naik angkutan umum sendiri tanpa orang tua. Wajar saja, ke sekolah selalu diantar. Selain itu rute rumah ke sekolah juga tidak ada jalur angkotnya. Nah, hari itu tidak ada angin, tidak ada hujan…secara tiba-tiba kami disuruh naik DAMRI! Can you imagine that? Ketakutan-ketakutan mulai menghinggapi…

Bagaimana kalau nanti ada penculik anak?

Bagaimana kalau nanti DAMRInya salah belok dan kami kesasar?

Bagaimana kalau..? Bagaimana kalau..?

Haduuhhh…mau pergi ngaji aja kok sulit begini…

Sayangnya kami tidak punya pilihan lain. My dad menjelaskan DAMRI yang lewat itu nanti akan berhenti di dekat Percetakan Negara, lalu kami harus turun di dekat shooping center dan jalan kaki sedikit ke arah taman sari. Ditambah lagi penjelasan tentang berapa rupiah yang harus kami bayar untuk ongkos. Akhir kata  beliau meyakinkan bahwa perjalanan dengan DAMRI akan baik-baik saja.

Tahukah sodara-sodara..saya merasa under pressure, cemas luar biasa. Secara saya yang lebih tua dibanding adik, saya harus menghapal petunjuk-petunjuk tadi. Memastikan bahwa saya bisa mengemban misi ini dengan gilang-gemilang. Lebih  tepatnya saya harus lebih tenang dan yakin di depan adik saya (perasaan jumawa seorang kakak..hehe).

“Sudah bisa kan? Sebentar lagi DAMRInya datang”, kata Papa.

Aku menatap beliau, mohon kebijaksanaan dan alhamdulillah rupanya sinyal itu terdeteksi.

“Ok. Papa nanti nyusul.. Papa naik motor ikut di belakang DAMRI sampai tujuan. Setuju?

Bagaikan embun surga, kepalaku cepat-cepat mengangguk. Kalau begini, tak perlu cemas lagi kan?

Dari kejauhan, DAMRI tiba…dan tanganku melambai-lambai tanda ingin naik.

Bismillah..hup. Kaki kecil pun melangkah naik tangga DAMRI nya-ukuran besar lho..(seperti DAMRI caheum-cibeuruem non AC). Tiba diatas, tempat duduk paling belakanglah yang menjadi incaranku. Sambil menggenggam erat tangan Egam, aku duduk di kursi belakang. Tak sabar, badan segera berbalik ke kaca, menegakkan kepala lebih tinggi, mencari Papa dengan motornya.

“Kok belum kelihatan ya Gam? Suara agak tergetar. Mulai deh panik-panik bergembira.

Lambat laun, sosok Papa terlihat di sela kendaraan lain. Rasa lega tak terperi. Semoga perjalanan ini memang baik-baik saja. Waktu melaju lambat, keringat mulai menitik di kening. DAMRI jalan dan berhenti sambil terus mengangkut penumpang. Aku sibuk menerka-nerka dimanakah posisi kami sekarang. Bundaran simpang lima sudah terlewati. Mesjid Raya Baiturrahman sudah di depan mata, tandanya sesaat lagi kami perlu bergegas turun. Sekali lagi kutoleh ke belakang. Yes, he is still there…:)

Persis di tepi shopping center, DAMRI menepi. Kaki kami kembali menjejak aspal. Bagai juara laga kampung, rasa membuncah di dada. Finally, mission is accomplished! Bangga sekali rasanya. Papa masih di motor. Dari jarak 2 m, dengan isyarat aku berkata, situasi aman terkendali, Pa. We’ll continue to HIQQAH by ourselves.

Senyum terkembang dan jempol  mengacung di udara. Kalau diterjemahkan dengan bahasa sekarang, Papa says “Like this!”

Kaki melangkah lebih ringan. Terik matahari terus membayangi Febi kecil dan Egam hingga ke Balai Kota. Riang hati untuk belajar mengaji…

Sebuah pengalaman itu kini  terus kukenang. Ini tentang kemandirian, keberanian dan belajar hemat, Nak!

With all my love..I love u, Pa!

Ajari aku menghadapi dunia, Pa

Read Full Post »