Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘makanan’

Ini tentang Febi kecil dan 2 saudara lelakinya. Tumbuh kembang di satu bagian Kota Banda Aceh, di bawah naungan home sweet home (walau statusnya masih kontakan).

Suatu siang di tahun 1990-an awal…

Anak yang baik di zamanku dulu adalah yang menurut dengan perkataan orang tua. Contohnya pulang sekolah langsung ganti seragam, shalat zuhur, makan dan TIDUR SIANG!  Setidaknya itu versi keluargaku. Nah, untuk yang terakhir ini agak gimana gitu lho…Apalagi kalau sudah ada teriakan dari luar rumah:

“Tia..tia..Egam..egam..main yuk…”

Posisiku, si bocah kelas 3 SD itu dilematis. Hasrat hati ingin bermain, namun tidur siang juga penting. Acap kali tawa, teriakan serunya bermain, bahkan ajakan teman-temanku untuk bergabung kadang-kadang harus diabaikan (pura-pura ga dengar)…Sehingga jadilah kami anak-anak yang patuh dan dengan penuh kesadaran melakukan ritual tidur siang dari jam 13-16 WIB.

Eits..tapi kalian jangan menjudge masa kecilku tidak bahagia! Hoho…justru aku bersyukur, sejumlah rule of family mulai ditanamkan, dicontohkan dan dibiasakan oleh kedua orang tuaku sejak usia dini (love u, Ma &Pa).

Jika ditelaah dengan bijak, barulah aku tahu bahwa tidur siang untuk anak seumuran ku (<12 tahun)  penting. Dimana anak usia perkembangan itu hari-harinya aktif-lincah, banyak kegiatan. Kalau siang bolong masih kelayapan main (notabene outdoor) peluang terjadi  over heat besar sekali. Belum lagi potensi kelelahan di malam hari…ujung-ujungnya tidak belajar, absen  buat PR, keteteran shalat dan mengaji. Terbayang oleh kalian, panasnya cuaca Banda Aceh (walaupun belum seekstrem sekarang)? Ditambah lagi permainan  zaman dulu juga rata-rata bertempat di luar rumah dan cukup menguras tenaga seperti petak umpet, lari-lari, main godot, patok lele dan sebagainya. Jadi singkat kata, TIDUR SIANG is IMPORTANT! Hidup tidur siang!! Hehe…

Ternyata setelah tidur siang, badan terasa fresh dan diiringi pula nafsu makan. Jika sore, aku terbangun dengan suara-suara aktivitas tetangga. Aku perlu segera bersiap. Sepertinya jam main part#2 sudah digelar, Boy…

Rumah kami ada di lorong semangka dan kami punya tetangga yang ramah-ramah. Ritual setiap sore adalah anak-anak sudah mandi, rapi dan berbaur di pekarangan. Sebagian ada yang sambil main tangkap capung, ngobrol ringan dan disuapi makan malam oleh orang tuanya. Namun itu sepertinya tidak berlaku jika ada suara “ ting-ting..ting-ting…”. Irama sendok yang bergesekan dengan mangkok kaca. Apalagi jika ditambah bunyi terompet “toet..toet”. Bagai sabda alam, alarm bocah-bocah lorong semangka begitu jeli menyambut dua oknum tamu agung itu.

“Lek, bakso…Baaakksssssooo…”. Teriakan itu adalah lagu wajib. Atau

“Lek, lek…eskremnya 500 ya”, bocah-bocah akan lari menghampiri gerobak seraya mengangsurkan gelas kosong mereka.

Begitulah sodara-sodara. Sore adalah waktu JAJAN. Lelek (sapaan mang Bakso) sepertinya sudah punya insting yang tepat untuk selalu mampir di lorong semangka. Setiap sore. Mereka, tukang bakso dan ice cream (es potong atau ice cream cone) hadir di kehidupan kami.

Perlahan namun pasti, Tia kecil selalu menyaksikan tiap fenomena itu dari waktu ke waktu. Tetangga-tetangganya, teman-teman mainnya. Setiap sore. Serutan ice cream rasa durian berpindah dan mengisi gelas-gelas. Mulut-mulut kecil yang belepotan lelehan ice cream dan dengan cepat kembali dijilati. Racikan mie kuning, bihun, butir-butir bakso disiram kuah yang pasti ada vetsinnya. Mangkuk-mangkuk itu mengepulkan harum kaldu sapi dan baunya menyebar kemana-mana. Termasuk rumah lorong semangka no.4. Rumah yang Tia kecil diami.

Bohong kalau bocah sepertiku menolak mencicipi hal yang sama seperti mereka. It’s true kalau diam-diam aku juga ingin dibekali uang jajan ekstra sehingga aku bisa lewat di depan mereka sambil menenteng mangkukku sendiri. Apakah tetanggaku orang kaya? Aku rasa, sama-sama saja dengan keluargaku. Pas-pasan.

Hingga sore itu…

“Ma, jajan bakso ya? Pinta kami bertiga.

Kalimat itu tertutur juga dari kami yang baru bangun tidur. Mama yang sedang duduk memandang kami. Diam.

“Ma, minta uang ya untuk jajan bakso? 1 mangkok cukup kok. Nanti kita bagi-bagi saja”.

Kali ini dengan lobi dan diplomasi.

Mama belum beranjak. Sementara gerobak Lelek bakso terlihat ramai, ia sibuk melayani pembeli. Kami harap-harap cemas. Apakah sore ini kami berhasil menikmati bakso racikannya?

“Ayolah Ma…Terlambat sedikit, maka baksonya akan habis”, gumamku dalam hati.

Mama bangkit dan bergegas.

“Sore ini Mama buat menu istimewa. Bubur kacang hijau. Ayo kita makan!

Rasanya terhempas-hempas. Huhu..kenapa bubur kacang hijau? Kenapa bukan bakso?

***

Sore itu kami juga menikmati senja di pekarangan. Isi mangkuk kami telah tandas. Rasanya bukan asin gurih vetsin, tapi manis. Manis gula jawa. Semanis cinta Mama kami, yang berusaha menyajikan anak-anaknya dengan makanan sehat.

Kini, aku pastikan aku tidak pernah menyesal tidak mencecap bakso lelek itu karena ada seporsi bubur kacang hijau yang jauh lebih mahal. Bahkan tidak dapat dihargai dengan mata uang apapun. Karena itu adalah dibuat dengan tangan mama. Karena mamaku cuma 1 di dunia. Mama yang memasak bubur kacang hijau dengan cinta.

With all my love, I love u, Ma!

Spesial: bubur kacang hijau cinta!

Bandung, 14022010

Advertisements

Read Full Post »