Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘MOSA’

Komitmen untuk konsisten itu gampang-gampang susah ya? Pada suatu waktu ia mudah terucap dan satu waktu pula ada seribu satu alasan yang menghalangi. Apalagi untuk perkara kebaikan. Mau rutin tilawah? sibuk! Olahraga teratur? Ga sempat cuy. Baca buku untuk menambah pengetahuan? Boro-boro..tugas kuliah saja menjelang deadline. Kemudian yang ada hanyalah pembenaran-pembenaran, alasan-alasan sehingga pada siang 09.03.12, saya kembali tersadar bahwa…itu semua bisa diakali.

 Hasrat yang tertunda

“Jadi kita pergi Feb? Tanya Epi, rekanku di Goethe Institut.

“Ja, gehen wir! (kira-kira artinya yuk mari). Ya,bertiga saja. Saya, Epi dan Ai.

Jarak dari Sam Ratulangi ke TIM kami tempuh dengan berjalan kaki kecepatan sedang. Suasana cukup ramai. Pasar kaget yang selalu mengiringi hari Jumat dengan segala rupa-rupa benda turut meramaikan suasana. Kami merasa beruntung sekali ketika pejalan kaki lebih leluasa berjalan dibandingkan dengan mobil-mobil yang frustasi terjebak kemacetan di sekitar Cut Mutia.

Tak butuh waktu lama, 3 tiket sudah di tangan. See…this show will be a private show :-D. Penontonnya cuma 5 orang!

Film Negeri 5 Menara. Film yang bukunya saya sudah baca setahun yang silam dan kali ini saya menikmati filmnya. Cerita hebat tentang penuntut ilmu, Alif dan Sahibul Menara.

Saat semuanya jadi satu

Maaf, bukan saya bermaksud spoiler. Tapi percaya deh, saya menilai film ini “sangat direkomendasikan” untuk ditonton. Apalagi untuk para perantau. Suasana konflik batin seorang Alif yang memilih untuk memenuhi keinginan orang tuanya bersekolah di pesantren dan menunda mimpinya ke SMA, sangat terasa. Ayahnya bela-belain menjual kabau satu-satunya yang selama ini menggarap sawah, demi biaya pendidikan Alif di Jawa. Langsung deh saya teringat masa-masa saya galau memilih tujuan kampus, kampus jaket kuning atau yang di jalan Ganesha dan pengorbanan orang tua saya 😥

Ada juga cerita seru ala anak asrama Pondok Madani, seperti Alif dan 5 sohibnya yang beraneka ragam karakternya, guru pamong yang bijak, peraturan tidak boleh nonton TV, mencuci baju sendiri, pemadaman lampu karena gensetnya lebih sering ngadat dari pada benernya, lomba pidato bahasa Inggris antar siswa baru, ngecengin keponakan Pak Kyai, ramai-ramai kena hukuman dari senior divisi kedisiplinan, ikut berbagai unit eksul dan masa uji cobanya, antusias dan kreativitas yang teruji di malam pertunjukan seni dan masih banyak lagi. Ah, semuanya  kembali menghadirkan memori saya tentang MOSA, SMA tercinta saya yang juga system boarding school. Pas nonton, langsung nyengir, asli MOSA banget dah! Memang tak salah jika masa-masa SMA adalah masa yang paling indah, sampai-sampai ada lagunya kan? Hehe..

Tapi…film ini bukan hanya cerita-cerita gokil remaja tanggung! Pada akhirnya saya, Ai dan Epi diam-diam menangis haru. Pokoknya air mata tumpah tak tertahankan, emosi penonton larut, saat kalimat sakti MAN JADDA WA JADA itu menunjukkan powerfullnya pada seorang Baso, Alif dan 4 rekan lainnya. Intinya Man Jadda wa jada, siapa yang sungguh-sungguh akan berhasil!

Get in the Real Life

Tak terasa 2 jam sudah kami menonton. Ada suatu perasaan yang muncul, menyelusup dalam hati. Entahlah saya menyebutnya apa. Semacam tekad bahwa..ayo, kamu bisa!

Bahwa MIMPIlah yang tinggi, cukupkan usaha dan biarkan Allah yang mengatur kelanjutannya.

Kalau kata ustad Salman-nya film Negeri 5 Menara, bukan karena perkara parang yang tumpul kayu itu bisa patah, tapi karena terus-menerus ditebas akhirnya ia terbelah jua. Bukan semata-mata perkara modal turunan (pintar, cakep, kaya dll) yang bisa buat sesorang berhasil, tapi lagi-lagi sebesar apa kemauan, usaha orang tersebut untuk mau mewujudkan mimpi-mimpinya.

Sepulang dari sana saya ingin segera menuliskan pengalaman tadi dalam bentuk notes. Karena ini termasuk agenda saya, “komitmen dan konsistensi” untuk menulis, seperti yang telah disinggung sebelumnya. Selain itu masih ada sederetan mimpi, proyek kebaikan dan tugas negara lainnya yang siap diwujudkan 🙂

lelah-lelah dahulu bersenang-senang kemudian 
tiada suatu yang yang besar tanpa perjuangan yang hebat
man jadda wa jada…

Advertisements

Read Full Post »

Binatang apa yang kalian takuti? Cacing? Ular? Cecak? atau ayam?

Saya takut anjing dan tikus. Jika ditelusuri asal muasal ketakutan itu, mungkin dimulai sejak kecil. Walaupun tidak punya pengalaman traumatik, rasanya ingin kabur jika ada 2 makhuk itu minimal radius 5 meter dari saya.

Kalau dipikir-pikir, kasihan juga kepada hewan A dan T itu. Trademark mereka kurang elit. Anjing sering dijadikan kata-kata umpatan kasar bahkan ungkapan ekspresi. Mulai dari kata anjing, anjir, anjrot, dan modifikasi huruf a-n-j-i-n-g lainnya. Statusnya najis berat di dalam agama Islam. Kalaupun ada yang berbakti, paling banter jadi hewan pemburu dan pelacak. Sama halnya seperti tikus. Asosiasi hewan pengerat ini kerap dihubungkan dengan para koruptor, politikus dan profesi yang culas. Tak heran, dalam kehidupan kedua hewan ini dianggap mengganggu dan penyebar penyakit. Rabies dan leptospirosis contohnya.

Tapi nampaknya, saya tidak bisa mengelak bahwa di komplek asrama SMA Mosa banyak  mr. doggy. Kawanan hewan itu bebas berkeliaran dan sempat melonjak populasinya. Malam-malam anjing di Mosa juga suka melolong sendu, membuat suasana menjadi spooky. Siang hari bila lengah sedikit, Mr. doggy leluasa singgah bahkan sempat masuk ke barak. Jika sudah demikian, korvey sama’ barakpun dilakukan. Ritual menyiram lantai barak dengan 7x siraman air suci plus dicampur tanah ini minimal dilakukan 1 kali dalam setahun. Namun, sempat juga Barak Anggrek kecolongan karena teledor dengan pintu depan. Sama’ pun dilakukan lagi. Ga capek sih, karena dilakukan bersama-sama. Asal syaratnya suplai air cukup dan ada irisan waktu luang bersama antara penghuni asrama.

Tapi #CeritaPertama kali ini lebih spektakuler. Lagi-lagi terjadi di Barak Anggrek…

Saya masih kelas I dan itu terjadi di tahun 2001

Lepas makan siang sebelum prosus adalah waktu yang paling enak buat ngaso. Santai-santai sambil dengar walkman plus semilir angin dari kipas. Siang yang sempurna itu mendadak rusak.

“Ehm, bau apa ni? Menyengat kali! celetuk my room mate.

Iya..bau apa ya? Kami sekamar mulai selidik, mana tahu ada cicak terjepit di pintu. Nihil. Ya sudah, investigasi dihentikan karena baunya juga mendadak sirna.

Esoknya kehebohan terjadi. Salah seorang penghuni Anggrek shock berat setelah kembali dari tempat jemuran. Tak disangka, seekor anjing mati di sana. Kontan saja anak-anak penasaran. Semua ingin melihat walau sambil tahan napas. Saya juga ikutan mengintai dari jauh. Takut plus masih tidak percaya kenapa anjing itu mengakhiri hayatnya di sana.

Oh, ternyata mayat anjinglah penyebab aroma bau nan menusuk hidung. Saat itu tidak ada tindakan yang dilakukan selain mengeluh bau..bau..dan bau. Serba salah juga jadinya. Kita (penghuni barak) berharap ada Bang Neh yang mau mengeksekusi (menggubur) tapi tampaknya beliau sibuk.Hari-hari di barak yang harusnya menjadi tempat istirahat berubah 180 derajat menjadi tidak menyenangkan. Terbayang jika angin sepoi berhembus, maka yang paling sengsara duluan adalah kamar 9,8,7. Posisi kamar 2 Anggrek agak bagus, masih agak jauh dari TKP. Ibu asrama (bu Tawir) bahkan sudah menitahkan, tepatnya mengultimatum bahwa mayat anjing itu harus segera dikubur.

Nah lho! Masalahnya siapa yang mau melakukannya? Saya sebenarnya enggan, namun tidak mungkin juga melemparkan ke Barak mawar atau melati. Secara Mr. doggy nya tewas di wilayah teritorial barak Anggrek dan saya, sebagai ketua barak saat itu perlu mengambil tindakan segera. Hufff…

Setelah menggelar rapat intrernal barak, maka langkah eksekusipun dirancang. Petugas misi ini adalah 2 orang perwakilan dari tiap kamar. Alat-alat pendukung mulai dikumpulkan. Waktu pelaksanaan adalah hari Minggu pagi. Deal!

Hingga hari eksekusipun tampaknya tak ada bala bantuan dari kaum Adam :-(. Padahal saya ingat, beberapa abang kelas tiga suka berseuara miring jika melintas depan Barak Anggrek. Ihhh..Barak Anggrek bau! Tapi ya sudahlah, the show must go on.

Setelah menyiapkan diri, rombonganpun ke lokasi. Masya Allah..bangkai anjingnya besar sekali. Kayanya ini induknya. Posisinya masih utuh, kaku dengan mulut sedikit terbuka. Whhaaa..Baunya juga ga nahaaaann..Udah 4  harian bangkainya nganggur di situ. Isi perut saya sudah mulai bergejolak, namun saya berusaha bertahan. Rasa mual, takut bercampur jadi satu. Beberapa anggota tim yang tidak kuat langsung menyingkir. Maka langsung saja langkah pertama, menyiramkan minyak tanah ke mayat itu. Kata Bu Tawir, ini untuk menghilangkan baunya and it works!

Jamila, expert dalam hal cangkul-mencangkul langsung memainkan perannya. Cangkul yang cuma satu menyebabkan hanya Mila sendiri yang mengerjakan. Untungnya gadis ini cukup terlatih. Dalam sekejap lubang kira-kira ukuran 1m x 60 cm dengan kedalaman 70 cm sudah selesai.

Dan ini yang paling heboh. Acara menggiring bangkai itu ke dalam lubang. Kami menggunakan ranting-ranting pohon yang kokoh, mulai menyodok dari arah samping. Bayangkan, saat itu posisi saya hanya 1 m dari bangkai. Andai itu masih anjing hidup pasti saya tidak akan mau.

Bangkai anjingnya cukup berat, agak lama baru bergeser. Stik kayu kami ayunkan terus dengan semangat. Sedikit demi sedikit bangkai sudah mendekati lubang. Hup, 1 m..60 cm lagi..30 cm..Ayo terus kawan-kawan! Saya menyemangati tim. Bak menggiring bola ke gawang dan akhirnya..gol! Bangkainya masuk sempurna ke lubang. Huff, legalah kami semua. Mila pun melakukan tahap finishing dengan menimbun lubang hingga padat. Alhamdulillah, misi selesai!

Selesai dari prosesi tadi, saya belajar beberapa hal. 1. kematian akan menimpa semua makhluk hidup, dimanapun ia berada. 2. Pelaksanaan pemakaman harus diselenggarakan dengan cara baik dan secepatnya demi kesehatan (jika kasusnya hewan). 3. Saya menaklukkan rasa takut saya kepada anjing (walaupun sudah mati) 🙂

Itulah #CeritaPertama saya menggurusi pemakaman seekor makhluk Allah. Sampai jumpa di edisi #CeritaPertama berikutnya. Salam!

Imagenya disengajakan anjing lucu 🙂

Read Full Post »

Aslinya saya anak baik :-). Gak neko-neko pas jadi siswa SMA Mosa. Dalam kamus saya,  taat peraturan, disiplin dalam hal shalat berjamaah, senam pagi dan belajar sudah menjadi panggilan jiwa..(ciee..) Intinya sejak masuk Mosa yang notabene sekolah berasrama, sejak itu pula saya siap jadi anak mandiri, rajin bla bla lainnya. Maklumlah, jika saya mbandel ntar laporannya pasti sampai ke rumah dan langsung deh dicap jelek. “Kok, anak guru begini..kok anak guru begitu..”.

Sampai suatu saat, saya melanggar peraturan sekolah. Pertama kalinya. Dan ini termasuk kejahatan kelas berat!

***

Ba’da Jumatan tahun 2001.

Saya gelisah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2.30 siang. Ya..tidak..ya..tidak. 30 menit lagi waktu prosus (les sore) dimulai. Saya kembali berhitung ulang berbagai kemungkinan dan waktu yang saya butuhkan untuk mencapai kota Banda Aceh. Satu sisi hati berbisik, ayo Bee..now or never! Ciptakan sejarah dalam hidupmu. Sementara sisi lainnya menimpali, hai Febi..percuma saja kamu keluar sekarang. Waktu yang tersisa tidak akan cukup. Jam 5 sore tinggal sesaat lagi. Belum lagi minta izin guru, waktu di jalan, dll. Susah..sudah, lupakan saja mimpimu itu!

Kegalauan hati saya berbuah mantap:  keluar. Ada agenda mendesak yang harus saya selesaikan di kota dan tidak mungkin diwakilkan. Akhirnya dengan muka memohon-memelas, saya izin ke guru piket.  Biarpun panik-panik bergembira, saya tidak berani main kabur. Berbekal izin, saya langsung naik kendaraan umum. Kepada room mate, saya hanya pesan bahwa saya ada agenda penting dan tetap akan pulang ke asrama Cot Geundreut.

Setelah tiba di Banda Aceh yang sebenarnya cuma berjarak 13 km, saya segera menghubungi Ibu saya via wartel. Zaman itu sudah mulai komunikasi via hp, cuma belum lazim saja. Intinya, saya minta ibu saya menjemput dan mengantarkan saya ke daerah Jeulingke dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam bayang-bayang sore, sampai juga saya di tempat tujuan.

Pas sekali. Pendaftar terakhir di injury time. Yap, teman-teman..saya saat itu memberanikan diri mendaftar sebagai peserta AFS atau program pertukaran siswa yang diselenggarakan Yayasan Bina Antar Budaya. Masih dalam kondisi berpeluh-peluh, saya menyelesaikan form isian. Untungnya staf registrasi yang bertugas saat itu adalah Kak Ina (Laina Hilma Sari) yang merupakan alumni Mosa 1998. Alhamdulillah, saya masih diterima pendaftarannya dan tercatat sebagai satu-satunya siswa Modal Bangsa yang ikut seleksi AFS tahun itu.

What next is ujian seleksi pertamanya, yaitu esok hari, Sabtu jam 8.30 pagi. Wah, harus susun strategi ni. Akhirnya, saya (dengan berat hati) memutuskan cabut untuk pertama kalinya alias menginap tanpa izin. Cabut syar’i. Sekali lagi saya tegaskan! Ini semata-mata demi kelancaran esok hari. Kalian percaya saya kan? 😀

Bayangkan, sulit dan sangat tidak efektif jika saya kembali ke asrama hari ini dan esokny harus izin lagi dari asrama pagi-pagi. Toh, besok juga hari Minggu dimana jadwal anak-anak Mosa pelesir ke kota. Tapi jadwal pelesir baru diizinkan setelah jam 9 pagi. Ga banget kan?Akhirnya, info singkat ini saya kabarkan ke room mate yang sudah punya hp. Pokoknya aman! Saya coba abaikan rasa salah yang sempat terselip di hati. Everything gonna be alright!

Malamnya saya istirahat sambil mempelajari materi dan berita terkini. Besok ujiannya adalah pengetahuan umum. Semoga besok lancar…

Subuh pukul 6, room mate saya menelpon ke rumah (waktu itu saya beum punya hp).

“Bee, gawat. tadi pagi ada absen subuh. Banyak yang bolos sehingga anak2 yang ga hadir dipanggil abis makan pagi. Balik ke asrama dulu ya, walau sebentar saja…

Hadeuuhh..saya senewen berat. Kok bisa anak-anak barak Anggrek pada bablas subuhnya? Bisa ketahuan ni status saya sebagai Ketua Barak Anggrek cabut! Bahaya bagi pencitraan 🙂

Akhirnya…dengan segala pertimbangan, saya kembali ke asrama, saudara-saudara! Abang saya yang mengantar. Ia menyetir  mobil seperti orang kalap, demi mencapai asrama Mosa tepat waktu. Bayangkan beres makan biasanya jam 7.30, saya harus bisa setor muka, lalu langsung capcus lagi ke lokasi ujian jam 8.30. Berasa kaya amazing race ni! Panik…

Musalla Mosa

Tiba di kampus Mosa, barak Anggrek sudah sepi. Tandanya teman-teman sudah berbaris di depan musalla. Saya lari dan langsung bergabung ke barisan. Tepat waktu! Tepat bahwa nama saya sudah dipanggil 1 menit yang lalu. Ohhh..pastaslah, muka teman-teman saya pada tegang bin cemas. Jelas, kelas I-1 dipanggil urutan pertama dan nama dengan urutan F sudah terlewati dan sekarang Pak Kepala Asrama sedang mengabsen urutan nama M.

Sambil mengatur nafas, saya sudah pasrah. Alamat kena hukum ni. Terlambat beberapa menit tadi sangat fatal rupanya, karena status saya yang cabut juga terbongkar. Kesalahan berlapis! Mulai dari tidak shalat subuh berjamaah hingga cabut dari asrama tanpa izin Ka. Asrama (saat itu Pak Hamid). Ada laporan ke Bapak Asrama, makanya room mate saya tidak bisa mengelak. Hufff…gondok berat rasanya. Ter-la-lu! Masa sebagai teman, ga ada cs-nya sama sekali! Tak tahukah ia kalau saya akan, sedang mengemban tugas negara!?! Perasaan sedih, palak, panik bercampur jadi satu.

Barak Anggrek

Akhirnya, dengan berani mengakui kesalahan, menjelaskan duduk perkara dan kegentingan yang saya hadapi, saya kena hukuman: korvey cabut rumput depan barak Anggrek. Yap, sudah tidak ada waktu untuk berdebat lagi. Segera saja saya menyelesaikan tugas secepat-cepatnya dan langsung berangkat lagi. Waktu sudah semakin sempit. Saya harus bergegas karena satu bagian sejarah hidup saya yang lain sedang menanti! AFS, I’m coming 🙂

 Tapi, sejak saat itu saya sadar..yang salah tetap salah. Terlepas akhirnya saya lulus AFS, namun tidak jadi diambil, that’s another story. Ga lagi deh  saya cabut dari asrama karena saya tidak berbakat, cabut dan ketahuan..hehe. Peace ya Pak…

Itulah #CeritaPertama melakukan pelanggaran asrama. Tidak untuk dicontoh ya! 🙂 Nantikan #CeritaPertama selanjutnya. Salam

Read Full Post »