Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘MTsN Banda Aceh I’

Apa definisi artis bagi seorang pelajar MTsN (setingkat SMP) kelas 3? Mungkin sosok yang sering tampil di TV atau media massa lainnya. Namun buat saya, ngefans artis terparah cukuplah hanya kepada boyband asal Irlandia, Westlife. Setelah itu, semuanya berasa biasa saja.

Tahun 2000, segala sesuatu yang namanya keramaian, acara akbar selalu mendatangkan antusiasme. Walaupun acara tersebut berlangsung di MAN Banda Aceh, namun anak MTsN tetap bersuka cita menyaksikan acara tersebut. Maklumlah, MTsN dan MAN I Banda Aceh masih satu komplek.

Buat saya, tokoh-tokoh yang datang itu adalah spesial. Saya mengenali tokoh-tokoh itu, mengagumi karya dan tulisan mereka.  Even itu bertajuk ”Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya” yang disponsori oleh Majalah sastra Horison dan Ford Foundation. Bahkan H-2 saya sudah punya siasat jitu. Saya harus bisa bertemu dengan mereka!

Anak-anak kelas unggul III-1 siang itu kurang bersemangat mengikuti les sore. Entah sudah bosan belajar atau memang lagi sedang kurang motivasi. Wali kelas, Pak Zul bijak dapat menangkap tanda-tanda tersebut. Saat bertanya kepada para siswa, saya langsung memohon agar hari ini libur saja. Alasannya kami ingin menonton acara SBSB di MAN. Dan beliau mengabulkan. Singkat kata saya langsung menghambur ke pekarangan MAN.

Wah, sudah ramai. Dengan konsep acara outdoor, kursi-kursi dipenuhi oleh siswa MAN dan posisi saya sebagai bocah sekolah sebelah cuma bisa berdiri di sekitar panggung. Dua buku sudah saya pegang erat. Saya yakin pengarangnya pasti datang. Beliau muslimah yang berdarah Aceh, aktif menulis cerpen di Majalah Annida, sangat inspiratif. Saya yang sudah membaca majalah remaja islami sejak kelas I MTsN tentu saja penasaran dengan sosok beliau. Yup, benar sekali. Beliau adalah Helvy Tiana Rosa (HTR).

Helvy Tiana Rosa

Waktu berjalan lambat. Belum ada tanda-tanda pembicara datang. Jadilah saya duduk beralas tanah di tepi taman. Posisi saya strategis,  hanya 2 m dari tangga panggung. Ini membuat saya gampang menatap panggung tanpa harus berdiri dan berjinjit. Tiba-tiba, suasana semarak dan penonton riuh sekali. Tak lama iring-iringan pembicara muncul. Mata saya sibuk mencari sosok yang saya maksud. Waahhh, itu dia yang baju pink. Sreett, pas sekali melintas di depan saya. Sangking senangnya, saya freeze seketika.

Memang begitulah perasaan orang (fans) yang membuncah saat bertemu pujaannya. Memang sih ga sampai histeris segala :-). Namun, jika pembicara yang hadir sekaliber Helvy TR, Rendra, Pak Taufik Ismail, isn’t that amazing? Nah, begitulah saya. Khusyuk mendengar penjelasan tentang sastra dari para pembicara. Terlepas saya yang belum mengerti benar dengan apa yang mereka perbincangkan. Tidak masalah! Yang penting rame.

Rangkaian acara mulai berjalan dan tanpa terasa jam 17.15 sudah menuju akhir acara. Saya mulai bersiap. Seperti tak mau kehilangan momen, saya mulai beringsut ke sisi kiri panggung. Tepat saat pembacaan doa dimulai, saya mulai mengacungkan novel Ketika Mas Gagah Pergi. Pas sekali Mbak Helvy duduk paling ujung.

“Sebentar ya dek. Nanti saya tanda tangan”, ucapnya sambil tersenyum.

Pas selesai doa, pas novel saya berpindah tangan. Dalam waktu singkat, novel itu sudah dibubuhi tanda love dan huruf HTR. Wah, senangnya saya waktu itu. Berbunga-bunga. Novel Mas gagah adalah novel pertama yang bela-belain saya beli karena ceritanya yang te-o-pe-be-ge-te. Ibrah ceritanya sampai membuat saya terharu. Bahkan mama saya juga ikut menangis saat membaca Mas Gagah. Nah, tentu saya berasa sangat beruntung buku itu langsung ditanda tangani oleh Mbak Helvy.

Sumber foto: goodread.com

Tak lama, mulai banyak yang mengikuti apa yang saya lakukan. Ada yang bawa buku dan minta ditanda tangan. Tangga panggung dipenuhi oleh massa siswa yang sangat antusias ingin bersalaman, berfoto bersama dsb. Akhirnya panitia terpaksa membentuk formasi mengamankan para pembicara. Pembicara meninggalkan panggung dan banyak siswa MAN yang kecewa karena tak tercapai hasratnya.

Sore muai beranjak maghrib. Saat dijemput di sekolah saya pun bercerita kepada ibu saya tentang pengalaman tadi. Sembari pulang ke rumah, kami sekeluarga sepakat bahwa malam ini akan makan di restoran. Ini lazim kami lakukan tiap malam minggu. Tak perlu lama, meluncurlah kami sekeluarga ke Mie Razali. Kedai mie aceh yang fenomenal.

Mie Razali

Namanya juga rumah makan..ya ramai dengan orang-orang. Setelah menempati tempat duduk, mata saya tertumbuk pada sekelompok orang yang sedang makan mie juga. And guess who? Itu adalah rombongan sastrawan tadi. Wuss..kali ini mereka lebih ramai dan agaknya full team, termasuk Mas Emha Ainun dan Mbak Novia Kolopaking. Alhamdulillah senang sekali rasanya.

Setelah melihat situasi yang mendukung, saya menghampiri dan berkenalan. Awalnya sih dimediatori ibu saya. Sambutan mereka sangat ramah dan kami berbincang akrab. Dan bahkan saya bisa mendapatkan tanda tangan Pak Taufik Ismail, WS Rendra dll komplit..plit. Wah, special edition! Kalau rejeki memang ga lari kemana ya?

Kini, novel-novel itu sudah hilang dibawa tsunami. Namun memoir itu tidak akan pernah hilang.

Itulah #CeritaPertama saya bertemu artis. Nantikan kisah #CeritaPertama selanjutnya. Salam

Read Full Post »