Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘perempuan’

Bulan April ada sebuah momentum yang menjadi special bagi masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan. Ya, tak salah sagi, tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Sekalipun saya sejak kecil tidak tumbuh dalam kultur “bahwa hari kartini = hari berkebaya”, tetap saja selalu ada panggilan untuk mencermati kiprah perempuan Indonesia. Entah itu gerakan, pemikiran, organisasi, maupun tokoh-tokohnya. Salah satu yang menarik untuk saya angkat adalah Rohana Koddoes.
__________________________________________________________
Abad ke-20 adalah masa dimana pergolakan pemikiran muncul. Termasuk anak-anak negeri Hindia Belanda. Politik etis yang awalnya hanya politik balas budi, keprihatinan atas kebijakan kesejahteraan bangsa Indonesia yang sebelumnya dieksploitatif, telah melahirkan sebuah generasi yang mengecap pembangunan melalui institusi pendidikan modern dan mengenal perubahan. Termasuk pemudi-pemudinya.

Saat di bagian daerah Indonesia yang lain telah muncul inisiasi sekolah perempuan, demikian pula yang dlakukan Roehana Koeddoes. Ia mengambil jalur jurnalistik dan penerbitan sebagai bentuk perjuangannya. Surat kabar Soenting Melajoe secara eksplisit ia dirikan sebagai media mendorong kemajuan perempuan. Lahir di Kotagadang, 10 Desember 1884, sejak kecil ia telah menunjukkan kecendrungan untuk terjun di dunia jurnalistik, selain tentu saja pendidikan kaum perempuan. Ia bahkan merupakan wartawan perempuan pertama di Indonesia.

Roehana sangat peduli dengan nasib anak-anak perempuan yang tidak sekolah dan tidak memiliki ketrampilan. Untuk itu ia mengajarkan ketrampilan menjahit dan membuat bermacam perhiasan sehingga dapat menambah pemasukan keluarga. Selain itu,ia berjuang menanamkan kesadaran kepada kaum ninik mamak –yang dalam tradisi masyarakat Minangkabau memiliki peranan penting dalam keluarga- agar peduli megenai pendidikan anak perempuan. Atas dasar itu pula, dengan dukungan masyarakat setempat,

Roehana Koeddoes mendirikan lembaga pendidikan khusus untuk membantu kaum perempuan di kotanya, Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sekolah itu sengaja dirancang Roehana untuk membantu kaum perempuan Kotagadang agar memiliki pengetahuan dan ketrampilan. Dengan demkian, mereka diharapkan mandiri, tidak sepenuhnya tergantung pada kaum laki-laki. Sekolah tersebut memberikan pelajaran-pelajaran yang mendukung tujuan tersebut :

1. Kerajinan tangan yang berguna bagi perempuan
2. Baca-tulis huruf Arab-melayu dan latin setingkat sekolah dasar
3. Pendidikan rohani dan akhlak menurut ajaran agama dan amal ibadah
4. Kepandaian mengurus rumah tangga dan
5. Pengetahuan umum

Kiprahnya semakin cemerlang saat ia menggeluti dunia penerbitan. Didukung bakatnya dalam menulis, Roehana sadar bahwa media merupakan media yang efektif dalam mensosialisasikan gagasannya ke audiens yang lebih luas. Ia juga tumbuh dalam masyarakat Minangkabau yang saat itu telah akrab dengan kegiatan penerbitan. Ia membaca sejumlah surat kabar yang terbit di Indonesia dan di dunia Melayu-Nusantara. Korespondensinya dengan Soetan Maharaja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe (surat kabar terkemuka dalam kebangkitan masyarakat Melayu) semakin meneguhkan cita-citanya membuat surat kabar yang khusus menampung aspirasi kemajuan kaum perempuan.

Atas bimbingan dan dukungan Soetan Maharaja dengan Oetoesan Melajoenya, juga berdampak pada Roehana. Tanggal 12 Juli 1912 secara resmi Soenting Melajoe terbit. Ia dibantu oleh Zubaidah Ratna Juita, anak Soetan Maharaja yang telah memiliki pengalaman dalam mengelola surat kabar. Soenting berarti perempuan, sehingga dengan nama tersebut dia memaksudkannya sebagai surat kabar perempuan di dunia Melayu.

Terbit setiap seminggu sekali, Soenting Melajoe secara umum memuat tulisan-tulisan berupa artikel tentang kemajuan kaum perempuan, atau berupa syair yang berisi imbauan mengenai subjek yang sama. Surat kabar ini juga memuat sejarah dan biografi sejumlah tokoh yang berpengaruh khususnya dalam gerakan untuk kemajuan kaum perempuan. Di samping itu, surat kabar ini juga menghadirkan berita-berita dari luar negeri yang disadur Roehana dari majalah dan jga buku-buku terbitan luar negeri, khususnya yang berbahasa Belanda. Soenting Melajoe terbit selama sembilan tahun hingga 1992.

Kutipan Roehana dalam Soenting Melajoe terbitan 23 Mei 1913 :

“Apabila diperhatikan bagaimana pergerakan bangsa waktoe ini, dan diperbandingkan dengan gerakan Hindia dan difikirkan bagaiaman gerakan Sumatera waktoe ini, maka tahoelah kita bahwa masih djaoeh djalan jang kita tempuh ke padang jang bernama kemadjoean.

Akan tetapi hal ini djanganlah disia-siakan teroetama bagi orang yang berperasaan tjinta, kasih sajang kepada bangsa dan tanah airnja. Hingga waktoe sekarang terang kelihatan benar bagaimana gerakan boemi poetra hendak meniroe gerakan bangsa Eropa jang telah madjoe. Sepakat mendirikan perkoempoelan dan lain-lain mengenai peladjaran. Di Alam Minangkabau kita soedah poela berboenga dengan mendirikan beberapa perserikatan.

Biarpoen banjak perserikatan teroetama boeat laki-laki, akan tetapi marilah bangsa perempoean berani minta terima kasih kepada ahli-ahli soepaja kita dihelanja dari lembah kegelapan ke djalan jang terang”.

Roehana Koeddoes

Roehana Koeddoes, salah satu bintang terang Indonesia. Jadilah satu bintang terang lagi, kawan!

(intisari dari buku Tentang Perempuan Islam : Wacana dan Gerakan). sumber lain tentang Roehana Koeddoes

Read Full Post »

Tanggal 8 Maret diperingati dunia sebagai hari Perempuan Internasional. Hari yang menjadi momen kesempatan bagi semua umat manusia untuk memiliki rasa solidaritas terhadap perjuangan kaum perempuan di manca negara, yang sampai saát ini posisi kaum perempuan, baik di negara maju maupun di berbagai negara sedang berkembang masih menyentuh pada banyak persoalan ketidak-adilan dalam posisinya di kehidupan sosial-ekonomi, misalnya menghadapi kasus diskriminasi dan kekerasan kaum prempuan di sektor kerja. Juga, posisi perempuan banyak mengalami persoalan kekerasan dan pemerkosaan di kehidupan berkeluarga. Bahkan di banyak negara berkembang, kaum perempuan tetap
menghadapi kondisi kehidupan paling terberat karena faktor kemiskinan.

Saya sendiri baru tahu hal ini . Setelah googling, ternyata cukup banyak mendapatkan sumber informasi tentang sejarah, sepak terjang para aktivis perempuan dunia dan permasalahan global terkait perempuan. Sedikit berbagi pandangan. Enjoy!

Dan perempuan…kau mengalihkan perhatian dunia…

Sejarah

Banyak orang beranggapan bahwa pengakuan hari perempuan internasional ini asal-muasalnya dari pencerminan aksi massal kaum perempuan Amerika di tekstil/pakaian industri tanggal 8 Maret 1908 sehingga pada tiap tanggal tersebut juga dipakai oleh masyarakat di eropa sebagai acuan hari aksi bagi gerakan perempuan.

Clara Zetkin (1857 – 1933) pada tahun 1889 sebagai wakil perempuan sosialis – Berlin telah memulai memperjuangkan hak-hak pekerja perempuan dan pekerja anak-anak di pertemuan Kongres internasional ke II di Paris. Dalam Kongres tersebut, Clara Zetkin mengajukan persoalan pekerja perempuan dan pekerja anak-anak, untuk dimasukan dalam program perjuangan gerakan buruh. Dalam pertemuan kongres tersebut, Clara memasukkan program tuntutan, antara lain tentang pelarangan mempekerjakan anak-anak dibawah usia 14 tahun, membolehkan anak-anak bekerja max 6 jam per-hari pada antara usia 14-18 tahun, menuntut penghapusan dinas malam bagi pekerja perempuan dan anak-anak di bawah usia 18 tahun. Ia juga menolak agenda tuntutan, yang di serukan kaum sosialiste lainnya, untuk penghapusan undang-undang pekerja perempuan, dengan alasan bahwa perempuan berhak menuntut persamaan hak dalam posisi sosial-ekonomi.

Singkat kata, perjuangan Clara Zetkin memperjuangkan kesamaan hak dan keadilan sosial kaum perempuan berbuah manis pada konferensi Internasional Perempuan Sosisialis di stuttgart pada tanggal 17 Agustus 1907 yaitu resolusi tuntutan hak memilih dan hak untuk dipilih bagi kaum perempuan dewasa.

Puncaknya, setahun kemudian, di kota New York pada tanggal 8 Maret 1908 ribuan pekerja perempuan dari tekstil/pakaian industri mengadakan demonstrasi dengan tuntutan menentang kerja seharian penuh, salary rendah dan kondisi kerja buruk.

Pada tahun 1911 untuk pertama kali peringatan Hari Perempuan Internasional mulai dilakukan di Jerman, Denmark, Zwiserland dan di Amerika dengan melakukan demonstrasi massal kaum pekerja perempuan. Sejak saat itu tradisi kebangkitan kaum perempuan semakin marak di daratan Eropa dalam perjuangannya melaui protes aksi atau demonstrasi massal. Sejarah pergerakan Perempuan se Dunia ini, pada akhirnya mendapat pengakuan dari PBB pada tahun 1978.

Tantangan Abad 21

Dalam Konferensi Dunia IV mengenai Perempuan dan Pembangunan di Beijing tahun 1995, pemerintah negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Indonesia, berjanji memajukan kesetaraan, pembangunan, dan perdamaian bagi perempuan di mana pun.

Itulah hal paling dasar dari pemenuhan hak asasi manusia seperti tercantum dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.Kesetaraan bagi perempuan dan anak perempuan mencakup kepentingan ekonomi dan sosial. Selama mereka belum terbebaskan dari kemiskinan dan ketidakadilan dalam arti luas, maka perdamaian, keamanan, dan pembangunan berkelanjutan tetap terancam.

Itu pula sebabnya, tujuan ketiga Sasaran Pembangunan Milenium (MDGs), yakni mencapai kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, merupakan isu sentral dari semua tujuan MDGs. Artinya, semua tujuan MDGs tak akan tercapai tanpa memperhitungkan faktor kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan.

Deklarasi Beijing telah memberi panduan bagi pembuatan kebijakan publik, selain pesan yang jelas bahwa kesetaraan dan kesempatan bagi perempuan dan anak perempuan tak terpisahkan dari hak-hak asasi manusia.

Meski demikian, masih banyak yang harus dilakukan. Begitu diingatkan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon menyongsong Hari Perempuan Internasional (8/3/2010), bertema ”Kesetaraan hak, kesetaraan kesempatan: Kemajuan bagi semua”.

Ia mengingatkan, angka kematian ibu melahirkan di dunia masih sangat tinggi. Itu artinya, akses pada pelayanan kesehatan reproduksi baru dinikmati segelintir perempuan dan kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan seksual, tetap bersifat endemik.

Selain itu, diskriminasi dan stereotyping terus berlangsung di semua kebudayaan dan komunitas. Perkawinan paksa, praktik honor killing (pembunuhan terhadap perempuan dan anak perempuan atas nama ”kehormatan” keluarga), kekejian seksual, dan meningkatnya kegiatan kriminal perdagangan perempuan dan anak perempuan.

Dari perspektif apa pun, perempuan dan anak perempuan harus menanggung beban terberat keluarga, komunitas, dan masyarakatnya.

the power of women, perempuan cerdas, berdaya dan bahagia!

What Next?

Life goes through dan perempuan juga ada di sana. Semua manusia bergulat dengan zaman dan perempuan termasuk di dalamnya. Zaman yang semakin kompetitif, cepat dan dinamis menuntut manusia berubah (adaptif) dan terus meningkatkan kekuatan diri.

“Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An-Nisa: 9).

Tentu saja lemah yang dimaksud di sini bukan hanya lemah secara ekonomi saja, melainkan juga lemah secara spiritual (ruhiyah), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qusyairi. Artinya, jangan sampai orangtua meninggalkan generasi yang lemah agamanya sehingga alih-alih menjadi penerus bagi generasi sebelumnya, justru menjadi generasi yang merusak warisan para pendahulunya.

Para perempuan hendaklah mengambil peran perubahan peradaban dengan cara meningkatkan kepahaman dengan ILMU. Ilmu apapun selama itu mengantarkan pada jalan kebaikan. Sebaik-baik ilmu ditegaskan sebagai ilmu yang mengalir dalam siklus belajar dan mengajarkan (tataran AMAL). Wilayah cakupan ilmunya pun sangat beragam, mulai dari Ilmu agama, ilmu kontemporer, ilmu sejarah dan sebagainya.

What a wonderful concept of Islam, bahwa muslim/muslimah diberi peluang yang sama untuk berbuat baik dan diganjar oleh Allah sesuai dengan amalannya masing-masing. Maka yang tercipta adalah nuansa kompetisi dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Ayo perempuan Indonesia, jangan mau ketinggalan! Muslimah, keep striving on kindness! Karena syurgaNya tidak menunggu, tapi harus diburu..:) (Febi Mutia)

-mengambil spirit Training the Power of Woman, perempuan Cerdas, Berdaya dan Bahagia-

Bandung, 08032010

Referensi:lbh-apik, prakarsa-rakyat, apadong

Laki-laki dan perempuan: bekerja sama dalam kebaikan dan takwa

Read Full Post »

5 Februari 2010 saya berkesempatan mengikuti training Identifikasi Korban Traffcking di Jawa Barat yang diselenggarakan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB). Bekerja sama dengan NGO International Organization for Migration dan dihadiri oleh peserta dari berbagai stake holder seperti Dinas Kesehatan, kepolisisan, Kejaksaan, dan LSM yang bergerak di bidang perlindungan hukum, perempuan dan anak.

Ternyata Prov. Jawa Barat menempati peringkat kedua dalam jumlah korban perdagangan manusia (trafficking). Pada tahun 2009, terdapat 700 korban trafficking asal Jawa Barat, di bawah Kalimantan Barat dengan 750 korban. (Bareskrim Mabes Polri)

Berikut beberapa catatan, semoga bermanfaat.

Kata “Trafficking”  berasosiasi pada kata Trafiking yang artinya perdagangan orang . Bentuk perlingdungan yang telah ada di Indonesia yaitu  UU 21/2007, lebih dikenal dengan TPPO = Tindak Pidana Perdagangan Orang .

Definisi Traficking

Perekrutan, pegiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksaan, penculikan, penipuan, kebohongan atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan agar dapat meperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi.

Eksploitasi termasuk, paling tidak, eksploiasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk-bentuk lain dari eksploitai seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktek-praktek serupa perbudakan, penghambaan atau pengambilan organ tubuh. (United Nation, Pasal 3 Protokol PBB untuk Mencegah, Menekan dan Menghukum Trafiking Manusia, Khususnya Wanita dan Anak-anak, ditandatangani pada bulan Desember 2000 di Palermo, Sisilia, Italia)

Sedangkan definisi TPPO dalam UU 21/2007 adalah Tindakan perekrutan, pengangkutan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memgang kendali orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi [pasal 1 (1)]

Tindakan Pidana Perdagangan Orang: adalah setiap tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan dalam undang-unadang ini [pasal 1 (2)].

Oke, mengapa definisinya sedikian rumit?

Karena dari definisilah akan mempermudah identifikasi TPPO. Jangan salah lho, selain traffcking juga ada istilah smuggling. Lanjut ya…

Secara garis besar, trafficking terbagi dua:

  1. Korban usia <18 tahun
  2. Korban > 18 tahun

Suatu kasus baru dapat disebut TPPO jika tercapai 3 unsur berikut:

1. Proses : pergerakan , 2. Cara, 3. Tujuan : eksploitasi . Ini berlaku untuk identifikasi korban yang berusia >18 tahun. Sedangkan jika korban adalah anak <18 tahun maka cukup melakukan 2 tahapan saja   : Proses  dan Tujuan.

Mengapa ada perbedaan? Penjabaran tentang ke-3 point di atas akan lebih jelas seperti uraian berikut.

  1. Proses : Metode Pergerakan. Apakah orang tsb:
  • Direkrut? atau
  • Ditransportasi? atau
  • Dipindahkan? atau
  • Ditampung? atau
  • Diterimakan di tujuan?

Jika TIDAK, ia bukan korban trafficiking

Jika YA, maka masuk ke tahap identifikasi no. 2 yaitu, CARA

2. CARA. Apakah orang tersebut:

  • Diancam? atau
  • Dipaksa dengan cara lain? atau
  • Diculik? atau
  • Menjadi korban pemalsuan? atau
  • Ditipu? atau
  • Menjadi korban penyalahgunaan kekuasaan?

Jika TIDAK, ia bukan korban trafiking

Jika YA, maka masuk ke tahap identifikasi no. 3 yaitu, TUJUAN

3. TUJUAN : Eksploitasi. apakah korban tereksploitasi? Dapat termasuk dalam kategori eksploitasi bila :

  • Pelacuran, atau
  • Bentuk lain dari eksploitasi seksual, atau
  • Kerja Paksa, atau
  • Perbudakan, atau
  • Praktek-praktek lain dari perbudakan (mis. tugas militer paksa), atau
  • Pengambilan organ-organ tubuh, atau

Jika jawabannya YA, ia adalah KORBAN TRAFIKING.

Jika jawabannnya TIDAK, ia bukanlah korban trafiking.

Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang itu adalah VOTS? (Vicims ofTraficking)?

Berikut beberapa indikator umum:

  • Orang tersebut tidak dapat pindah ke lokasi baru atau meninggalkan pekerjaan mereka.
  • Orang tersebut tidak mengelola uang mereka sendiri.
  • Orang tersebut tidak menguasai dokumennya sendiri, seperti paspor, kartu pengenal, dll.
  • Orang tersebut tidak dibayar untuk pekerjaannya atau dibayar sangat rendah.
  • Orang tersebut tinggal bersama beberapa orang lainnya dalam kondisi tidak bersih atau tinggal bersama majikannya (mungkin mucikarinya).
  • Orang tersebut jarang sendirian dan tampaknya selalu memiliki pendamping.
  • Orang tersebut tampak memiliki luka fisik atau bekas luka, seperti goresan, memar, atau luka bakar.
  • Orang tersebut menunjukkan sikap penurut.
  • Orang tersebut memperlihatkan gejala tekanan emosional dan masalah psikologis, seperti depresi, kegelisahan, luka yang dibuat sendiri, cenderung ingin bunuh diri.

Bicara tentang trafficking pasti akan berbicara tentang masalah yang kompleks. Mulai dari himpitan ekonomi, budaya masyarakat, moralitas, hukum, kemanusiaan, policy antar Negara, dll.

Cerita dari staf IOM, Mbak Ana juga cukup membuat saya mengidik. Bagaimana jahatnya orang tua yang memperdagangkan anaknya, sengaja menjadikan anak komoditas seksual, dll. Para gadis remaja yang tepaksa membayar hutang keluarga dan akhirnya mereka dimekanisasi dalam penjualan manusia. Belum lagi cerita-cerita kekerasan fisik dan psikis yang dialami. Persis seperti nasib tragis sebagian TKW Indonesia.

Mencoba surfing ke website terkait, saya membaca:

Salah satu fakta yang menyedihkan mengapa trafficking marak di Indonesia karena budaya konsumerisme yang melanda generasi muda. Selain itu, angka putus sekolah (dropout) di Jawa Barat cukup tinggi dan rata-rata lama sekolah (RLS) yang masih berkisar 8 tahun. “Angka DO di Jawa Barat memang relatif kecil, sekitar 2,5 persen. Namun, karena jumlah anak sekolahnya banyak, siswa yang DO-nya juga ribuan orang,” tutur Direktur Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan Nasional (Kemen-diknas) Eia Yulaelawati, MA.

….

Sebenarnya materi trafficking masih panjang. Insya allah saya share di kesempatan yang lain…

Pada akhirnya saya menyadari…

Kerja-kerja untuk umat adalah sangat banyak. Berat bahkan teramat berat. Maka tak akan mungkin dipikul sendiri oleh pemerintah saja, LSM saja, polisi saja, jaksa saja…kecuali dengan kerja  sama…ya, KERJA SAMA.

Termasuk bagaimana saya, Anda. Perlu menjadi pribadi yang sehat lahir dan batin, kuat itikadnya dan sanggup meringankan urusan umat ini. Insya allah…

Bdg, 18022010

Read Full Post »

Apakah kamu cewek yang:
a. Masih bingung dengan cita-cita diri dan prioritas hidup
b. Suka diprotes karena bergelar “jam karet”
c. Tidak PD dan grogi tampil di muka umum
d. a, b dan c benar

Kamu punya masalah dengan hal-hal di atas?
maka…
PENTING dan LAYAK untuk ikut ACARA INI!

MOTIVATION TRAINING & SKILL UPGRADING “THE POWER OF WOMEN”
Perempuan Cerdas, Berdaya dan Bahagia

Bersama para Trainer Dahsyat dari GRAK SYSTEM MANAGEMENT CONSULTANT:
1. Arfiana Rafnialdi, ST (Pengajar Softskill ITB, pengasuh Talkshow Motivasi 95,2 Bandung FM)
2. Gun Gun Saptari Hidayat, ST (National Speaker K-System Intenational)
3. Henry Baskoro, ST (Pengusaha dan Tokoh Jaringan Pengusaha Muslim Jawa Barat)

Kapan ? 6-7Maret 2010
Dimana? Ruang Multimedia 9311 ITB
Jl. Ganesha No.10 Bandung

Investasi :
EARLY BIRD Rp.75 ribu (s.d 28 Feb 2010)
Rp. 90 ribu (1-3 Maret 2010)
HTM : Rp.100 ribu (4-5 maret 2010)

Fasilitas: konsumsi, handout materi, sertifikat dan unforgattable moment

Daftar Sekarang, sist!
CP: Febi Mutia (0812-69-20863)
Danar Astuti (0817-626-157)

Ayo para muslimah…
Jadilah bagian dari perempuan Indonesia yang unggul !

Organized By:
LSM Lingkar Perempuan dan Annisa Gamais ITB
Email : tpw_cewe@yahoo.com

Read Full Post »

Gara-gara baru beli sebuah majalah edisi khusus craft,
diriku jadi senang dengan serba-serbi craft, terutama yang rajut, renda dan sulam pita.

Waktu kecil sih ingat banget, both of my grandmom bisa ngerajut.
dari bahan benang sampai tali rafia dijadikan bunga…Bahkan sepatu bayipun dirajut ama nenekku untuk adik sepupuku.

rajut-merajut

Luar biasa..apalagi perkembangan rajut makin dahsyat aja.
Pas lagi searching buku-buku rajut di google, eh ternyata dulu pas SD pernah belajar yang beginian juga. Macam-macam tusuk, kaya tusuk tikam jejak, tusuk rantai, de el el.
Produknya jadi tambah chic dengan sentuhan sulam pita…
huhu..pengen punya dan pengen bisa…T_T

Gak tau, kalo ngelihat orang yang bisa ngerajut, apalagi perempuan..
serasa dia benar-benar perempuan sejati. Hhehe..lebay…Ya, mengapa seperti itu?
Karena untuk merajut, merenda dan sebagainya itu butuh kesabaran dan ketekunan tingkat tinggi.
Hanya perempuan yang penuh cinta bisa membuat “karya lebih”…karya yang dengan cita rasa cinta…

dan…bisa merajut, one of my life plan

Bandung, 19122008

Read Full Post »

Salah satu fitnah dunia buat perempuan adalah harta (sepakatkan jeng?). hehe…tidak dapat dipungkiri, potensi untuk belanja, selera memanjakan mata dengan barang yang beraneka rupa telah dititiskan pada makhluk yang disebut perempuan.

Kadarnya pun dari low sampai high…dari yang cuma demen belanja di SERBU “serba lima ribu”, mengubek-ubek pasar jumat, gasibu atau cimol, naik tingkat sedikit…suka hunting barang lucu di mall bahkan sampai ada yang rela terbang ke Singapur, Hongkong, dll dan mencitrakan diri sebagai sophaholic …ckckkk…

Pasar menawarkan barang-barang dengan berbagai item kebutuhan dan itu semua menjejali kehidupan kita. Mulai dari yang primer seperti makanan pokok, pakaian, dan segala turunannya sampai ke benda-benda pelengkap kebutuhan hidup. Tiap orang punya subjektivitas tersendiri dalam menentukan “what should be put in her shopping list”.

Namun, notes kali ini saya akan mengajak kalian untuk share tentang perilaku bijak –terkait women’s financial.

Apapun barangnya ya jeng..semua kudu dibayar pakai uang asli (bukan daun). Selera sih boleh selangit tapi uangnya juga dong…Maksudnya ingat-ingat lagi pepatah yang diajarkan pas SD…jangan besar pasak daripada tiang! Maksud hati sih ingin membeli barang-barang cosmo (terutama yang berafiliasi ke beauty care, life style) namun dengan cara ngutang, atau “terlanjur” emotional shopping” alias sebenarnya barang tersebut ga butuh-butuh amat…Mungkin kamu punya common error juga dalam belanja?

common error dalam belanja dapat menyebakan kepusingan seperti gambar ini 🙂

Ok tante, calm…Saya punya satu tips. Semoga ini bisa jadi obat dari segala penyakit “gila belanja”

Hidup sesuai kemampuan. Agar benar-benar hidup merdeka, hiduplah sesuai kemampuan.

Jika selalu dililit hutang, entah kepada orang lain atau kartu kredit, pasti kita-kita tak akan pernah menikmati hidup seutuhnya. Atur keuanganmu agar dapat menjalani hidup tanpa batas dengan menabung untuk hal-hal yang kamu inginkan, dan berbelanja sesuai rencana.

Ok…hidup sesuai kemampuan. Trus, kalau memang mampu belanja “lebih” dan budget mendukung, boleh dong?

Boleh! Asal pakemnya satu aja…tidak berlebih-lebihan. Kalau bisa belanja cerdas dengan harga 100 ribu misalnya, mengapa harus boros dengan 500 ribu? Kalau kerudung, tas dan sepatu sudah ada varian warna coklat maka mengapa beli warna yang sama lagi?

Trus…bagaimana cara untuk tahu bahwa saya berlebih-lebihan/tidak dalam belanja?

Wow..eta mah gampil, neng. Coba teliti lagi kebiasaan belanja kamu. Apakah sudah menerapkan pola-pola “a smart buyers”? Boros atau tidaknya tercermin dari proposionalnya barang-barang yang kamu beli untuk memenuhi 3 aspek kebutuhan manusia. Yaitu : jasadiyah (kebutuhan fisik), fikriyah (kebutuhan intelektual), dan ruhiyah (kebutuhan spiriutual).

Satu catatan penting buat para perempuan, pasar (industry secara global) memang menyasar perempuan dengan barang-barang yang ujung-ujungnya mengarah pada belanja sebanyak-banyaknya (konsumerisme) dan menyuburkan gaya hidup hedonisme. Visualisasi iklan yang memukau bahwa perempuan cantik itu adalah langsing, tinggi >160 cm, kulit putih, rambut lurus panjang dan sehingga perlu mengkonsumsi produk x, y, z adalah setting untuk mencapai tujuan tersebut. Apalagi diperparah dengan sifat perempuan yang senang dipuji…hehe

Well sisters…singkat cerita…saya ingin mengajak kita semua untuk menjadi a smart buyers. Yang membeli barang karena kebutuhan (bukan keinginan semata), lebih mengedepankan kualitas barang, mencari harga yang sesuai dan ditempuh dengan halal dan thayyib (baik dari substansi barang, sumber pembelian dan perilaku pemakaiannya).

Buat catatan akhir, kita perlu ingat bahwa dibutuhkan suatu mekanisme produksi yang sangat panjang untuk menghasilkan satu barang/produk. Dan akan sangat sia-sia jika akhirnya barang itu hanya menyenangkan mata kita di awal namun akhirnya harus berakhir di pojok kamar, di tong sampah atau dalam kotak donasi barang bekas kita…gara-gara “ehmm..kayanya aku salah beli deh…”

Go Galz! Bijak Belanja, kita bangeeeeeeeeeet!

I'm a smart buyers. How about you?

Yes, I’m a smart buyers!

Read Full Post »