Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sepeda motor’

Untuk anak yang tinggal di Banda Aceh dan sekitarnya, belajar mengendarai sepeda motor serasa wajib hukumnya. Karena naik kereta adalah transportasi yang lazim, murah dan terjangkau oleh mayoritas warga Banda. Tak heran, jalur angkotan umum yang terbatas dan tidak menjangkau jalan-jalan utama, menyebabkan anak-anak ini dikarbit untuk cepat besar. Dan salah satu tanda eksistensi “jadi orang besar” adalah bisa mengendarai motor.

Tahun 1998 belum dikenal motor matic. Kalau mau latihan mengendarai motor, pilihannya jatuh ke honda, sebuh merek motor yang menjadi trendmark saat itu. Kisah saya mulai bawa honda yaitu di kelas 6 MIN (setingkat SD). Sebuah masa yang dianggap cukup layak untuk belajar dengan pertimbangan minimal kaki sudah mampu menapak di tanah (walaupun masih jinjit) dan mampu mengimbangi massa honda.

Tak perlu lama, honda ibu saya jadi alat uji cobanya. Tempat berlatih di Jalan Bahtera Kampung Mulia. Cukup dekat dengan rumah dan lokasi jalan ini strategis sekali karena merupakan jalan buntu yang diapit oleh 2 lapangan kosong. Pelatihnya yaitu abang saya sendiri, Reza. Ok, sempurna kan?

Sore lepas hujan saya tetap bersemangat berlatih. Toh saya pikir bawa honda kan gitu-gitu aja ya? Asal bisa diawalnya, mengerti cara oper gigi, lancarlah…Basicnya sih harus biasa bawa sepeda dulu. Nah, minimal saya sudah akrablah dengan part honda. Rutinitas “memanaskan” honda di pagi hari membuat saya tidak grogi untuk menstart mesin, mengencangkan gas dll.

sumber gambar: esq-news.com

Setelah pengantar teori mengendarai motor dengan baik dan benar dari abang saya, maka it’s time to practise! Medan latihan yang mulus dan lurus membuat saya lancar jaya mengedarai motor. Dua tiga kali bolak-balik kepercayaan diri saya meningkat.

Wah, walaupun baru 1 kali latihan saya sudah tahap bisa. Mungkin ga lama lagi bisa tahap mahir dan bisa dipercaya ke jalan lalu lintas ramai. Yes..yes!

Tak disangka, saat ingin baik arah saya mulai kewalahan. Gas saya pelankan dan rem diinjak dalam-dalam. Namun mendadak saya hilang keseimbangan. Ups, kaki ini mencoba menggapai tanah dan tertatih mencoba jalan sambil berpegangan di stang honda. Bodi honda yang memang berat untuk anak seumuran 12 tahun menjadi beban bagi saya. Abang saya yang mengawasi di ujung jalan berteriak-teriak..mundur dulu!

Nah sayanya bandel. Menganggap sudut putaran sudah sempurna dan space untuk berbelok 360 derajat cukup lebar. Tentulah prediksi saya salah besar. karena roda depan sudah mulai keperosok ke selokan besar yang penuh air sisa hujan besar. Tekstur tanah yang gembur membuat kaki saya terbenam dalam lumpur. Mudah saja, kaki yang tidak kuat menapak sekaligus tidak kuat menopang bodi honda membuat saya kewalahan. Dalam beberapa detik, terjun bebaslah honda dan si anak bandel itu ke dalam parit panjang berair coklat. Hiks…

“Baaaaaaaaang…saya cuma bisa menjerit.

Akhirnya abang saya datang, menarik saya keluar dari parit yang kira-kira sedalam lutut orang dewasa. Honda yang ikutan nyemplung sudah berlepotan lumpur. Sambil menahan sakit di kaki, saya menepi di atas jalan aspal. ternyata tak ada yang luka, cuma beset-best saja di kulit. Alhamdulillah…

Setelah memastikan honda dalam keadaan baik-baik saja, kami pun pulang. pelajaran bawa dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan. Abang saya cuma ngomel sedikit saja. hehe..untung saja.

Sampai akhirnya, saya masih tetap mengendarai motor. Apalagi sejak SIM C di kantong. Tapi tenang saja, saya tipe rider yang baik dan benar lho. Pakai helm, taat peraturan lalu lintas dan tidak  kebut-kebutan 🙂

Mudah-mudahan saya dapat memperdalam teknik riding motor bike saya di Vietnam 😀

Ini #CeritaPertama saya mengendarai sepeda motor! Nantikan edisi #CeritaPertama berikutnya

Read Full Post »