Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘visit Banda Aceh 2011’

Setelah belum berhasil mengurus KTP, maka the next target adalah perpanjang SIM. Dari usia 17 tahun, saya sudah mengantongi SIM A dan C, walaupun sudah  menjadi driver dan rider sejak usia SMP hehe…

Nah, kata bang saya, Reza, untuk memperpanjang SIM Band Aceh cukup datang ke Simpang BPKP. Buat yang belum tahu, ancer-ancernya adalah simpang dekat Hotel Hermes Palace, arah menuju Ulee Kareng. Masih belum tahu juga? Tanya orang ya… 🙂

Ternyata saya tiba di sana pada jam aman. Alias jam 11.30 dimana masih terhitung jam kerja. Di sana, mobil SIM keliling Polresta Banda Aceh itu sudah nangkring dengan beberapa orang yang sedang menunggu antrian. Tanpa berpanjang-panjang, saya mengangsurkan 2 SIM saya ke loket dan diterima oleh petugas polisi.

Mobil SIM Keliling Banda Aceh

Saya yang pergi dengan teman, Musdya, tidak kebagian kursi. Baiklah, karena kami masih muda, kami masih kuat berdiri.

“Kak, sudah menunggu berapa lama? Tanya saya kepada seorang perempuan yang duduk di sana.

“Sudah 15 menit”, jawabnya. Ok, masih tahap wajar, pikirku.

Cuaca cukup terang, namun tidak begitu terik. Sebagai informasi, mobil SIM keliling ini hanya melayani perpanjangan SIM bagi yang berKTP Banda Aceh dan SIM Aceh. Bukan pembuatan SIM perdana… Tak lama berselang nama saya dipanggil bersama 5 nama lainnya. Maka kamipun masuk ke mobil.

Ternyata di dalam mobil itu, hanya ada 2 orang petugas.1 petugas perempuan yang duduk depan computer, dan 1 petugas laki-laki yang bertugas di bagian pendaftaran dan berkas-berkas. Prosesnya sangat simple. Pertama, petugas akan mengetik data-data pemegang SIM dan membacakan ulang untuk konfirmasi, apakah ada perubahan. Lalu scan sidik jari, jempol kiri di alat pemindai. Selanjutnya adalah foto dan tanda tangan. Proses dalam 1 menit, data berpindah ke kartu dan tarraa..kartu dicetak dan uangpun berpindah tangan. Sangat praktis dan efektif.

Tapi…uang perpanjangan SIM adalah  Rp.150 ribu untuk SIM C dan Rp170 ribu untuk SIM A. Silahkan total sendiri berapa rupiah yang saya keluarkan hari itu. Mahal ya? Ternyata jika pembuatan awal SIM harganya jauh lebih mahal. Rp 250 ribu untuk SIM C dan Rp.320 ribu untuk SIM A dan harus dibuat di kantor polisi. Apakah tarif ini sama di kota lain?

Terlepas dari harganya, fasilitas SIM mobil keliling ini sangat membantu masyarakat. Terima kasih…

Banda Aceh, 31 Januari 2011

Read Full Post »

Kali ini misi pembuatan KTP harus berhasil!

First step, ke kantor kepala desa Lampulo. Berdasarkan penjelasan pegawai, saya harus bawa fotokopi kartu keluarga dan pengantar dari kepala dusun. Wah, tambah lagi ni tugas saya.. 😦

Singkat kata..saya urus lagi surat ke kepala dusun, baru kembali ke kantor desa. Kalau dipikir-pikir walaupun rada repot, tapi mungkin ini salah satu langkah tertib administrasi kali ya…

Sedikit profil tentang desa Lampulo. Desa dimana saya tinggal ini berada dekat pelabuhan bongkar muat ikan dan termasuk daerah tujuan wisata juga karena ada situs boat atas rumah (kejadian tsunami 2004). Desa Lampulo juga pernah menjadi juara desa terbaik di Kota Banda Aceh.

Proses administrasi di kantor desa selesai, maka saatnya bergegas ke balai kota lagi. Saya harus berpacu dengan waktu sebelum waktu istirahat kerja. waktu sudah pukul 11, Banda Aceh sedang panas-panasnya.

Setiba di sana, saya dapat nomor antrian. Tak berapa lama, saya sudah dipanggil untuk ke loket KTP. Tanya jawab sebentar, langsung saya dijepret. Eh, boleh juga ni.. 🙂

Kamera di PC

Dan satu yang saya suka, perpanjangan KTP cukup menunggu 1 jam setelah form KTP difoto dan gratis. Benar-benar sangat membantu!

Kantor Pelayanan Satu Pintu Banda Aceh

Mudah-mudahan kinerja di kantor ini semakin bagus kualitas pelayanannya. Kan sesuai moto yang dipasang “melayani dengan senyum, mudah, cepat dan pasti”.

Good Public Service!

Read Full Post »

Selalu ada rasa excited untuk mengurus KTP. Nggak lazim ya :-). Sadar bahwa saya ingin menjadi warga Negara Indonesia yang baik, maka saya mengurus KTP saya yang akan kaduluarsa 3 hari lagi (4 Feb). Begitu pula sim A dan C. Layaknya perpanjangan, tentu tidak serumit saat pembuatan awal. Maka jam 9.10 WIB meluncurlah saya ke kantor Dinas Kependuduan dan tenaga kerja, tempat dimana membuat KTP 5 tahun yang lalu yang cuma berjarak 800 m dari rumah.

Setiba di sana, ada pengumuman bahwa tertanggal 1 Jan 2011, pelayanan administarasi publik pindah ke Balai Kota. Ok baiklah, maka bergegaspun saya kesana. Olala, kantor Balai kotanya cukup mentereng sekarang. Kantor yang terletak dekat dengan Taman Sari dan Mesjid Raya Baiturrahman ini sudah mengalami perluasan di sana-sini. Termasuk satu ruang yang dinamakan pusat pelayanan satu pintu. Dan masuklah saya ke sana…

Balai Kota Banda Aceh

Eng ing eng…ramai sekali orang..Sesaat saya celingak-celinguk dulu. Bingung harus ke loket mana karena kantor ini sudah mengadopsi system antri seperti bank, yang ada nomor antrian. Nah, ada satu meja di dekat pintu masuk yang penuh dikerubungi orang. Apakah ada bagi-bagi sembako? Hehe, tentu saja bukan! Rupanya disitu meja untuk mendapatkan nomor antri dan pemerikasaan awal untuk pembuatan Kartu Keluarga dan KTP. Saya pun harus sedikit berdesak-desakan untuk bisa bertanya kepada petugasnya. Ah, budaya antrinya masih parah…

Ternyata, tahulah saya bahwa untuk memperpanjang KTP harus membawa fotokopi kartu keluarga Nasional (versi baru) dan blangko dari Kepala Desa. Fuihh..syarat yang terakhir saya belum punya. Artinya, proses pembuatan KTP saya baru akan berlanjut esok. Ada sejumlah proses administrasi yang harus saya tempuh. Hiks…

Banner Keterangan Surat Administrasi

Sebelum melangkah pulang, barulah saya melihat di ruangan itu bahwa ada semacam banner tentang prosedur pembuatan dokumen.

Kayanya ni banner lebih bagus dipajang di luar deh..Supaya yang mau mengurus dokumen sudah melengkapi syarat dari awal, tanpa harus bertanya berulang-ulang kepada petugas di meja depan tadi.

Ya sudah, sekarang saatnya mengurus perpanjangan SIM A dan C. Semoga prosesnya lebih simple…

Read Full Post »

Kalau perut sudah krucuk-krucuk rasa lapar, pasti ingin makankan? Namun bukan nasi, bukan pula cemilan yang ringan. Apa ya jenis kuliner yang “ringan namun nampol”? Daripada pusing, mengapa tak coba mie kocok!

Namanya Mie Kocok Si Doel. Apakah ini kedai mi punyanya si Doel anak betawi?Jangan tanya saya ya…karena asal muasal nama ini ngga nyambung banget dengan lokasinya. Kalau kamu menebak tempatnya di Jakarta dan sekitarnya, maka ente salah besar..hehe. Mie kocok Si Doel adalah salah satu kedai mie kocok di Kota Banda Aceh. Letaknya pas di Jl. Diponegoro pusat kota Banda Aceh, hanya berjarak 100m dari mesjid Raya Baiturrahman. Tak ayal, warung ini pun ramai dikunjungi mulai jam 11 hingga sore. Namun jangan coba-coba makan di waktu menjelang Zuhur (atau waktu shalat) khususya saat shalat Jumat karena akan dirazia oleh aparat perempuan Wilayatul Hisbah. Tenang, peraturan yang terakhir cuma berlaku bagi laki-laki kok…

Mie Kocok Si Doel

Namanya juga warung mie kocok, maka menu spesialnya adalah mie kocok dengan kaldu sapi. Ditambah dengan daging sapi cincang. Ya buat yang vegetarian, sorry to say..Mienya enak lho…mienya bukan mie telor yang keriting-keriting itu, melainkan mie kuning panjang. Dengan irisan seledri, siraman kaldu panas, mie kocok siap disantap. Kalau mau enak, boleh ditambah acar bawang, kerupuk, kecap, cabe, telur rebus atau perkedel kentang. Yummy…

Mie Kocok Si Doel

Tambahan untuk santap Mie Kocok

Buat yang mau pesan menu lain juga tersedia bakso sapi. Untuk minuman, saya rekom es campur. Tahu sendirikan bagaimana teriknya kota Banda Aceh? Pasti bawaannya ingin minum minuman dingin. Es campur di Aceh berupa racikan dawet/cendol tepung beras yang warna hijau, biji delima, kacang hijau, cincau hitam dengan santan, gula merah. Semua bahan tersebut bercampur satu ditambah potongan es batu, pas sekali menemani Anda bersantap.

Es Campur

Satu poin lagi di Si Doel yaitu pesannya ga pake lama alias pelayannya bekerja dengan sigap mengantar pesanan konsumen. Apalagi kalau kamu pesannya buaaaaanyak dan bayar 😀 . Tak usah khawatir, di dapurnya, porsi mie sudah tersaji di piring. Jadi, begitu datang pesanan..langsung deh kaldunya dituang.

Siap sedia

Soalnya dari pemantauan saya, yang makan di sini biasanya ibu-ibu yang habis belanja dari Pasar Aceh atau pelajar yang baru pulang sekolah. Benang merahnya..mereka adalah orang yang lapar berat dan tidak suka menunggu lama (termasuk saya 🙂 )

Racikan Es Campur

Kalau untuk hang out, kayanya kurang pas karena tempatnya tidak dirancang untuk itu. Kedainya berupa ruko, kipas angin di langit-langit dan belum ada fasilitas wifi. Ya minimal, untuk makan sepiring mie kocok polos dan es campur Anda cukup keluar kocek 13 ribu. Cukup hematlah…

Mari bersantap!

Read Full Post »

Apa yang enak disantap saat siang hari nan terik?

Es krim? Cendol? Es sirup? Biasa banget kan? Saya punya rekomendasi lain yaitu rujak buah. Mau coba?

Ini bukan sembarang rujak, karena rujak ini kuliner khas Aceh. Rujak dengan bahasa local “lincah” ini biasanya menjadi hidangan di tiap hajatan. Buah-buah tropis seperti bengkuang, mangga, papaya mengkal, timun, ketela, nenas akan semakin lengkap dengan hadirnya buah batok. Saya sampai sekarang masih belum menemukan buah tersebut di daerah lain. Buah batok ini cukup unik, karena untuk membelahnya harus membanting ke lantai atau ke benda yang keras karena cangkang buah yang keras.

Perawakan buahnya seukuran buah manggis, kulit kasar seperti kulit melon dan isi dalamnya padat serupa …(ah, lihat sendiri saja ya).

Buah Batok (rieskar.multiply.com)

Buah dirajang halus, pake cabe rawit, gula merah. Tambah es batu, Segernyaaa..Manis, segar, asam campur jadi satu. Kalau yang ga biasa makan pedas, waspada ya..

Kalau berkesempatan ke Banda, tukang rujak yang terkenal adalah Rujak Garuda. Murah meriah 6000 rupiah per porsi. Yang saya masih salut, bungkusan rujaknya masih pakai daun pisang. Klasik sekali…

Rujak Aceh (indonesiaindonesia.com)

Read Full Post »

Terima Kasih

Setidaknya jika kita traveling ke suatu tempat,  ada 3 kata utama yang menjadi greeting utama. Yaitu kata maaf, tolong dan terima kasih.

Untuk bahasa Aceh kata meu’ah artinya maaf, tulông berarti tolong. Nah bagaimana dengan kata “terima kasih”?

Beberapa waktu lalu, saat Badan Rehabilitasi dan Rekronstruksi Aceh telah berakhir masa tugasnya tertulis kata terimong geunaseh bersama kata terima kasih lainnya dalam berbagai versi bahasa. Saya sendiri baru tahu (parah..).

Entah secara ilmu bahasa sudah benar atau tidak, tapi terimong geunaseh seperti mengartikan secara bebas “terima” dan “kasih”. Karena kadang, jika orang Aceh berterima kasih maka yang terucap adalah makasih beuh. Bercampur antara bahasa Indonesia dan Bahsa Aceh.

Saat saya bertanya pada orang tua saya, mereka menjawab memang lazimnya orang Aceh menjawab alhamdulillah sebagai ucapan terima kasih. Namun, seiring dengan waktu reusam itu jarang ditemui lagi, khususnya dalam pergaulan sehari-hari.

Hingga siang itu, usai membeli rujak My Dad mengangsurkan uang kepada tukang parkir.

Lembar seribu rupiah berpindah tangan dan…

“Alhamdulillah”, ucap Bapak tukang parkir.

Sambil mobil melaju, mama saya berkata,

Nyan keuh tipikal uréng Aceh aseli.

Alhamdulillah

Terima Kasih (kamelabella.blogspot.com)


Read Full Post »